SulawesiPos.com – Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia menyetujui hibah senilai US$100 juta kepada Yaman untuk membiayai Program Cash-for-Nutrition and Livelihoods (Uang Tunai untuk Gizi dan Mata Pencaharian) yang bertujuan meningkatkan status gizi ibu dan anak, memperkuat ketahanan ekonomi keluarga rentan, serta mempercepat pemulihan sosial-ekonomi di tengah krisis kemanusiaan berkepanjangan akibat konflik yang telah berlangsung lebih dari satu dekade. Program yang diumumkan pada 1 Juli 2026 ini akan dilaksanakan oleh UNICEF bersama Social Fund for Development (SFD) Yaman, menjangkau sekitar 1,8 juta penduduk di 15 provinsi, dengan pembiayaan berasal dari International Development Association (IDA). Informasi ini dilaporkan World Bank dan Asharq Al-Awsat Rabu (1/7/2026).
Hibah tersebut merupakan bagian dari kerangka kemitraan baru Bank Dunia dan Yaman periode 2026–2030 yang menitikberatkan pada pemulihan ekonomi, penguatan ketahanan pangan, serta pembangunan kapasitas lembaga nasional.
Pemerintah Yaman menyatakan program ini menjadi langkah penting untuk menggeser pendekatan dari sekadar bantuan kemanusiaan menuju pembangunan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Sebagian besar penerima manfaat adalah keluarga yang dipimpin perempuan, ibu hamil, ibu menyusui, serta ibu yang memiliki anak berusia di bawah dua tahun.
Bank Dunia memberikan perhatian khusus terhadap 1.000 hari pertama kehidupan anak, periode yang secara ilmiah diakui sebagai fase paling menentukan bagi pertumbuhan fisik, perkembangan otak, dan kesehatan jangka panjang.
Selain bantuan tunai, program ini menyediakan edukasi gizi, pemeriksaan dini kasus malnutrisi, serta rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan bagi keluarga yang membutuhkan.
Dorong Kemandirian Ekonomi melalui Inovasi Digital
Program tersebut tidak hanya berfokus pada bantuan sosial, tetapi juga memperkuat mata pencaharian masyarakat melalui pembentukan asosiasi tabungan dan pinjaman desa.
Sekitar 55.000 warga akan memperoleh akses pembiayaan usaha produktif melalui lembaga keuangan berbasis komunitas.
Lebih dari 675.000 penduduk akan difasilitasi memperoleh kartu identitas nasional dan akta kelahiran agar lebih mudah mengakses layanan keuangan, bantuan pemerintah, pendidikan, dan berbagai layanan publik lainnya.
Bank Dunia juga memperkenalkan program pekerjaan digital berskala mikro bagi sekitar 2.000 pemuda berusia 18–35 tahun, dengan separuh pesertanya merupakan perempuan.
Peserta akan menerima pelatihan keterampilan digital, perangkat tablet, serta akses internet untuk mengerjakan berbagai pekerjaan daring bagi perusahaan global sehingga membuka sumber pendapatan baru yang tidak bergantung pada kondisi ekonomi lokal.
Direktur Regional Bank Dunia untuk Mesir, Yaman, dan Djibouti, Stefan G. Nalletamby, menegaskan bahwa investasi pada sumber daya manusia merupakan fondasi utama bagi proses pemulihan Yaman.
Menurutnya, perpaduan antara bantuan jangka pendek dan penguatan kapasitas ekonomi akan membantu masyarakat menjadi lebih tangguh menghadapi berbagai krisis di masa depan.
Bagian dari Strategi Pemulihan Nasional 2026–2030
Menteri Perencanaan dan Kerja Sama Internasional Yaman sekaligus Gubernur Yaman pada Kelompok Bank Dunia, Afrah Al-Zouba, menyatakan bahwa persetujuan hibah tersebut mencerminkan komitmen berkelanjutan Bank Dunia dalam mendukung rakyat Yaman di tengah situasi luar biasa yang masih dihadapi negara itu.
Ia menambahkan bahwa pemerintah berharap kemitraan dengan Bank Dunia selama periode 2026–2030 mampu memperbaiki kualitas hidup masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan institusi nasional.
Program ini juga mencakup penguatan sistem perlindungan sosial, modernisasi pembayaran digital, serta peningkatan kapasitas kelembagaan agar layanan publik menjadi lebih efektif dan inklusif.
Bank Dunia menilai bahwa keberhasilan pemulihan Yaman tidak cukup hanya melalui bantuan darurat, tetapi juga memerlukan investasi pada pendidikan, kesehatan, identitas sipil, transformasi digital, dan kesempatan kerja produktif.
Krisis Kemanusiaan Masih Menjadi Tantangan Besar
Persetujuan hibah ini datang ketika Yaman masih menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia setelah konflik berkepanjangan yang dimulai sejak 2014 menyebabkan jutaan orang kehilangan mata pencaharian dan mengalami kerawanan pangan.
Pemerintah Yaman juga menghadapi tekanan fiskal yang berat akibat dampak perang berkepanjangan, melemahnya aktivitas ekonomi, dan tingginya kebutuhan pembiayaan sektor pelayanan publik.
Berbagai lembaga internasional, termasuk Bank Dunia, UNICEF, Program Pangan Dunia (WFP), dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terus menekankan bahwa pemulihan Yaman memerlukan kombinasi bantuan kemanusiaan, pembangunan ekonomi, penguatan institusi, serta penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi agar kesejahteraan masyarakat dapat pulih secara berkelanjutan. (Ali)


