SulawesiPos.com – Presiden Prancis Emmanuel Macron menjadi sorotan setelah upayanya mencium tangan Ibu Negara Turki Emine Erdoğan saat penyambutan para pemimpin negara dan pasangan mereka menjelang jamuan makan malam pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Kompleks Kepresidenan Ankara, Turki, Selasa (7/7/2026), berakhir canggung ketika Emine menarik tangannya sebelum kontak terjadi.
Rekaman video insiden tersebut segera menyebar luas di media sosial dan memicu beragam tanggapan mengenai etika diplomatik, protokol internasional, serta penghormatan terhadap tradisi budaya dan agama. Peristiwa ini diberitakan oleh Middle East Eye, RT Arabic, serta sejumlah media Turki dan Timur Tengah pada 7–8 Juli 2026.
Momen singkat tersebut terjadi ketika Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan dan Emine Erdoğan menyambut satu per satu para kepala negara dan pemerintahan yang menghadiri KTT NATO.
Video yang beredar memperlihatkan Macron menjabat tangan Emine Erdoğan sebelum tampak membungkukkan badan seolah hendak mencium tangannya.
Namun, Emine Erdoğan segera menarik tangannya sehingga kontak fisik tersebut tidak terjadi.
Beberapa saat kemudian Recep Tayyip Erdoğan memasuki posisi di antara keduanya dan prosesi penyambutan berlangsung seperti biasa.
Rekaman itu kemudian menjadi salah satu video yang paling banyak dibagikan di platform X dan berbagai media sosial lainnya.
Tradisi Islam dan Etika Budaya Kembali Menjadi Perbincangan
Sejumlah pengamat menilai tindakan Emine Erdoğan mencerminkan konsistensinya dalam memegang norma budaya Turki dan ajaran Islam yang membatasi kontak fisik antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.
Dalam banyak masyarakat Muslim, berjabat tangan maupun bentuk sentuhan fisik antara laki-laki dan perempuan yang tidak memiliki hubungan keluarga dekat sering kali dihindari sebagai bentuk penghormatan terhadap ajaran agama.
Media-media Arab mengingatkan bahwa insiden serupa pernah terjadi pada tahun 2018 di Istana Élysée, Paris.
Pada kesempatan tersebut Macron juga dilaporkan berupaya mencium tangan Emine Erdoğan, namun kembali direspons dengan penarikan tangan secara halus.
Konsistensi sikap Emine Erdoğan membuat banyak warganet Turki memuji tindakannya sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai Islam dan identitas budaya nasional.
Sebaliknya, sebagian pengguna media sosial mempertanyakan mengapa Macron kembali melakukan gestur serupa meskipun peristiwa serupa pernah terjadi beberapa tahun sebelumnya.
Tidak sedikit pula yang menilai kejadian tersebut semata-mata merupakan kesalahpahaman protokoler akibat perbedaan tradisi penyambutan antarnegara.
Hubungan Prancis–Turki Kerap Diwarnai Ketegangan Diplomatik
Insiden tersebut terjadi di tengah hubungan diplomatik Prancis dan Turki yang dalam beberapa tahun terakhir beberapa kali mengalami ketegangan.
Kedua negara pernah memiliki perbedaan pandangan mengenai konflik di Libya, Suriah, kawasan Mediterania Timur, serta sejumlah isu keamanan regional.
Interaksi personal antara Macron dan Erdoğan juga beberapa kali menarik perhatian publik.
Pada tahun 2025, misalnya, keduanya menjadi sorotan setelah melakukan jabat tangan yang berlangsung cukup lama dalam sebuah pertemuan internasional, sehingga memunculkan berbagai spekulasi mengenai pesan diplomatik nonverbal di balik gestur tersebut.
Meskipun demikian, tidak terdapat pernyataan resmi dari pemerintah Prancis maupun Turki yang mengaitkan insiden terbaru ini dengan hubungan bilateral kedua negara.
KTT NATO di Ankara sendiri mempertemukan para pemimpin dari 32 negara anggota NATO beserta sejumlah negara mitra untuk membahas peningkatan belanja pertahanan, dukungan terhadap Ukraina, penguatan keamanan kawasan, serta tantangan geopolitik global yang berkembang.
Para pakar komunikasi lintas budaya menilai peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya pemahaman terhadap adat istiadat, nilai keagamaan, dan etika lokal dalam diplomasi internasional, karena gestur yang dianggap wajar di suatu negara belum tentu diterima dengan cara yang sama di budaya lain. (Ali)


