SulawesiPos.com – Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, angkat bicara menanggapi usulan pemindahan posisi gerbong khusus wanita ke bagian tengah rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL).
Usulan tersebut disampaikan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menyusul insiden tabrakan antara Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur.
Bobby menegaskan bahwa aspek keselamatan penumpang tidak dibedakan berdasarkan jenis kelamin.
Menurutnya, KAI menempatkan keselamatan sebagai prioritas tertinggi bagi seluruh pengguna jasa tanpa pengecualian.
“Kami tidak membedakan gender laki-laki dan perempuan. Bagi kami PT Kereta Api Indonesia keselamatan adalah nomor satu. Tidak ada toleransi, tidak ada kompromi, baik pelanggan perempuan maupun laki-laki,” ujar Bobby di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Rabu (29/4).
Ia menjelaskan, kebijakan pemisahan gerbong wanita yang selama ini diterapkan didasarkan pada sejumlah pertimbangan, antara lain untuk mempermudah akses bagi penumpang perempuan serta meminimalkan potensi terjadinya pelecehan.
Selain itu, penempatan gerbong khusus wanita di bagian tertentu rangkaian kereta juga dinilai memberikan rasa aman karena lokasinya lebih dekat dengan petugas.
“Selama ini kami melakukan pemisahan karena beberapa aspek. Pertama, supaya tidak terjadi harassment. Kedua, memberikan kemudahan akses untuk perempuan.
Ketiga, memberikan security yang lebih karena lebih dekat dengan penjaga yang ada di situ, maka dari ujung ke ujung,” jelasnya.
Usulan Muncul Usai Insiden Argo Bromo Anggrek–KRL
Usulan pemindahan posisi gerbong khusus wanita mengemuka setelah tingginya jumlah penumpang perempuan yang menjadi korban dalam kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4).
Arifah Fauzi menyampaikan pihaknya akan mendorong KAI untuk mengkaji ulang pengaturan tata letak penumpang di dalam rangkaian KRL demi meningkatkan aspek perlindungan.
“Tadi, kalau tadi kita ngobrol dengan KAI itu kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang, supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah,” ujar Arifah di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid, Kota Bekasi, Selasa (28/4).
“Jadi yang laki-laki di ujung, depan-belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah. Tadi sementara itu,” sambungnya.
Arifah juga mengaku sempat terkejut mengetahui adanya korban luka dari kalangan penumpang laki-laki.
Setelah ditelusuri, korban tersebut diketahui berada di gerbong campuran serta di dalam rangkaian KA Argo Bromo Anggrek yang terlibat tabrakan.
“Saya kaget kok korbannya ada yang laki-laki, oh ternyata mereka ada di gerbong tiga dan ada yang dari Argo Bromo Anggrek gitu,” ujar Arifah.

