Menurut arsip berita pada 22 Oktober 2025, ia mempertanyakan langkah Andi Tenri yang sempat walk out dari rapat, memimpin pembahasan, mengetuk palu, tetapi kemudian tidak menandatangani berita acara kesepakatan.
Adriani menilai situasi itu berisiko menghambat program pemerintah daerah dan berdampak pada pelayanan publik.
Polemik Sekwan DPRD Bone
Ketegangan itu sebenarnya tidak berdiri sendiri. Dalam mosi tidak percaya, Adriani lebih dulu mengaitkan konflik dengan polemik penetapan Faidah sebagai Sekretaris DPRD Bone.
Ia menilai ada keputusan fraksi yang sudah disepakati secara kolektif, tetapi tidak diikuti oleh pimpinan dewan.
Menariknya, pada Maret 2026, Adriani kembali berada di pusat konflik lain di DPRD Bone ketika ia berseteru dengan Sekretaris Dewan Faidah saat kunjungan kerja di Jakarta.
Dalam perkara itu, Andi Tenri justru mendukung usulan pergantian Sekwan dan Kabag Umum setelah insiden yang dinilai mempermalukan Adriani di depan umum.
Episode tersebut memperlihatkan bahwa konflik internal DPRD Bone tidak selalu berjalan dalam garis lurus, tetapi Adriani tetap menjadi salah satu tokoh kunci dalam setiap gejolak lembaga.
Kini, ketika nama Andi Tenri kembali disorot pada Juli 2026, rekam jejak Adriani ikut dibaca ulang.
Bukan semata karena ia legislator senior, tetapi karena sebagian kritik yang pernah ia lontarkan pada 2025 dan 2026 kembali relevan di tengah rangkaian kontroversi yang menimpa pimpinan DPRD Bone.

