Permintaan CPU server untuk kebutuhan AI diprediksi meningkat karena perkembangan agentic AI atau AI agentik membutuhkan pusat data dengan orkestrasi komputasi lebih kompleks. Analis Bernstein menilai kondisi ini membuka peluang bagi AMD untuk memperkuat bisnis servernya melalui prosesor EPYC di tengah dominasi GPU Nvidia.
Menurut rangkuman laporan yang dikutip sejumlah media pasar, Bernstein melihat beban kerja AI yang semakin otonom akan membuat CPU kembali memegang peran lebih besar dalam pusat data. Agentic AI merujuk pada sistem kecerdasan buatan yang dapat menjalankan rangkaian tugas secara lebih mandiri, sehingga membutuhkan orkestrasi dan eksekusi komputasi yang lebih kompleks.
Selama ini, perhatian investor teknologi banyak tertuju pada GPU karena perangkat tersebut menjadi komponen utama dalam pelatihan dan inferensi model AI berskala besar. Namun Bernstein menilai kebutuhan CPU dapat meningkat seiring makin luasnya penggunaan AI agentik, terutama untuk mengatur alur kerja, memproses instruksi, dan menghubungkan berbagai komponen sistem.
Perubahan itu berpotensi menggeser asumsi rasio CPU dan GPU dalam data center AI. Jika sebelumnya pasar banyak memakai gambaran satu CPU untuk empat hingga delapan GPU, Bernstein memperkirakan rasio tersebut dapat bergerak lebih seimbang, bahkan mendekati satu CPU untuk satu GPU dalam sejumlah skenario.
Bagi AMD, proyeksi tersebut menjadi penting karena perusahaan memiliki lini prosesor server EPYC yang bersaing di pasar pusat data. Produk ini menjadi salah satu fondasi bisnis server AMD, di luar ambisi perusahaan mengejar Nvidia dalam pasar akselerator AI.
Bernstein juga menyoroti kinerja bisnis CPU server AMD yang disebut terus tumbuh kuat. Pendapatan server CPU AMD dilaporkan meningkat lebih dari 50 persen secara tahunan selama empat kuartal berturut-turut, mencerminkan momentum yang tetap terjaga di tengah persaingan ketat industri semikonduktor.
Dalam pandangan Bernstein, pasar CPU server memiliki ruang ekspansi lebih besar dibanding estimasi sebelumnya. Lembaga riset itu menaikkan proyeksi total addressable market atau TAM CPU server pada 2030 menjadi 223 miliar dolar AS, dari perkiraan sebelumnya sebesar 137 miliar dolar AS.
AMD sendiri sebelumnya juga menaikkan estimasi pasar CPU yang dapat digarapnya hingga 2030. Perusahaan disebut menggandakan proyeksi TAM CPU menjadi 120 miliar dolar AS, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan komputasi pusat data dan adopsi AI.
Meski demikian, peluang AMD tetap berada dalam lanskap kompetisi yang ketat. Nvidia masih mendominasi pasar GPU AI, sementara Intel dan Arm juga disebut ikut mendapatkan sentimen positif dari ekspektasi kebangkitan permintaan CPU server.
Bernstein mempertahankan rating “Outperform” untuk saham AMD dan menaikkan target harga menjadi 600 dolar AS dari sebelumnya 525 dolar AS. Penilaian tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa AMD memiliki posisi produk yang kompetitif dan masih berpeluang merebut pangsa pasar di segmen pusat data.
Bagi investor, laporan ini menunjukkan bahwa cerita pertumbuhan AI tidak hanya bergantung pada GPU. Jika agentic AI benar-benar memperbesar kebutuhan CPU, persaingan semikonduktor dapat melebar ke pasar prosesor server, tempat AMD berupaya memperkuat posisi melalui lini EPYC dan portofolio pusat datanya.


