Korea Selatan Bidik Tiga Besar Kekuatan AI Dunia, Siapkan Ekosistem Teknologi dari Chip hingga Talenta Nasional

SulawesiPos.com – Korea Selatan Bidik Tiga Besar Kekuatan AI Dunia, Siapkan Ekosistem Teknologi dari Chip hingga Talenta Nasional. Melansir laporan dari sejumlah media ekonomi terkemuka Korea Selatan seperti Chosunbiz dan Seoul Economic Daily yang dirilis pada 17 Juni 2026, Pemerintah Korea Selatan melalui Institute for Information & Communications Technology Planning & Evaluation (IITP) menegaskan ambisinya untuk menjadi tiga besar kekuatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dunia.

Guna memuluskan target tersebut, pemerintah setempat berkomitmen memperkuat investasi riset, pengembangan chip AI, pembangunan talenta nasional, hingga integrasi lintas sektor mencakup industri, pertahanan, serta akademik.

Strategi besar ini dipaparkan langsung oleh Presiden IITP, Hong Jin-bae, dalam perhelatan 2026 Performance Media Day di Seoul.

Langkah agresif tersebut diambil sebagai respons nyata terhadap semakin ketatnya persaingan teknologi global, sekaligus menyambut lahirnya era agentic AI dan physical AI yang kini mulai diimplementasikan secara luas dalam berbagai lini kehidupan.

Hong Jin-bae menyatakan revolusi produktivitas baru telah dimulai ketika sistem AI tidak lagi sekadar menganalisis data, tetapi mampu mengambil keputusan dan berinteraksi langsung dengan lingkungan fisik.

Ia menegaskan IITP akan menjadi motor utama pengembangan teknologi AI nasional sekaligus pusat pembinaan sumber daya manusia yang menopang strategi jangka panjang Korea Selatan.

Sebagai lembaga riset dan pengembangan di bawah Ministry of Science and ICT, IITP pada tahun 2026 mengelola proyek senilai 1,8996 triliun won.

Sebanyak 1,137 triliun won dialokasikan untuk pengembangan teknologi, sedangkan 574 miliar won diarahkan khusus bagi pembangunan talenta dan sumber daya manusia.

Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa Korea Selatan menempatkan manusia sebagai pusat transformasi teknologi nasional.

Chip AI dan Kemandirian Teknologi

Salah satu pilar utama strategi nasional Korea Selatan adalah penguasaan teknologi chip AI melalui pengembangan Neural Processing Unit (NPU).

BACA JUGA:  Meksiko Lolos ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026 Usai Bekuk Korea Selatan 1-0

Investasi yang dimulai sejak 2020 telah melahirkan perusahaan-perusahaan teknologi lokal seperti FuriosaAI, Rebellions, DeepX, dan Mobilint.

Menurut Hong, hanya sedikit negara di luar Amerika Serikat yang memiliki kemampuan mengembangkan paket NPU secara lengkap untuk kebutuhan server maupun perangkat edge.

Perubahan pasar AI global yang kini semakin bertumpu pada teknologi inferensi dinilai membuka peluang besar bagi Korea Selatan untuk memperluas pengaruhnya dalam industri AI dunia.

Membangun “Palantir Korea”

IITP juga mengumumkan pembangunan ekosistem AI pertahanan yang digadang-gadang akan melahirkan “Palantir versi Korea Selatan”.

Program tersebut akan diwujudkan melalui pembentukan pusat kolaborasi industri, militer, dan akademisi di Daejeon, Yongsan, Yangjae, Busan, dan Pangyo.

Kolaborasi itu dirancang untuk menghubungkan inovasi sektor swasta dengan kebutuhan pertahanan nasional secara berkelanjutan.

Korea Selatan juga mulai mengembangkan teknologi world model sebagai fondasi generasi baru physical AI yang mampu memahami kondisi lingkungan nyata secara lebih mendalam.

Hong menekankan bahwa penguasaan kemampuan full-stack yang mencakup model AI, chip AI, jaringan komunikasi, dan keamanan siber akan menjadi faktor penentu kemenangan dalam kompetisi teknologi abad ke-21.

Dr. Ilham: Korea Selatan Memahami Bahwa AI Adalah Fondasi Masa Depan Bangsa

Jurnalis SulawesiPos.com menghubungi Dr. Ilham, S.S., M.Hum., Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin yang juga memiliki jejaring akademik dengan Kangwon National University dan Dongguk University, pada Sabtu (20/6/2026), untuk meminta tanggapannya mengenai strategi AI Korea Selatan.

Menurut Dr. Ilham, langkah Korea Selatan menunjukkan bagaimana sebuah negara memandang teknologi sebagai fondasi pembangunan peradaban masa depan, bukan sekadar alat pertumbuhan ekonomi.

“Korea Selatan memperlihatkan bahwa keberhasilan pada era kecerdasan buatan tidak dapat dicapai hanya melalui inovasi teknologi, tetapi harus didukung visi nasional jangka panjang, kebijakan yang konsisten, dan investasi besar pada manusia sebagai penggerak utama perubahan,” ujarnya.

BACA JUGA:  Korea Selatan Bangkit Dramatis! Taklukkan Czechia 2-1 di Laga Perdana Piala Dunia 2026

Ia menilai salah satu kekuatan terbesar Korea Selatan adalah kemampuannya mengintegrasikan riset, pendidikan, industri, dan negara dalam satu ekosistem inovasi yang saling memperkuat.

Menurutnya, pemerintah Korea Selatan memahami bahwa kompetisi AI pada akhirnya adalah kompetisi menghasilkan ilmuwan, peneliti, insinyur, dan inovator terbaik.

“Negara yang mampu menciptakan talenta unggul akan selalu berada satu langkah di depan dibanding negara yang hanya menjadi pengguna teknologi,” katanya.

Dr. Ilham menambahkan bahwa strategi Korea Selatan membangun kemampuan dari hulu hingga hilir menunjukkan upaya menciptakan kemandirian teknologi nasional.

Penguasaan chip AI, model kecerdasan buatan, jaringan komunikasi, keamanan siber, dan pengembangan sumber daya manusia dinilainya sebagai fondasi kedaulatan teknologi di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik global.

“Dalam dunia modern, kekuatan suatu negara tidak lagi hanya diukur dari jumlah tank atau rudal yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan menguasai data, komputasi, kecerdasan buatan, dan keamanan siber,” tegasnya.

AI Bukan Hanya Soal Ekonomi, Tetapi Juga Kedaulatan

Dr. Ilham melihat pembangunan ekosistem AI pertahanan Korea Selatan sebagai bukti bahwa kecerdasan buatan kini telah menjadi bagian dari infrastruktur strategis negara.

Kolaborasi antara industri, universitas, dan militer menunjukkan pemahaman yang sangat maju mengenai hubungan antara teknologi dan kepentingan nasional.

Ia juga menyoroti potensi AI dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui sektor kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan mitigasi bencana.

Menurutnya, teknologi AI mampu mempercepat diagnosis penyakit, memperluas layanan kesehatan jarak jauh, menghadirkan pembelajaran yang lebih personal, hingga membantu pemantauan perubahan iklim dan pengelolaan energi secara lebih efisien.

BACA JUGA:  Penipuan Catut Nama Kajati Sulsel Gunakan AI, Kejati Keluarkan Peringatan Resmi

Pelajaran Berharga untuk Indonesia

Dr. Ilham menilai Indonesia memiliki modal besar untuk berkembang menjadi salah satu pemain penting dalam ekosistem AI global.

Jumlah penduduk yang besar, bonus demografi, pertumbuhan ekonomi digital yang pesat, serta keberadaan perguruan tinggi dan pusat penelitian merupakan aset yang sangat potensial.

Namun ia mengingatkan bahwa rendahnya investasi riset dan terbatasnya jumlah peneliti berkelas internasional masih menjadi tantangan utama.

“Selama ini Indonesia lebih banyak menjadi pengguna teknologi yang dikembangkan negara lain daripada menjadi pengembang teknologi itu sendiri, padahal kita memiliki potensi besar untuk berubah,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa Indonesia perlu memperkuat sinergi antara pemerintah, universitas, industri, dan komunitas riset agar mampu membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan.

Menyelamatkan Sejarah dan Kebudayaan dengan AI

Menariknya, Dr. Ilham menilai kecerdasan buatan tidak hanya relevan bagi sektor industri dan ekonomi, tetapi juga memiliki masa depan besar dalam bidang sejarah, kebudayaan, dan humaniora.

AI dapat dimanfaatkan untuk digitalisasi arsip, pembacaan naskah kuno, analisis koleksi surat kabar historis, dokumentasi warisan budaya takbenda, hingga pelestarian bahasa-bahasa daerah yang terancam punah.

“AI dapat menjadi instrumen penting dalam menjaga memori kolektif bangsa sekaligus memperkuat identitas budaya Indonesia di tengah arus globalisasi yang semakin cepat,” tutupnya.

Strategi Korea Selatan memperlihatkan bahwa perlombaan AI masa depan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki model kecerdasan buatan paling canggih, melainkan oleh siapa yang mampu membangun ekosistem teknologi yang lengkap, berdaulat, dan berkelanjutan.

Di tengah persaingan global yang semakin sengit, Negeri Ginseng tampaknya tidak ingin sekadar menjadi pengguna revolusi AI, melainkan salah satu arsitek utama yang membentuk masa depan teknologi dunia. (Ali)

SulawesiPos.com – Korea Selatan Bidik Tiga Besar Kekuatan AI Dunia, Siapkan Ekosistem Teknologi dari Chip hingga Talenta Nasional. Melansir laporan dari sejumlah media ekonomi terkemuka Korea Selatan seperti Chosunbiz dan Seoul Economic Daily yang dirilis pada 17 Juni 2026, Pemerintah Korea Selatan melalui Institute for Information & Communications Technology Planning & Evaluation (IITP) menegaskan ambisinya untuk menjadi tiga besar kekuatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dunia.

Guna memuluskan target tersebut, pemerintah setempat berkomitmen memperkuat investasi riset, pengembangan chip AI, pembangunan talenta nasional, hingga integrasi lintas sektor mencakup industri, pertahanan, serta akademik.

Strategi besar ini dipaparkan langsung oleh Presiden IITP, Hong Jin-bae, dalam perhelatan 2026 Performance Media Day di Seoul.

Langkah agresif tersebut diambil sebagai respons nyata terhadap semakin ketatnya persaingan teknologi global, sekaligus menyambut lahirnya era agentic AI dan physical AI yang kini mulai diimplementasikan secara luas dalam berbagai lini kehidupan.

Hong Jin-bae menyatakan revolusi produktivitas baru telah dimulai ketika sistem AI tidak lagi sekadar menganalisis data, tetapi mampu mengambil keputusan dan berinteraksi langsung dengan lingkungan fisik.

Ia menegaskan IITP akan menjadi motor utama pengembangan teknologi AI nasional sekaligus pusat pembinaan sumber daya manusia yang menopang strategi jangka panjang Korea Selatan.

Sebagai lembaga riset dan pengembangan di bawah Ministry of Science and ICT, IITP pada tahun 2026 mengelola proyek senilai 1,8996 triliun won.

Sebanyak 1,137 triliun won dialokasikan untuk pengembangan teknologi, sedangkan 574 miliar won diarahkan khusus bagi pembangunan talenta dan sumber daya manusia.

Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa Korea Selatan menempatkan manusia sebagai pusat transformasi teknologi nasional.

Chip AI dan Kemandirian Teknologi

Salah satu pilar utama strategi nasional Korea Selatan adalah penguasaan teknologi chip AI melalui pengembangan Neural Processing Unit (NPU).

BACA JUGA:  Bukan Pacaran, Ini Brainwashing: Pakar Hukum Bongkar Pola Grooming Kasus Siswi SMP Makassar

Investasi yang dimulai sejak 2020 telah melahirkan perusahaan-perusahaan teknologi lokal seperti FuriosaAI, Rebellions, DeepX, dan Mobilint.

Menurut Hong, hanya sedikit negara di luar Amerika Serikat yang memiliki kemampuan mengembangkan paket NPU secara lengkap untuk kebutuhan server maupun perangkat edge.

Perubahan pasar AI global yang kini semakin bertumpu pada teknologi inferensi dinilai membuka peluang besar bagi Korea Selatan untuk memperluas pengaruhnya dalam industri AI dunia.

Membangun “Palantir Korea”

IITP juga mengumumkan pembangunan ekosistem AI pertahanan yang digadang-gadang akan melahirkan “Palantir versi Korea Selatan”.

Program tersebut akan diwujudkan melalui pembentukan pusat kolaborasi industri, militer, dan akademisi di Daejeon, Yongsan, Yangjae, Busan, dan Pangyo.

Kolaborasi itu dirancang untuk menghubungkan inovasi sektor swasta dengan kebutuhan pertahanan nasional secara berkelanjutan.

Korea Selatan juga mulai mengembangkan teknologi world model sebagai fondasi generasi baru physical AI yang mampu memahami kondisi lingkungan nyata secara lebih mendalam.

Hong menekankan bahwa penguasaan kemampuan full-stack yang mencakup model AI, chip AI, jaringan komunikasi, dan keamanan siber akan menjadi faktor penentu kemenangan dalam kompetisi teknologi abad ke-21.

Dr. Ilham: Korea Selatan Memahami Bahwa AI Adalah Fondasi Masa Depan Bangsa

Jurnalis SulawesiPos.com menghubungi Dr. Ilham, S.S., M.Hum., Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin yang juga memiliki jejaring akademik dengan Kangwon National University dan Dongguk University, pada Sabtu (20/6/2026), untuk meminta tanggapannya mengenai strategi AI Korea Selatan.

Menurut Dr. Ilham, langkah Korea Selatan menunjukkan bagaimana sebuah negara memandang teknologi sebagai fondasi pembangunan peradaban masa depan, bukan sekadar alat pertumbuhan ekonomi.

“Korea Selatan memperlihatkan bahwa keberhasilan pada era kecerdasan buatan tidak dapat dicapai hanya melalui inovasi teknologi, tetapi harus didukung visi nasional jangka panjang, kebijakan yang konsisten, dan investasi besar pada manusia sebagai penggerak utama perubahan,” ujarnya.

BACA JUGA:  Pakar Hukum Ingatkan: Jangan Normalisasi Relasi Dewasa–Anak, Predator Masuk Lewat Layar Ponsel

Ia menilai salah satu kekuatan terbesar Korea Selatan adalah kemampuannya mengintegrasikan riset, pendidikan, industri, dan negara dalam satu ekosistem inovasi yang saling memperkuat.

Menurutnya, pemerintah Korea Selatan memahami bahwa kompetisi AI pada akhirnya adalah kompetisi menghasilkan ilmuwan, peneliti, insinyur, dan inovator terbaik.

“Negara yang mampu menciptakan talenta unggul akan selalu berada satu langkah di depan dibanding negara yang hanya menjadi pengguna teknologi,” katanya.

Dr. Ilham menambahkan bahwa strategi Korea Selatan membangun kemampuan dari hulu hingga hilir menunjukkan upaya menciptakan kemandirian teknologi nasional.

Penguasaan chip AI, model kecerdasan buatan, jaringan komunikasi, keamanan siber, dan pengembangan sumber daya manusia dinilainya sebagai fondasi kedaulatan teknologi di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik global.

“Dalam dunia modern, kekuatan suatu negara tidak lagi hanya diukur dari jumlah tank atau rudal yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan menguasai data, komputasi, kecerdasan buatan, dan keamanan siber,” tegasnya.

AI Bukan Hanya Soal Ekonomi, Tetapi Juga Kedaulatan

Dr. Ilham melihat pembangunan ekosistem AI pertahanan Korea Selatan sebagai bukti bahwa kecerdasan buatan kini telah menjadi bagian dari infrastruktur strategis negara.

Kolaborasi antara industri, universitas, dan militer menunjukkan pemahaman yang sangat maju mengenai hubungan antara teknologi dan kepentingan nasional.

Ia juga menyoroti potensi AI dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui sektor kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan mitigasi bencana.

Menurutnya, teknologi AI mampu mempercepat diagnosis penyakit, memperluas layanan kesehatan jarak jauh, menghadirkan pembelajaran yang lebih personal, hingga membantu pemantauan perubahan iklim dan pengelolaan energi secara lebih efisien.

BACA JUGA:  Penipuan Catut Nama Kajati Sulsel Gunakan AI, Kejati Keluarkan Peringatan Resmi

Pelajaran Berharga untuk Indonesia

Dr. Ilham menilai Indonesia memiliki modal besar untuk berkembang menjadi salah satu pemain penting dalam ekosistem AI global.

Jumlah penduduk yang besar, bonus demografi, pertumbuhan ekonomi digital yang pesat, serta keberadaan perguruan tinggi dan pusat penelitian merupakan aset yang sangat potensial.

Namun ia mengingatkan bahwa rendahnya investasi riset dan terbatasnya jumlah peneliti berkelas internasional masih menjadi tantangan utama.

“Selama ini Indonesia lebih banyak menjadi pengguna teknologi yang dikembangkan negara lain daripada menjadi pengembang teknologi itu sendiri, padahal kita memiliki potensi besar untuk berubah,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa Indonesia perlu memperkuat sinergi antara pemerintah, universitas, industri, dan komunitas riset agar mampu membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan.

Menyelamatkan Sejarah dan Kebudayaan dengan AI

Menariknya, Dr. Ilham menilai kecerdasan buatan tidak hanya relevan bagi sektor industri dan ekonomi, tetapi juga memiliki masa depan besar dalam bidang sejarah, kebudayaan, dan humaniora.

AI dapat dimanfaatkan untuk digitalisasi arsip, pembacaan naskah kuno, analisis koleksi surat kabar historis, dokumentasi warisan budaya takbenda, hingga pelestarian bahasa-bahasa daerah yang terancam punah.

“AI dapat menjadi instrumen penting dalam menjaga memori kolektif bangsa sekaligus memperkuat identitas budaya Indonesia di tengah arus globalisasi yang semakin cepat,” tutupnya.

Strategi Korea Selatan memperlihatkan bahwa perlombaan AI masa depan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki model kecerdasan buatan paling canggih, melainkan oleh siapa yang mampu membangun ekosistem teknologi yang lengkap, berdaulat, dan berkelanjutan.

Di tengah persaingan global yang semakin sengit, Negeri Ginseng tampaknya tidak ingin sekadar menjadi pengguna revolusi AI, melainkan salah satu arsitek utama yang membentuk masa depan teknologi dunia. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru