SulawesiPos.com – Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru atau BB-TNBTS menduga kebakaran yang menghanguskan ratusan hektare lahan di kawasan Bromo bermula dari perapian yang dibuat warga saat melintas di jalur tradisional di tebing Blok Bantengan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, ketika vegetasi dalam kondisi kering dan angin bertiup kencang.
Kepala BB-TNBTS Rudjanta Tjahja Nugraha mengatakan dugaan sementara mengarah pada faktor manusia, bukan faktor alam, karena titik api pertama kali terpantau di lokasi yang biasa dilintasi warga melalui jalur alternatif penghubung Desa Arjosari dan Ranupane.
“Yang kami duga sampai saat ini ada kemungkinan faktor manusia. Bukan faktor alam, karena awal api itu ada di puncak tebing yang terdapat jalur tradisional,” ujar Rudjanta, Sabtu (8/8/2026).
Menurut Rudjanta, warga yang melintas diduga membuat perapian untuk menghangatkan tubuh sebelum api kemudian membesar dan merembet ke kawasan sekitar.
Diduga Tidak Disengaja, tetapi Api Cepat Merembet
BB-TNBTS menegaskan dugaan awal saat ini bukan mengarah pada pembakaran yang dilakukan dengan sengaja.
Rudjanta menyebut faktor ketidaksengajaan lebih mungkin terjadi karena ada orang yang hanya berniat menghangatkan badan di tengah cuaca dingin pegunungan.
“Kalau menurut kami sementara ini tidak disengaja. Ada yang ingin menghangatkan badan, bukan membakar untuk menjadi seperti ini. Tetapi faktor ketidaksengajaan,” katanya.
Meski begitu, petugas masih melakukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti kebakaran di kawasan Bromo.
Kebakaran dilaporkan melanda sejumlah titik, termasuk Blok Bantengan di Lumajang dan Watu Gede di Kabupaten Probolinggo.
Hingga Sabtu, 8 Agustus 2026, luas lahan yang terbakar disebut telah mencapai sedikitnya 176 hektare dan masih berpotensi bertambah.
Edelweiss hingga Habitat Satwa Ikut Terdampak
Vegetasi yang terdampak meliputi bunga edelweiss, cemara gunung, tanaman hias, serta semak belukar di kawasan pegunungan.
BB-TNBTS juga mengantisipasi dampak kebakaran terhadap habitat satwa seperti lutung jawa, elang jawa, dan berbagai jenis burung di sekitar kawasan taman nasional.
Petugas turut mewaspadai kemungkinan sarang satwa, telur, maupun anakan ikut terbakar atau terganggu akibat kobaran api.
Namun, BB-TNBTS menyebut area tebing yang menjadi pusat kebakaran tidak banyak menjadi habitat satwa besar, sehingga satwa yang paling berpotensi terdampak adalah serangga serta sejumlah tumbuhan dan fauna endemik kawasan Bromo Tengger Semeru.
Akibat kebakaran tersebut, empat pintu masuk wisata Bromo ditutup total, sementara wisatawan yang telanjur membeli tiket diminta mengajukan perubahan jadwal atau pengembalian dana.

