Sjafrie Masuk Bursa Capres 2029, Ray Rangkuti: Bisa Jadi Peluang Sekaligus Dilema bagi Prabowo

SulawesiPos.com – Ray Rangkuti menilai kehadiran nama Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam bursa calon presiden (capres) 2029 bukanlah hal baru dalam dinamika politik Indonesia.

Menurutnya, semakin banyak tokoh individual yang muncul berkat kiprah dan citra personal, meskipun pada akhirnya tetap membutuhkan dukungan partai politik.

“Sebagian memang tetap dicalonkan partai, tetapi mereka membangun citra lewat kekuatan individualnya. Seiring itu, tokoh-tokoh partai justru makin kurang diminati,” ujar Ray, Kamis (19/2/2026).

Ia mencontohkan fenomena tersebut kerap terlihat dalam kontestasi Pilkada, di mana figur dengan basis personal kuat mampu bersaing bahkan menang.

Ray juga menilai kemunculan Sjafrie berpotensi menambah pesaing bagi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam peta Pilpres 2029.

Meski Gibran disebut masih memiliki elektabilitas tinggi sebagai calon wakil presiden, munculnya figur-figur baru dinilai mempersempit ruang geraknya, terutama dalam kalkulasi politik Presiden Prabowo Subianto.

“Dengan hadirnya individu-individu baru, pilihan Prabowo semakin banyak. Itu dengan sendirinya membuat peluang Gibran tertekan,” jelas Ray.

BACA JUGA: 
Indonesia–Turki Perkuat Kemitraan Strategis Bidang Politik, Pertahanan dan Keamanan

Menurut Ray, pencalonan Sjafrie bisa menjadi peluang sekaligus menimbulkan dilema bagi Prabowo. Jika keduanya berduet, kombinasi dua figur berlatar belakang militer berpotensi menghadapi tantangan, baik dari sisi persepsi publik maupun dukungan koalisi partai.

Namun jika tidak berpasangan, dinamika tersebut bisa mempersempit peluang Sjafrie untuk melaju.

Ray menyebut situasi ini dapat menjadi berkah sekaligus berpotensi memengaruhi relasi politik antara Prabowo dan Sjafrie.

Berdasarkan survei terbaru Indonesian Public Institute (IPI), sejumlah wajah baru masuk dalam bursa bakal capres 2029.

Peneliti IPI, Abdan Sakura, menyebut Sjafrie menempati peringkat ketujuh dengan elektabilitas 7,5 persen.

Adapun posisi teratas ditempati oleh Prabowo Subianto (22,3 persen), disusul Gibran Rakabuming Raka (12,2 persen), Ganjar Pranowo (9 persen), Anies Baswedan (8,5 persen), Dedi Mulyadi (7,9 persen), dan Pramono Anung (7,8 persen). Di bawah Sjafrie terdapat Purbaya Yudhi Sadewa (4,9 persen) dan Sherly Tjoanda (3,8 persen).

Menurut Abdan, kemunculan nama-nama baru tersebut dipengaruhi faktor kepemimpinan, ketokohan, rekam jejak, publikasi media, integritas, visi-misi, hingga program kerja.

BACA JUGA: 
Menhan Sjafrie Minta Masyarakat Tak Khawatir soal Status Siaga 1 TNI

Ia mencontohkan empat indikator yang memperkuat elektabilitas Sjafrie, yakni kepemimpinan dan ketokohan (44 persen), rekam jejak kepemimpinan (17 persen), rekomendasi lingkungan dan media (12 persen), serta integritas (10 persen).

“Tokoh-tokoh seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Sjafrie Sjamsoeddin tampil sebagai figur potensial yang memperoleh penilaian kelayakan cukup kuat, meski belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan elektoral. Celah ini membuka ruang dinamika politik baru, terutama jika terjadi krisis, perubahan peta koalisi, atau absennya pemain utama,” ujarnya.

Survei IPI dilaksanakan pada 30 Januari hingga 5 Februari 2026 terhadap 1.241 responden berusia 17–65 tahun di 35 provinsi di Indonesia.

Teknik sampling yang digunakan adalah multistage random sampling, yakni metode pemilihan sampel yang dilakukan dalam beberapa tahap dari unit besar ke unit lebih kecil secara acak.

SulawesiPos.com – Ray Rangkuti menilai kehadiran nama Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam bursa calon presiden (capres) 2029 bukanlah hal baru dalam dinamika politik Indonesia.

Menurutnya, semakin banyak tokoh individual yang muncul berkat kiprah dan citra personal, meskipun pada akhirnya tetap membutuhkan dukungan partai politik.

“Sebagian memang tetap dicalonkan partai, tetapi mereka membangun citra lewat kekuatan individualnya. Seiring itu, tokoh-tokoh partai justru makin kurang diminati,” ujar Ray, Kamis (19/2/2026).

Ia mencontohkan fenomena tersebut kerap terlihat dalam kontestasi Pilkada, di mana figur dengan basis personal kuat mampu bersaing bahkan menang.

Ray juga menilai kemunculan Sjafrie berpotensi menambah pesaing bagi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam peta Pilpres 2029.

Meski Gibran disebut masih memiliki elektabilitas tinggi sebagai calon wakil presiden, munculnya figur-figur baru dinilai mempersempit ruang geraknya, terutama dalam kalkulasi politik Presiden Prabowo Subianto.

“Dengan hadirnya individu-individu baru, pilihan Prabowo semakin banyak. Itu dengan sendirinya membuat peluang Gibran tertekan,” jelas Ray.

BACA JUGA: 
Indonesia–Turki Perkuat Kemitraan Strategis Bidang Politik, Pertahanan dan Keamanan

Menurut Ray, pencalonan Sjafrie bisa menjadi peluang sekaligus menimbulkan dilema bagi Prabowo. Jika keduanya berduet, kombinasi dua figur berlatar belakang militer berpotensi menghadapi tantangan, baik dari sisi persepsi publik maupun dukungan koalisi partai.

Namun jika tidak berpasangan, dinamika tersebut bisa mempersempit peluang Sjafrie untuk melaju.

Ray menyebut situasi ini dapat menjadi berkah sekaligus berpotensi memengaruhi relasi politik antara Prabowo dan Sjafrie.

Berdasarkan survei terbaru Indonesian Public Institute (IPI), sejumlah wajah baru masuk dalam bursa bakal capres 2029.

Peneliti IPI, Abdan Sakura, menyebut Sjafrie menempati peringkat ketujuh dengan elektabilitas 7,5 persen.

Adapun posisi teratas ditempati oleh Prabowo Subianto (22,3 persen), disusul Gibran Rakabuming Raka (12,2 persen), Ganjar Pranowo (9 persen), Anies Baswedan (8,5 persen), Dedi Mulyadi (7,9 persen), dan Pramono Anung (7,8 persen). Di bawah Sjafrie terdapat Purbaya Yudhi Sadewa (4,9 persen) dan Sherly Tjoanda (3,8 persen).

Menurut Abdan, kemunculan nama-nama baru tersebut dipengaruhi faktor kepemimpinan, ketokohan, rekam jejak, publikasi media, integritas, visi-misi, hingga program kerja.

BACA JUGA: 
Menhan Sjafrie Minta Masyarakat Tak Khawatir soal Status Siaga 1 TNI

Ia mencontohkan empat indikator yang memperkuat elektabilitas Sjafrie, yakni kepemimpinan dan ketokohan (44 persen), rekam jejak kepemimpinan (17 persen), rekomendasi lingkungan dan media (12 persen), serta integritas (10 persen).

“Tokoh-tokoh seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Sjafrie Sjamsoeddin tampil sebagai figur potensial yang memperoleh penilaian kelayakan cukup kuat, meski belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan elektoral. Celah ini membuka ruang dinamika politik baru, terutama jika terjadi krisis, perubahan peta koalisi, atau absennya pemain utama,” ujarnya.

Survei IPI dilaksanakan pada 30 Januari hingga 5 Februari 2026 terhadap 1.241 responden berusia 17–65 tahun di 35 provinsi di Indonesia.

Teknik sampling yang digunakan adalah multistage random sampling, yakni metode pemilihan sampel yang dilakukan dalam beberapa tahap dari unit besar ke unit lebih kecil secara acak.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru