Langit Indonesia Akan Dihiasi “Gerhana” Bintang, Fenomena Langka Terjadi Akhir April 2026

SulawesiPos.com – Fenomena astronomi langka diperkirakan akan menghiasi langit malam Indonesia pada akhir April 2026.

Peristiwa tersebut dikenal sebagai okultasi asteroid, yang kerap disebut sebagai “gerhana” bintang karena menimbulkan efek visual cahaya bintang yang meredup sesaat.

Observatorium Bosscha menyebutkan bahwa fenomena ini akan terjadi pada Minggu malam, 26 April 2026, sekitar pukul 19.41 WIB, dan dapat diamati dari sejumlah wilayah di Indonesia.

Dalam penjelasannya, Bosscha menerangkan bahwa okultasi merupakan peristiwa tertutupinya suatu objek langit oleh objek langit lain yang tampak lebih besar dari sudut pandang pengamat di Bumi.

Pada kejadian ini, cahaya sebuah bintang akan tertutup oleh asteroid yang melintas di depannya.

Fenomena tersebut sering disebut sebagai “gerhana” bintang karena secara kasat mata menyerupai gerhana, meski berbeda dengan gerhana Matahari maupun Bulan.

Meski hanya berlangsung singkat, peristiwa ini memiliki nilai ilmiah yang sangat penting.

Asteroid Strenua Tutupi Cahaya Bintang Selama Beberapa Detik

Dalam peristiwa kali ini, asteroid (1201) Strenua akan melintas tepat di depan sebuah bintang sehingga cahayanya tampak meredup atau bahkan menghilang sesaat.

“Fenomena ini terjadi ketika asteroid (1201) Strenua melintas di depan bintang HIP 35933 (HD 58050) dan menutupi cahayanya selama beberapa detik,” kata Bosscha dalam keterangannya, Rabu (22/4).

Strenua diketahui merupakan asteroid sabuk utama yang mengorbit Matahari di antara Mars dan Jupiter.

Berdasarkan sejumlah penelitian, asteroid ini memiliki ukuran puluhan kilometer dan tergolong sebagai objek langit yang relatif redup.

Karena karakteristik tersebut, metode okultasi menjadi salah satu teknik paling efektif untuk memperoleh data yang lebih presisi terkait ukuran, bentuk, dan dimensi asteroid.

Untuk mendukung pengamatan fenomena ini, Observatorium Bosscha menginisiasi Kampanye Nasional Pengamatan Okultasi Asteroid Strenua.

Kegiatan ini melibatkan 44 titik pengamatan dari 34 institusi, komunitas, serta kontributor individu di berbagai daerah di Indonesia.

Kampanye tersebut menjadi salah satu kolaborasi pengamatan astronomi berbasis publik terbesar yang pernah dilakukan di Tanah Air.

“Observatorium Bosscha menerjunkan empat tim pengamat yang akan ditempatkan di Lembang (Observatorium Bosscha dan Jayagiri), Ciater (Subang), serta Kupang (Nusa Tenggara Timur),” kata Bosscha.

“Kupang dipilih sebagai lokasi strategis karena memiliki peluang kondisi cuaca yang lebih baik, sehingga meningkatkan kemungkinan keberhasilan pengamatan,” lanjutnya.

Bosscha menjelaskan, dengan mengombinasikan data dari berbagai titik pengamatan, para peneliti dapat merekonstruksi lintasan bayangan asteroid secara akurat untuk mengungkap karakteristik fisik Strenua dengan tingkat ketelitian tinggi.

SulawesiPos.com – Fenomena astronomi langka diperkirakan akan menghiasi langit malam Indonesia pada akhir April 2026.

Peristiwa tersebut dikenal sebagai okultasi asteroid, yang kerap disebut sebagai “gerhana” bintang karena menimbulkan efek visual cahaya bintang yang meredup sesaat.

Observatorium Bosscha menyebutkan bahwa fenomena ini akan terjadi pada Minggu malam, 26 April 2026, sekitar pukul 19.41 WIB, dan dapat diamati dari sejumlah wilayah di Indonesia.

Dalam penjelasannya, Bosscha menerangkan bahwa okultasi merupakan peristiwa tertutupinya suatu objek langit oleh objek langit lain yang tampak lebih besar dari sudut pandang pengamat di Bumi.

Pada kejadian ini, cahaya sebuah bintang akan tertutup oleh asteroid yang melintas di depannya.

Fenomena tersebut sering disebut sebagai “gerhana” bintang karena secara kasat mata menyerupai gerhana, meski berbeda dengan gerhana Matahari maupun Bulan.

Meski hanya berlangsung singkat, peristiwa ini memiliki nilai ilmiah yang sangat penting.

Asteroid Strenua Tutupi Cahaya Bintang Selama Beberapa Detik

Dalam peristiwa kali ini, asteroid (1201) Strenua akan melintas tepat di depan sebuah bintang sehingga cahayanya tampak meredup atau bahkan menghilang sesaat.

“Fenomena ini terjadi ketika asteroid (1201) Strenua melintas di depan bintang HIP 35933 (HD 58050) dan menutupi cahayanya selama beberapa detik,” kata Bosscha dalam keterangannya, Rabu (22/4).

Strenua diketahui merupakan asteroid sabuk utama yang mengorbit Matahari di antara Mars dan Jupiter.

Berdasarkan sejumlah penelitian, asteroid ini memiliki ukuran puluhan kilometer dan tergolong sebagai objek langit yang relatif redup.

Karena karakteristik tersebut, metode okultasi menjadi salah satu teknik paling efektif untuk memperoleh data yang lebih presisi terkait ukuran, bentuk, dan dimensi asteroid.

Untuk mendukung pengamatan fenomena ini, Observatorium Bosscha menginisiasi Kampanye Nasional Pengamatan Okultasi Asteroid Strenua.

Kegiatan ini melibatkan 44 titik pengamatan dari 34 institusi, komunitas, serta kontributor individu di berbagai daerah di Indonesia.

Kampanye tersebut menjadi salah satu kolaborasi pengamatan astronomi berbasis publik terbesar yang pernah dilakukan di Tanah Air.

“Observatorium Bosscha menerjunkan empat tim pengamat yang akan ditempatkan di Lembang (Observatorium Bosscha dan Jayagiri), Ciater (Subang), serta Kupang (Nusa Tenggara Timur),” kata Bosscha.

“Kupang dipilih sebagai lokasi strategis karena memiliki peluang kondisi cuaca yang lebih baik, sehingga meningkatkan kemungkinan keberhasilan pengamatan,” lanjutnya.

Bosscha menjelaskan, dengan mengombinasikan data dari berbagai titik pengamatan, para peneliti dapat merekonstruksi lintasan bayangan asteroid secara akurat untuk mengungkap karakteristik fisik Strenua dengan tingkat ketelitian tinggi.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru