Sering Berkendara Sebentar di Makassar? 4 Bagian Mobil Ini Jangan Diabaikan

SulawesiPos.com – Kemacetan di Kota Makassar membuat pengendara kerap menghadapi pola berkendara berhenti dan berjalan atau stop-and-go, terutama pada jam sibuk pagi hingga malam. Kebiasaan ini bisa memberi beban lebih pada beberapa komponen mobil, mulai dari aki, oli mesin, rem, hingga ban.

Sejumlah titik rawan perlambatan tercatat berada di koridor Jalan Antang Raya, Jembatan Barombong, hingga persimpangan Bukit Baruga, yang diperparah hambatan samping seperti parkir liar dan aktivitas pasar.

Kondisi berkendara jarak pendek dan berhenti-jalan yang umum terjadi di tengah kepadatan seperti ini membuat empat komponen mobil tersebut perlu mendapat perhatian lebih dari pemiliknya.

Perjalanan Pendek dan Kondisi Aki

Mobil yang hanya dipakai untuk perjalanan pendek berulang kali bisa membuat aki kehilangan daya secara bertahap, karena arus besar yang terpakai saat starter belum sempat terisi kembali sepenuhnya oleh alternator.

Untuk menjaga kondisinya, pemilik mobil yang jarang digunakan dapat sesekali memanaskan mesin dengan durasi lebih panjang, sekaligus rutin memeriksa air aki bagi yang masih menggunakan jenis aki basah.

BACA JUGA:  Unhas Dipercaya Produksi Drone Pertanian Rp11 Miliar, Kementan Siapkan Distribusi ke 46 Daerah

Bagi pengendara di Makassar yang kesehariannya banyak berkutat di rute pendek dalam kota, sesekali berkendara dengan durasi lebih panjang dapat membantu alternator mengisi kembali daya aki.

Dampak Stop-and-Go pada Oli Mesin

Pola berkendara stop-and-go membuat mesin lebih jarang mencapai suhu kerja idealnya, sehingga oli menjadi lebih rentan terkontaminasi dan menimbulkan endapan kotoran di dalam mesin.

Mobil yang sering digunakan dalam kondisi macet juga memerlukan penggantian oli lebih sering, dengan tetap mengacu pada rekomendasi dalam buku manual kendaraan masing-masing.

Filter oli pun perlu diperiksa dan diganti secara berkala, terutama pada mobil yang sering digunakan dalam kondisi lalu lintas padat.

Penggunaan Rem di Tengah Kemacetan

Kebiasaan berhenti dan berjalan di tengah kemacetan membuat kampas rem lebih cepat aus dan cakram berisiko mengalami panas berlebih, karena sistem rem bekerja lebih sering dibandingkan saat kendaraan melaju stabil.

Pemeriksaan ketebalan kampas rem sebaiknya dilakukan setiap servis berkala tanpa menunggu muncul tanda-tanda masalah pada sistem pengereman kendaraan.

BACA JUGA:  Kuda Juara Nasional Asal Jeneponto Hangus di KM Mutiara Sentosa 2, Joki Selamat

Kondisi minyak rem yang mudah menyerap air juga perlu diperiksa secara berkala, terutama bagi mobil yang digunakan setiap hari di tengah kemacetan.

Kondisi Ban untuk Mobilitas Perkotaan

Kebiasaan berbelok tajam pada kecepatan rendah serta melintasi jalan berlubang bisa membuat tapak ban aus tidak merata pada mobil yang sering digunakan di dalam kota.

Tekanan angin ban juga perlu diperiksa minimal sebulan sekali dalam kondisi dingin, karena ban tetap bisa kehilangan tekanan meski kendaraan sedang tidak digunakan, sebagaimana disarankan Bridgestone Indonesia.

Rotasi ban perlu dilakukan secara berkala untuk membantu mengurangi keausan tidak merata akibat kebiasaan berbelok pada kecepatan rendah di jalanan kota.

Selain itu, kondisi fisik ban perlu diperiksa secara berkala, termasuk indikator keausan atau Tread Wear Indicator, karena tapak yang sudah sejajar dengan indikator tersebut menandakan alur ban sudah mencapai batas keausan.

SulawesiPos.com – Kemacetan di Kota Makassar membuat pengendara kerap menghadapi pola berkendara berhenti dan berjalan atau stop-and-go, terutama pada jam sibuk pagi hingga malam. Kebiasaan ini bisa memberi beban lebih pada beberapa komponen mobil, mulai dari aki, oli mesin, rem, hingga ban.

Sejumlah titik rawan perlambatan tercatat berada di koridor Jalan Antang Raya, Jembatan Barombong, hingga persimpangan Bukit Baruga, yang diperparah hambatan samping seperti parkir liar dan aktivitas pasar.

Kondisi berkendara jarak pendek dan berhenti-jalan yang umum terjadi di tengah kepadatan seperti ini membuat empat komponen mobil tersebut perlu mendapat perhatian lebih dari pemiliknya.

Perjalanan Pendek dan Kondisi Aki

Mobil yang hanya dipakai untuk perjalanan pendek berulang kali bisa membuat aki kehilangan daya secara bertahap, karena arus besar yang terpakai saat starter belum sempat terisi kembali sepenuhnya oleh alternator.

Untuk menjaga kondisinya, pemilik mobil yang jarang digunakan dapat sesekali memanaskan mesin dengan durasi lebih panjang, sekaligus rutin memeriksa air aki bagi yang masih menggunakan jenis aki basah.

BACA JUGA:  Perkuat Silaturahmi Keluarga Pers, IKWI Peringati HUT ke-65 Lewat Gelaran Budaya dan Seminar Nasional

Bagi pengendara di Makassar yang kesehariannya banyak berkutat di rute pendek dalam kota, sesekali berkendara dengan durasi lebih panjang dapat membantu alternator mengisi kembali daya aki.

Dampak Stop-and-Go pada Oli Mesin

Pola berkendara stop-and-go membuat mesin lebih jarang mencapai suhu kerja idealnya, sehingga oli menjadi lebih rentan terkontaminasi dan menimbulkan endapan kotoran di dalam mesin.

Mobil yang sering digunakan dalam kondisi macet juga memerlukan penggantian oli lebih sering, dengan tetap mengacu pada rekomendasi dalam buku manual kendaraan masing-masing.

Filter oli pun perlu diperiksa dan diganti secara berkala, terutama pada mobil yang sering digunakan dalam kondisi lalu lintas padat.

Penggunaan Rem di Tengah Kemacetan

Kebiasaan berhenti dan berjalan di tengah kemacetan membuat kampas rem lebih cepat aus dan cakram berisiko mengalami panas berlebih, karena sistem rem bekerja lebih sering dibandingkan saat kendaraan melaju stabil.

Pemeriksaan ketebalan kampas rem sebaiknya dilakukan setiap servis berkala tanpa menunggu muncul tanda-tanda masalah pada sistem pengereman kendaraan.

BACA JUGA:  Penerbangan Dibatalkan, Skuad PSM Makassar Tertahan di Jakarta akibat Erupsi Anak Krakatau

Kondisi minyak rem yang mudah menyerap air juga perlu diperiksa secara berkala, terutama bagi mobil yang digunakan setiap hari di tengah kemacetan.

Kondisi Ban untuk Mobilitas Perkotaan

Kebiasaan berbelok tajam pada kecepatan rendah serta melintasi jalan berlubang bisa membuat tapak ban aus tidak merata pada mobil yang sering digunakan di dalam kota.

Tekanan angin ban juga perlu diperiksa minimal sebulan sekali dalam kondisi dingin, karena ban tetap bisa kehilangan tekanan meski kendaraan sedang tidak digunakan, sebagaimana disarankan Bridgestone Indonesia.

Rotasi ban perlu dilakukan secara berkala untuk membantu mengurangi keausan tidak merata akibat kebiasaan berbelok pada kecepatan rendah di jalanan kota.

Selain itu, kondisi fisik ban perlu diperiksa secara berkala, termasuk indikator keausan atau Tread Wear Indicator, karena tapak yang sudah sejajar dengan indikator tersebut menandakan alur ban sudah mencapai batas keausan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru