Dalam penjelasannya, Bapanas menilai stabilitas harga dan pasokan perlu dijaga bersamaan agar target swasembada pangan tidak menekan petani.
Karena itu, dinamika harga beras premium disebut tidak bisa dipisahkan dari upaya menjaga insentif produksi di tingkat hulu.
“Jika kita swasembada, masyarakat tentu menjadi lebih tenang dan makmur. Jangan sampai kejadian seperti peternak ayam petelur terulang, di mana harga sempat anjlok ke Rp 16.000 dari yang seharusnya Rp 24.000. Petani dan peternak kita harus terus dijaga tingkat harganya,” pungkasnya.

