Edy menilai MBG seharusnya menjadi instrumen negara untuk melakukan intervensi gizi di wilayah dengan kerentanan tertinggi tersebut.
Ia mengingatkan bahwa stunting adalah ancaman serius bagi kualitas SDM masa depan.
Jika pemerintah gagal memprioritaskan daerah 3T, maka niat luhur untuk menciptakan rakyat yang sehat dan cerdas akan meleset dari sasaran utamanya.
Edy menegaskan bahwa kendala utama distribusi ke pelosok bukanlah soal anggaran, melainkan tata kelola dan ekosistem pendukung.
Ia mempertanyakan kesiapan regulasi pembangunan dapur MBG di daerah 3T yang seringkali terkendala infrastruktur dan rantai pasok.
“Uangnya ada. Ini bukan soal anggaran, tapi soal ekosistem, tata kelola, dan kemauan memprioritaskan yang paling membutuhkan,” ujarnya.
Edy mendesak BGN untuk segera menyusun skema kemitraan yang kuat dengan pemerintah daerah di pelosok agar program ini tidak hanya berputar di kalangan elit perkotaan.

