SulawesiPos.com – Anggota Komisi XII DPR RI, Gulam Mohamad Sharon, menegaskan bahwa biomassa sebagai energi alternatif tidak selalu bergantung pada kayu.
Ia menyebut berbagai limbah pertanian dan perkebunan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Pernyataan itu disampaikannya dalam kunjungan kerja di Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (23/4/2026).
“Menurut saya begini, kita harus ramah dan bijak dalam menanggapi isu ini. Jadi, kalau untuk biomasa ini tidak semuanya dari kayu, bisa pakai sekam padi, bisa pakai cangkang sawit, cangkang kelapa,” ujarnya, dikutip dari Parlementaria, Sabtu (25/4/2026).
Ia menjelaskan, biomassa juga dapat berasal dari pengelolaan hutan tanaman industri (HTI) yang diolah menjadi bahan bakar seperti wood pellet untuk pembangkit listrik.
Menurutnya, potensi ini tidak hanya mendukung ketahanan energi nasional, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku usaha di daerah.
“Harapan saya kunjungan kerja ini bisa bermanfaat, terutama bagi pengusaha daerah yang bisa menyuplai kebutuhan biomassa,” lanjutnya.
Politisi Partai NasDem tersebut menekankan pentingnya keterlibatan UMKM dalam pengembangan energi berbasis biomassa.
Ia menilai, skema energi lokal berskala kecil dapat menjadi pintu masuk bagi pelaku usaha daerah untuk berkembang.
“Kami Komisi XII sedang melakukan kunjungan kerja terkait lingkungan dan energi. Ini sangat penting untuk mendorong perekonomian daerah,” ujarnya.
Sharon menyebut model bisnis biomassa dapat dimulai dari skala kecil, seperti penyediaan 100 hingga 200 ton bahan baku.
Skema ini dinilai realistis dan berdampak langsung terhadap ekonomi lokal.
Ia menambahkan, sekitar 70% hingga 80% keuntungan usaha lokal akan berputar kembali di daerah, sehingga memperkuat ekonomi setempat.
“Pada saat pengusaha itu berbisnis di daerahnya, 70% sampai 80% hasilnya akan digunakan dan dikembalikan lagi ke daerahnya masing-masing,” jelasnya.
Sebaliknya, ia mengingatkan risiko jika sektor ini dikuasai pelaku usaha dari luar daerah. Dalam kondisi tersebut, sebagian besar keuntungan justru tidak dinikmati masyarakat lokal.
“Kalau bisnis kecil ini diambil oleh pengusaha luar daerah, sekitar 70% akan dibawa ke luar, sehingga ekonomi daerah tidak berkembang optimal,” tambahnya.
Limbah Jadi Sumber Nilai Tambah
Sharon juga menyoroti pentingnya pengolahan limbah menjadi produk bernilai ekonomi. Limbah seperti sekam padi dan cangkang kelapa dinilai memiliki potensi besar jika dikelola dengan baik.
“Ini bisa menjadi added value buat limbah yang tadinya dibuang, bisa menjadi bernilai dan bermanfaat untuk masyarakat,” tegasnya.
Ia berharap pengembangan biomassa mampu meningkatkan kapasitas usaha pelaku lokal. Dengan adanya investasi dan peluang baru, omzet UMKM berpotensi meningkat signifikan.
“Yang tadinya omzetnya Rp5 miliar bisa naik menjadi Rp10 hingga Rp15 miliar,” tutupnya.

