Ejekan terhadap Son Heung-min Berujung Boikot, Hubungan Timnas Korea Selatan dan Media Memanas

SulawesiPos.com – Tim Nasional Korea Selatan terlibat ketegangan dengan media domestik di tengah berlangsungnya Piala Dunia 2026. Insiden itu dipicu bocornya percakapan sejumlah wartawan saat sesi latihan terbuka di pusat latihan Taegeuk Warriors di Guadalajara, Meksiko, pada Senin (15/6/2026) waktu setempat.

Percakapan yang diduga berisi sindiran terhadap kapten tim Son Heung-min itu tertangkap mikrofon siaran sebelum akhirnya menyebar luas di media sosial Korea Selatan dan memicu gelombang reaksi dari publik.

Banyak pendukung mengecam komentar tersebut karena dinilai merendahkan sosok yang selama ini menjadi ikon sepak bola Korea Selatan. Dampaknya pun langsung terasa di internal tim.

Sejumlah pemain Korea Selatan dilaporkan menolak agenda wawancara nonwajib dengan media sebagai bentuk solidaritas terhadap Son. Aktivitas media kemudian dibatasi dan hanya menyisakan kewajiban resmi yang telah ditetapkan FIFA.

Beberapa media internasional menyebut situasi ini menjadi sorotan karena jarang terjadi hubungan antara skuad nasional dan media negaranya sendiri memburuk di tengah turnamen sebesar Piala Dunia.

Dalam rekaman yang beredar, salah satu suara terdengar menyindir gaya berlari Son Heung-min.

“Apakah kamu berlari seperti pemimpin peleton hanya karena kamu kapten?”

BACA JUGA:  Spanyol Tekuk Peru 3-1 di Laga Uji Coba, Pedri dan Oyarzabal Antar La Furia Roja ke Jalur Positif

Tak hanya itu, komentar lain juga menyinggung status wajib militer pemain berusia 33 tahun tersebut.

“Dia bahkan tidak menyelesaikan wajib militernya. Orang-orang bodoh ini tidak tahu apa-apa tentang tentara.”

Pernyataan itu langsung memicu kritik dari masyarakat Korea Selatan yang menilai Son telah memberikan kontribusi besar bagi negaranya di panggung sepak bola internasional.

Status Wajib Militer Son Kembali Jadi Sorotan

Kontroversi audio bocor tersebut kembali membuka perdebatan lama mengenai status wajib militer Son Heung-min.

Kapten Korea Selatan itu memang tidak menjalani dinas militer penuh seperti mayoritas pria Korea Selatan. Namun, hal tersebut bukan karena menghindari kewajiban negara.

Son memperoleh pembebasan khusus setelah membawa Korea Selatan meraih medali emas cabang sepak bola pada Asian Games 2018 di Indonesia.

Berdasarkan regulasi yang berlaku di Korea Selatan, atlet peraih medali emas Asian Games atau medali Olimpiade berhak mendapatkan pengecualian dari dinas militer reguler.

Meski demikian, mereka tetap diwajibkan mengikuti pelatihan dasar militer.

Pada April 2020, saat kompetisi sepak bola dunia terhenti akibat pandemi COVID-19, Son menjalani pelatihan dasar selama tiga pekan bersama Korps Marinir Korea Selatan di Pulau Jeju.

BACA JUGA:  Lukaku Baru Masuk 28 Detik, Belgia Selamat dari Kekalahan Lawan Mesir di Piala Dunia 2026

Pelatihan tersebut meliputi latihan menembak, pertolongan pertama, menghadapi paparan gas air mata, hingga mars sejauh 30 kilometer. Son bahkan dilaporkan menjadi salah satu peserta dengan nilai terbaik.

Fakta tersebut membuat banyak pihak menilai sindiran yang beredar dalam audio bocor tidak menggambarkan kondisi sebenarnya terkait kewajiban militer sang kapten.

KFA: Tim Mengalami Guncangan dan Kekecewaan

Menyusul polemik yang berkembang, Federasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi.

KFA menyayangkan ucapan sejumlah personel media yang dinilai tidak pantas disampaikan di lingkungan tim nasional.

“Federasi Sepak Bola Korea Selatan menyampaikan penyesalan atas pernyataan yang tidak pantas yang disampaikan sejumlah personel media selama sesi latihan tim nasional di pusat latihan Guadalajara,” kata KFA.

Federasi juga mengakui bahwa kebocoran percakapan tersebut memberikan dampak terhadap kondisi psikologis skuad.

“Namun, kebocoran percakapan tidak pantas dari sejumlah awak media di lokasi latihan baru-baru ini telah menimbulkan guncangan dan kekecewaan besar bagi tim,” ungkap KFA.

Sebagai langkah lanjutan, KFA memastikan perlindungan terhadap para pemain menjadi prioritas utama selama turnamen berlangsung.

BACA JUGA:  Skuad Piala Dunia 2026 Belgia: Perjudian Besar Rudi Garcia dan Babak Terakhir Generasi Emas

“Federasi Sepak Bola Korea Selatan akan terus memprioritaskan perlindungan terhadap skuad serta berupaya menciptakan lingkungan media yang sehat,” tegas KFA.

Son Pilih Diam, Dukungan Publik Mengalir

Di tengah sorotan yang terus menguat, Son Heung-min memilih tidak memberikan komentar terkait kontroversi tersebut.Penyerang yang telah lebih dari satu dekade membela Taegeuk Warriors itu tetap fokus menjalani persiapan bersama tim nasional.

Bagi banyak masyarakat Korea Selatan, kasus ini bukan sekadar persoalan rekaman yang bocor.

Insiden tersebut berkembang menjadi perdebatan nasional mengenai profesionalisme media olahraga, penghormatan terhadap atlet, dan bagaimana negara memperlakukan figur yang telah membawa kebanggaan di level internasional.

Dukungan terhadap Son pun terus mengalir. Bagi publik Korea Selatan, sang kapten bukan hanya pemain bintang, tetapi simbol dedikasi, kepemimpinan, dan kebanggaan nasional yang telah mengharumkan nama negaranya di berbagai panggung dunia.

Catatan: Insiden audio bocor terjadi di pusat latihan Timnas Korea Selatan di Guadalajara, Meksiko, pada Senin, 15 Juni 2026 waktu setempat. Pembatasan aktivitas media diberlakukan setelah polemik tersebut mencuat, dengan tim hanya memenuhi agenda resmi yang diwajibkan FIFA.

SulawesiPos.com – Tim Nasional Korea Selatan terlibat ketegangan dengan media domestik di tengah berlangsungnya Piala Dunia 2026. Insiden itu dipicu bocornya percakapan sejumlah wartawan saat sesi latihan terbuka di pusat latihan Taegeuk Warriors di Guadalajara, Meksiko, pada Senin (15/6/2026) waktu setempat.

Percakapan yang diduga berisi sindiran terhadap kapten tim Son Heung-min itu tertangkap mikrofon siaran sebelum akhirnya menyebar luas di media sosial Korea Selatan dan memicu gelombang reaksi dari publik.

Banyak pendukung mengecam komentar tersebut karena dinilai merendahkan sosok yang selama ini menjadi ikon sepak bola Korea Selatan. Dampaknya pun langsung terasa di internal tim.

Sejumlah pemain Korea Selatan dilaporkan menolak agenda wawancara nonwajib dengan media sebagai bentuk solidaritas terhadap Son. Aktivitas media kemudian dibatasi dan hanya menyisakan kewajiban resmi yang telah ditetapkan FIFA.

Beberapa media internasional menyebut situasi ini menjadi sorotan karena jarang terjadi hubungan antara skuad nasional dan media negaranya sendiri memburuk di tengah turnamen sebesar Piala Dunia.

Dalam rekaman yang beredar, salah satu suara terdengar menyindir gaya berlari Son Heung-min.

“Apakah kamu berlari seperti pemimpin peleton hanya karena kamu kapten?”

BACA JUGA:  Endrick dan Bruno Guimarães Antar Brasil Tumbangkan Mesir 2-1

Tak hanya itu, komentar lain juga menyinggung status wajib militer pemain berusia 33 tahun tersebut.

“Dia bahkan tidak menyelesaikan wajib militernya. Orang-orang bodoh ini tidak tahu apa-apa tentang tentara.”

Pernyataan itu langsung memicu kritik dari masyarakat Korea Selatan yang menilai Son telah memberikan kontribusi besar bagi negaranya di panggung sepak bola internasional.

Status Wajib Militer Son Kembali Jadi Sorotan

Kontroversi audio bocor tersebut kembali membuka perdebatan lama mengenai status wajib militer Son Heung-min.

Kapten Korea Selatan itu memang tidak menjalani dinas militer penuh seperti mayoritas pria Korea Selatan. Namun, hal tersebut bukan karena menghindari kewajiban negara.

Son memperoleh pembebasan khusus setelah membawa Korea Selatan meraih medali emas cabang sepak bola pada Asian Games 2018 di Indonesia.

Berdasarkan regulasi yang berlaku di Korea Selatan, atlet peraih medali emas Asian Games atau medali Olimpiade berhak mendapatkan pengecualian dari dinas militer reguler.

Meski demikian, mereka tetap diwajibkan mengikuti pelatihan dasar militer.

Pada April 2020, saat kompetisi sepak bola dunia terhenti akibat pandemi COVID-19, Son menjalani pelatihan dasar selama tiga pekan bersama Korps Marinir Korea Selatan di Pulau Jeju.

BACA JUGA:  Skuad Piala Dunia 2026 Belgia: Perjudian Besar Rudi Garcia dan Babak Terakhir Generasi Emas

Pelatihan tersebut meliputi latihan menembak, pertolongan pertama, menghadapi paparan gas air mata, hingga mars sejauh 30 kilometer. Son bahkan dilaporkan menjadi salah satu peserta dengan nilai terbaik.

Fakta tersebut membuat banyak pihak menilai sindiran yang beredar dalam audio bocor tidak menggambarkan kondisi sebenarnya terkait kewajiban militer sang kapten.

KFA: Tim Mengalami Guncangan dan Kekecewaan

Menyusul polemik yang berkembang, Federasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi.

KFA menyayangkan ucapan sejumlah personel media yang dinilai tidak pantas disampaikan di lingkungan tim nasional.

“Federasi Sepak Bola Korea Selatan menyampaikan penyesalan atas pernyataan yang tidak pantas yang disampaikan sejumlah personel media selama sesi latihan tim nasional di pusat latihan Guadalajara,” kata KFA.

Federasi juga mengakui bahwa kebocoran percakapan tersebut memberikan dampak terhadap kondisi psikologis skuad.

“Namun, kebocoran percakapan tidak pantas dari sejumlah awak media di lokasi latihan baru-baru ini telah menimbulkan guncangan dan kekecewaan besar bagi tim,” ungkap KFA.

Sebagai langkah lanjutan, KFA memastikan perlindungan terhadap para pemain menjadi prioritas utama selama turnamen berlangsung.

BACA JUGA:  Jepang Manfaatkan Aturan Baru FIFA, Islandia Langsung Kebobolan karena Terlambat Ganti Pemain

“Federasi Sepak Bola Korea Selatan akan terus memprioritaskan perlindungan terhadap skuad serta berupaya menciptakan lingkungan media yang sehat,” tegas KFA.

Son Pilih Diam, Dukungan Publik Mengalir

Di tengah sorotan yang terus menguat, Son Heung-min memilih tidak memberikan komentar terkait kontroversi tersebut.Penyerang yang telah lebih dari satu dekade membela Taegeuk Warriors itu tetap fokus menjalani persiapan bersama tim nasional.

Bagi banyak masyarakat Korea Selatan, kasus ini bukan sekadar persoalan rekaman yang bocor.

Insiden tersebut berkembang menjadi perdebatan nasional mengenai profesionalisme media olahraga, penghormatan terhadap atlet, dan bagaimana negara memperlakukan figur yang telah membawa kebanggaan di level internasional.

Dukungan terhadap Son pun terus mengalir. Bagi publik Korea Selatan, sang kapten bukan hanya pemain bintang, tetapi simbol dedikasi, kepemimpinan, dan kebanggaan nasional yang telah mengharumkan nama negaranya di berbagai panggung dunia.

Catatan: Insiden audio bocor terjadi di pusat latihan Timnas Korea Selatan di Guadalajara, Meksiko, pada Senin, 15 Juni 2026 waktu setempat. Pembatasan aktivitas media diberlakukan setelah polemik tersebut mencuat, dengan tim hanya memenuhi agenda resmi yang diwajibkan FIFA.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru