SulawesiPos.com — Direktur Utama sekaligus pemilik PT Madena Wisata, H. Muhammad Sahur Harun, Lc., menyoroti risiko kerugian penyelenggara perjalanan umrah akibat keterlambatan penerbangan, sementara mubalig Makassar, H. Andi Erwin Baharuddin, Lc., S.H., M.H., C.AM, menyerukan perlindungan warga sipil dan pengutamaan diplomasi, ketika dihubungi jurnalis Sulawesi Pos pada Jumat, 9 Oktober 2026, menanggapi laporan penutupan kembali Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, sehari sebelumnya di tengah serangan yang diklaim kelompok Houthi.
Sahur menjelaskan bahwa persoalan penyelenggara umrah tidak berhenti pada perubahan jadwal pesawat karena keterlambatan keberangkatan dapat membuat pemesanan hotel yang sudah dibayar tidak terpakai.
“Yang menjadi persoalan bagi pengusaha travel adalah ketika penerbangan tertunda, misalnya satu hari, sementara pemesanan hotel tidak bisa ditunda atau dibatalkan,” ujar Sahur.
Menurut pimpinan perusahaan perjalanan yang berfokus pada penyelenggaraan haji khusus dan umrah tersebut, kondisi itu dapat menimbulkan kerugian meskipun maskapai memberikan dispensasi terkait penerbangan.
“Travel bisa mengalami kerugian walaupun ada dispensasi dari pihak penerbangan,” katanya.
Sahur menyampaikan bahwa, berdasarkan pengalaman layanan yang ditanganinya, penerbangan langsung jamaah umrah selama ini relatif lancar, sedangkan perjalanan dengan transit di sejumlah negara Teluk lebih sering menghadapi keterlambatan dan pembatalan di tengah konflik kawasan.
“Penerbangan langsung jamaah umrah selama ini lancar, termasuk dengan Saudi Airlines, Lion, dan Garuda, sedangkan penerbangan yang transit di negara-negara Teluk banyak mengalami keterlambatan dan pembatalan,” tuturnya.
Keterangan tersebut menggambarkan pengalaman operasional Sahur dan tidak dapat dijadikan kepastian bahwa seluruh penerbangan langsung bebas dari gangguan atau perubahan jadwal.

Mengenai informasi penutupan Riyadh pada 6–7 Oktober, Sahur mengaku menerima kabar bahwa operasional bandara sempat dihentikan selama beberapa jam, tetapi tidak memastikan durasinya.
The National dalam laporan 8 Oktober 2026 menyebut penerbangan di King Khalid sempat dihentikan lebih dari satu jam pada Rabu, 7 Oktober, dengan gangguan perjalanan berlanjut hingga Kamis.
Penutupan Berulang, Status Terminal Perlu Dicermati
Perkembangan berikutnya menunjukkan gangguan lebih besar karena The Indian Express pada 9 Oktober 2026, mengutip FlightAware melalui ABC News, melaporkan lebih dari 275 penerbangan dibatalkan pada Kamis, 8 Oktober, sementara Flightradar24 menyatakan bandara kembali ditutup pada sore hari.
Namun, penutupan itu perlu dibaca berdasarkan waktu dan bagian bandara yang terdampak karena TRAICY pada 9 Oktober, mengutip pemberitahuan Kedutaan Jepang di Arab Saudi, menyebut Terminal 1–4 ditutup menurut informasi yang tersedia pada pukul 16.00 waktu setempat tanggal 8 Oktober, sedangkan Terminal 5 masih beroperasi dengan banyak pembatalan penerbangan.
Informasi tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa seluruh terminal tetap tutup pada 9 Oktober ataupun bahwa operasional bandara telah kembali normal.
Lufthansa Group menghentikan layanan menuju Riyadh hingga 16 Oktober, Air India dan Akasa Air sampai 10 Oktober, serta IndiGo sampai 9 Oktober, berdasarkan laporan The Indian Express yang diterbitkan pada 9 Oktober.
Reuters pada 8 Oktober melaporkan, berdasarkan tiga sumber, bahwa pesawat Saudia yang diparkir dekat terminal mengalami kerusakan berat setelah terbakar, dengan kemungkinan penyebab berupa serpihan pencegatan atau hantaman proyektil lain.
Pesawat diperkirakan tidak membawa penumpang, tetapi sumber Reuters belum dapat memastikan ada atau tidaknya orang yang terluka.
Houthi mengklaim menyerang bandara, sedangkan koalisi pimpinan Saudi menyatakan telah mencegat dua rudal menuju Riyadh dan satu menuju Khamis Mushait, sehingga penyebab pasti kerusakan pesawat tetap memerlukan konfirmasi.
Erwin: Lindungi Warga Sipil, Utamakan Diplomasi
Andi Erwin Baharuddin, dai dan mubalig muda yang dikenal di Makassar serta Sulawesi Selatan, menilai laporan ledakan dan kebakaran pesawat tersebut merupakan peristiwa serius yang mengancam keselamatan penerbangan sipil serta stabilitas kawasan.

“Laporan mengenai ledakan dan kebakaran pesawat di Bandara Riyadh merupakan peristiwa serius yang mengancam keselamatan penerbangan sipil dan stabilitas kawasan,” ujar mantan Ketua Umum Korps Mubalig/Mubaligah Dewan Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia Sulawesi Selatan periode 2018–2023 tersebut.
Erwin menekankan bahwa klaim keberhasilan serangan Houthi perlu diverifikasi secara independen, termasuk penyebab pasti kerusakan pesawat, agar masyarakat memperoleh gambaran peristiwa secara akurat.
“Semua pihak wajib melindungi warga sipil serta menghormati hukum humaniter internasional,” katanya.
Ia juga meminta pemerintah dan otoritas penerbangan memastikan keselamatan penumpang melalui penyampaian informasi resmi yang akurat.
“Kita berharap semua pihak mampu menahan diri, mengutamakan diplomasi, dan menghindari eskalasi konflik demi terwujudnya perdamaian di kawasan Timur Tengah,” tuturnya.
Bagi penyelenggara perjalanan umrah, pengalaman yang disampaikan Sahur memperlihatkan bahwa gangguan penerbangan dapat merambat ke pemesanan akomodasi dan biaya perjalanan, sementara seruan Erwin menempatkan keselamatan manusia sebagai perhatian utama.
Penumpang yang hendak menuju atau transit di Riyadh perlu memastikan status penerbangan melalui maskapai sebelum berangkat ke bandara, sebagaimana imbauan King Khalid yang turut diberitakan TRAICY pada 9 Oktober.
Kepastian mengenai perubahan tiket, penerbangan pengganti, dan penyesuaian pemesanan hotel menjadi kebutuhan praktis bagi jamaah serta penyelenggara perjalanan ketika jadwal dapat berubah akibat perkembangan keamanan.


