Indonesia Swasembada, di Thailand Harga Gabah Anjlok dan Petani Demo Tuntut Jaminan Harga Lebih Tinggi

Sulawesipos.com – Harga gabah Thailand anjlok hingga membuat petani menuntut dukungan lebih kuat dari pemerintah, termasuk jaminan harga minimal 11.000 baht per ton. Tekanan ini muncul saat biaya produksi meningkat, sementara pasar beras Thailand terpukul oleh perubahan pasokan dan permintaan global.

Dilansir Reuters, harga gabah di Thailand turun sekitar 30 persen secara tahunan. Di sejumlah wilayah, petani melaporkan harga jual hanya berada di kisaran 6.000 hingga 8.000 baht per ton, jauh lebih rendah dibanding periode harga tinggi tahun sebelumnya.

Kondisi itu memicu protes petani dari beberapa provinsi. Mereka menilai kebijakan pemerintah belum cukup untuk menahan penurunan harga, terutama bagi petani yang sedang memasuki masa panen padi luar musim.

Kondisi tersebut berbeda dengan Indonesia yang sudah swasembada sejak awal 2026 dan pemerintah juga sudah menetapkan harga yang layak bagi petani.

Petani Minta Harga Gabah Dijamin

Para petani menuntut pemerintah menetapkan harga gabah dengan kadar air 15 persen sedikitnya 11.000 baht per ton. Sebagian perwakilan petani juga meminta skema dukungan pendapatan agar kerugian akibat harga rendah tidak sepenuhnya ditanggung petani.

BACA JUGA:  Setelah Didemo Petani Akibat Harga Gabah Anjlok, Pemerintah Thailand Siapkan Bantuan Pasar Beras

Bangkok Post melaporkan, petani dari sejumlah provinsi seperti Sukhothai, Phitsanulok, Suphan Buri, Phichit, dan wilayah Thailand tengah berkumpul di Government House, Bangkok. Mereka berharap bisa bertemu pejabat tinggi pemerintah untuk membahas langkah darurat.

Petani menyebut harga gabah saat ini tidak lagi sebanding dengan biaya produksi. Salah satu petani dari Phichit mengatakan biaya produksi padi mencapai sekitar 6.000 baht per ton, sementara harga jual di pasar bisa lebih rendah dari angka tersebut.

Pemerintah Siapkan Paket Dukungan

Pemerintah Thailand telah menyiapkan langkah dukungan senilai 1,89 miliar baht untuk membantu menopang harga. Paket itu mencakup pinjaman agar petani dapat menunda penjualan gabah, bantuan biaya penyimpanan, serta kompensasi bunga bagi penggilingan yang menyimpan stok beras.

Namun, perwakilan petani menilai kebijakan itu belum menjawab kebutuhan mendesak di lapangan. Mereka meminta bantuan diberikan langsung kepada petani agar tidak terserap oleh perantara atau membuka ruang penyimpangan dalam pelaksanaan program.

BACA JUGA:  Virus Nipah Kembali Jadi Ancaman, Thailand Hidupkan Protokol Covid-19

Menteri Perdagangan Thailand Pichai Naripthaphan menyebut penurunan harga beras dipengaruhi faktor eksternal. Di antaranya adalah India yang kembali membuka ekspor beras, serta melemahnya permintaan dari negara pembeli utama seperti Indonesia dan Filipina.

Tekanan Politik bagi Pemerintah Pheu Thai

Anjloknya harga gabah menjadi ujian politik bagi pemerintahan yang dipimpin Partai Pheu Thai. Petani padi merupakan kelompok besar di Thailand, dengan jutaan rumah tangga menggantungkan pendapatan pada sektor pertanian.

Asia News Network melaporkan, harga beras Thailand sempat mencapai 11.000 hingga 16.000 baht per ton pada Maret 2024, level tertinggi dalam 17 tahun. Situasi berubah tajam ketika harga turun ke kisaran 6.000 hingga 8.000 baht per ton.

Selain faktor pasar global, sektor beras Thailand juga menghadapi persoalan struktural. Tantangannya meliputi biaya produksi tinggi, produktivitas yang belum optimal, perubahan iklim, utang petani, serta kebutuhan inovasi varietas beras agar tetap bersaing di pasar ekspor.

Masalah harga gabah diperkirakan belum selesai dalam waktu dekat. Pemerintah Thailand harus menyeimbangkan kebutuhan menjaga anggaran negara, menahan gejolak politik petani, dan mempertahankan daya saing beras Thailand di pasar internasional.*ah

BACA JUGA:  Mentan Amran Paparkan Strategi Swasembada Pangan di Indonesia Economic Outlook 2026

Sulawesipos.com – Harga gabah Thailand anjlok hingga membuat petani menuntut dukungan lebih kuat dari pemerintah, termasuk jaminan harga minimal 11.000 baht per ton. Tekanan ini muncul saat biaya produksi meningkat, sementara pasar beras Thailand terpukul oleh perubahan pasokan dan permintaan global.

Dilansir Reuters, harga gabah di Thailand turun sekitar 30 persen secara tahunan. Di sejumlah wilayah, petani melaporkan harga jual hanya berada di kisaran 6.000 hingga 8.000 baht per ton, jauh lebih rendah dibanding periode harga tinggi tahun sebelumnya.

Kondisi itu memicu protes petani dari beberapa provinsi. Mereka menilai kebijakan pemerintah belum cukup untuk menahan penurunan harga, terutama bagi petani yang sedang memasuki masa panen padi luar musim.

Kondisi tersebut berbeda dengan Indonesia yang sudah swasembada sejak awal 2026 dan pemerintah juga sudah menetapkan harga yang layak bagi petani.

Petani Minta Harga Gabah Dijamin

Para petani menuntut pemerintah menetapkan harga gabah dengan kadar air 15 persen sedikitnya 11.000 baht per ton. Sebagian perwakilan petani juga meminta skema dukungan pendapatan agar kerugian akibat harga rendah tidak sepenuhnya ditanggung petani.

BACA JUGA:  Indonesia Menggila di Hari Ketiga ASEAN Para Games 2025, Sabet 29 Emas Sekaligus

Bangkok Post melaporkan, petani dari sejumlah provinsi seperti Sukhothai, Phitsanulok, Suphan Buri, Phichit, dan wilayah Thailand tengah berkumpul di Government House, Bangkok. Mereka berharap bisa bertemu pejabat tinggi pemerintah untuk membahas langkah darurat.

Petani menyebut harga gabah saat ini tidak lagi sebanding dengan biaya produksi. Salah satu petani dari Phichit mengatakan biaya produksi padi mencapai sekitar 6.000 baht per ton, sementara harga jual di pasar bisa lebih rendah dari angka tersebut.

Pemerintah Siapkan Paket Dukungan

Pemerintah Thailand telah menyiapkan langkah dukungan senilai 1,89 miliar baht untuk membantu menopang harga. Paket itu mencakup pinjaman agar petani dapat menunda penjualan gabah, bantuan biaya penyimpanan, serta kompensasi bunga bagi penggilingan yang menyimpan stok beras.

Namun, perwakilan petani menilai kebijakan itu belum menjawab kebutuhan mendesak di lapangan. Mereka meminta bantuan diberikan langsung kepada petani agar tidak terserap oleh perantara atau membuka ruang penyimpangan dalam pelaksanaan program.

BACA JUGA:  Negeri Gajah Putih Berduka, Putri Kerajaan Thailand Bajrakitiyabha Wafat Usai 3 Tahun Koma

Menteri Perdagangan Thailand Pichai Naripthaphan menyebut penurunan harga beras dipengaruhi faktor eksternal. Di antaranya adalah India yang kembali membuka ekspor beras, serta melemahnya permintaan dari negara pembeli utama seperti Indonesia dan Filipina.

Tekanan Politik bagi Pemerintah Pheu Thai

Anjloknya harga gabah menjadi ujian politik bagi pemerintahan yang dipimpin Partai Pheu Thai. Petani padi merupakan kelompok besar di Thailand, dengan jutaan rumah tangga menggantungkan pendapatan pada sektor pertanian.

Asia News Network melaporkan, harga beras Thailand sempat mencapai 11.000 hingga 16.000 baht per ton pada Maret 2024, level tertinggi dalam 17 tahun. Situasi berubah tajam ketika harga turun ke kisaran 6.000 hingga 8.000 baht per ton.

Selain faktor pasar global, sektor beras Thailand juga menghadapi persoalan struktural. Tantangannya meliputi biaya produksi tinggi, produktivitas yang belum optimal, perubahan iklim, utang petani, serta kebutuhan inovasi varietas beras agar tetap bersaing di pasar ekspor.

Masalah harga gabah diperkirakan belum selesai dalam waktu dekat. Pemerintah Thailand harus menyeimbangkan kebutuhan menjaga anggaran negara, menahan gejolak politik petani, dan mempertahankan daya saing beras Thailand di pasar internasional.*ah

BACA JUGA:  Petani Thailand Dilanda Krisis Harga Gabah Turun dan Utang Membengkak, Tekanan Berat bagi Pemerintahan Anutin

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru