SulawesiPos.com – Memasuki 2026, dinamika politik nasional dan daerah diperkirakan memasuki fase paling menentukan, termasuk di Sulawesi Selatan.
Tahun ini dinilai bukan lagi sekadar masa transisi, melainkan momentum ujian bagi pemerintah dan partai politik dalam menjaga kepercayaan publik.
Dilansir dari JawaPos Group Pengamat politik Muhammad Asratillah menilai, tahun 2025 lebih banyak diisi dengan konsolidasi dan pemanasan politik.
Sementara 2026 menjadi titik krusial untuk melihat sejauh mana kekuatan politik mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi, tuntutan demokrasi, serta ekspektasi masyarakat yang semakin tinggi.
Di tingkat nasional, Asratillah menyoroti tiga isu utama yang berpotensi memengaruhi stabilitas politik.
Mulai dari stabilitas pemerintahan pascakonsolidasi kekuasaan, tekanan ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat, hingga kualitas demokrasi yang masih mencari bentuk.
Di Sulawesi Selatan, peta politik sangat ditentukan oleh kekuatan struktur partai dan jejaring elite lokal.
Golkar dinilai masih memiliki keunggulan karena soliditas organisasi hingga ke tingkat bawah serta pengalaman figur-figur lokalnya dalam mengelola kekuasaan.
Sementara itu, Gerindra berpeluang memperkuat posisinya apabila mampu menerjemahkan kedekatan dengan pemerintah pusat menjadi program konkret yang dirasakan masyarakat di daerah.
Sebaliknya, partai yang kurang adaptif terhadap karakter politik lokal diperkirakan akan menghadapi tantangan berat.
Asratillah menilai PDI Perjuangan berpotensi berada dalam tekanan jika tidak segera menyesuaikan strategi politiknya di Sulsel.
Adapun Demokrat dan NasDem masih berada di posisi moderat, namun dituntut melakukan regenerasi elite serta pembaruan narasi politik agar tetap relevan di mata pemilih.
Khusus NasDem, tren penurunan dinilai tidak terlepas dari melemahnya pengaruh nasional dan keluarnya sejumlah tokoh penting di Sulsel, yang turut memengaruhi persepsi publik terhadap partai tersebut.
Pandangan serupa disampaikan pengamat politik dari Parameter Publik Indonesia, Ras MD.
Ia menyebut, arah politik Sulsel pada 2026 akan sangat dipengaruhi oleh kinerja pemerintah daerah, kekuatan struktur partai, serta kemampuan partai menjawab kebutuhan publik.
“Memasuki 2026, partai yang dekat dengan pusat dan kekuasaan daerah cenderung menguat, sementara yang tidak mampu beradaptasi mulai tertinggal,” ujar Ras MD, jumat (2/1/2026).
Menurutnya, kemenangan politik di Sulsel lahir dari kombinasi figur politik yang kuat dan mesin partai yang efektif.
Tantangan terbesar ke depan adalah menjaga kekompakan internal, merespons harapan publik terhadap kinerja pemerintah, serta mengelola isu-isu sensitif seperti demokrasi lokal, pilkada, dan kesejahteraan masyarakat.
Dengan berbagai variabel tersebut, 2026 diprediksi menjadi tahun pembuktian: siapa yang mampu bertahan, beradaptasi, dan benar-benar bekerja untuk publik, serta siapa yang justru tergerus oleh perubahan. (ayi)