24 C
Makassar
18 January 2026, 20:45 PM WITA

Pengamat Nilai 2026 Jadi Fase Penentu Kekuatan Politik Nasional dan Sulsel

SulawesiPos.com – Memasuki 2026, dinamika politik nasional dan daerah diperkirakan memasuki fase paling menentukan, termasuk di Sulawesi Selatan.

Tahun ini dinilai bukan lagi sekadar masa transisi, melainkan momentum ujian bagi pemerintah dan partai politik dalam menjaga kepercayaan publik.

Dilansir dari JawaPos Group Pengamat politik Muhammad Asratillah menilai, tahun 2025 lebih banyak diisi dengan konsolidasi dan pemanasan politik.

Sementara 2026 menjadi titik krusial untuk melihat sejauh mana kekuatan politik mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi, tuntutan demokrasi, serta ekspektasi masyarakat yang semakin tinggi.

Di tingkat nasional, Asratillah menyoroti tiga isu utama yang berpotensi memengaruhi stabilitas politik.

Mulai dari stabilitas pemerintahan pascakonsolidasi kekuasaan, tekanan ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat, hingga kualitas demokrasi yang masih mencari bentuk.

Di Sulawesi Selatan, peta politik sangat ditentukan oleh kekuatan struktur partai dan jejaring elite lokal.

Golkar dinilai masih memiliki keunggulan karena soliditas organisasi hingga ke tingkat bawah serta pengalaman figur-figur lokalnya dalam mengelola kekuasaan.

Sementara itu, Gerindra berpeluang memperkuat posisinya apabila mampu menerjemahkan kedekatan dengan pemerintah pusat menjadi program konkret yang dirasakan masyarakat di daerah.

Baca Juga: 
Jelang Rakernas, DPP PDI Perjuangan Terbitkan Instruksi Larangan Korupsi dan Sanksi Pemecatan

Sebaliknya, partai yang kurang adaptif terhadap karakter politik lokal diperkirakan akan menghadapi tantangan berat.

SulawesiPos.com – Memasuki 2026, dinamika politik nasional dan daerah diperkirakan memasuki fase paling menentukan, termasuk di Sulawesi Selatan.

Tahun ini dinilai bukan lagi sekadar masa transisi, melainkan momentum ujian bagi pemerintah dan partai politik dalam menjaga kepercayaan publik.

Dilansir dari JawaPos Group Pengamat politik Muhammad Asratillah menilai, tahun 2025 lebih banyak diisi dengan konsolidasi dan pemanasan politik.

Sementara 2026 menjadi titik krusial untuk melihat sejauh mana kekuatan politik mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi, tuntutan demokrasi, serta ekspektasi masyarakat yang semakin tinggi.

Di tingkat nasional, Asratillah menyoroti tiga isu utama yang berpotensi memengaruhi stabilitas politik.

Mulai dari stabilitas pemerintahan pascakonsolidasi kekuasaan, tekanan ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat, hingga kualitas demokrasi yang masih mencari bentuk.

Di Sulawesi Selatan, peta politik sangat ditentukan oleh kekuatan struktur partai dan jejaring elite lokal.

Golkar dinilai masih memiliki keunggulan karena soliditas organisasi hingga ke tingkat bawah serta pengalaman figur-figur lokalnya dalam mengelola kekuasaan.

Sementara itu, Gerindra berpeluang memperkuat posisinya apabila mampu menerjemahkan kedekatan dengan pemerintah pusat menjadi program konkret yang dirasakan masyarakat di daerah.

Baca Juga: 
MUI: Pilkada Melalui DPRD Relevan untuk Tekan Politik Uang dan Biaya Tinggi

Sebaliknya, partai yang kurang adaptif terhadap karakter politik lokal diperkirakan akan menghadapi tantangan berat.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/