SulawesiPos.com, Washington/Teheran – Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat.
Serangan ini disebut sebagai operasi gabungan yang telah dikoordinasikan secara strategis antara Washington dan Tel Aviv.
Sejumlah media ternama AS melaporkan, mengutip pejabat tinggi pemerintahan di Washington, bahwa serangan tersebut bukan sekadar operasi terbatas.
Salah satu sumber yang dikutip media menyebutkan bahwa serangan ini “bukan serangan kecil”, mengindikasikan skala operasi yang jauh lebih besar dari aksi militer sebelumnya.
Target Ancaman Militer Iran
Menurut pejabat AS, tujuan utama operasi ini adalah menetralisir ancaman militer Iran serta melindungi pasukan dan kepentingan Amerika di kawasan Timur Tengah.
Washington juga dikabarkan telah meningkatkan kesiagaan serta menerapkan langkah-langkah perlindungan tambahan terhadap personel militernya sebelum serangan dilancarkan.
Meski demikian, hingga berita ini diturunkan belum ada pernyataan resmi dari Pentagon terkait detail operasi tersebut.
Ledakan Guncang Teheran
Di sisi lain, laporan dari dalam negeri Iran menyebutkan sejumlah ledakan terdengar di ibu kota Teheran serta beberapa kota strategis lainnya.
Pemerintah Iran belum merinci kerusakan maupun jumlah korban akibat serangan tersebut.
Serangan ini menjadi aksi militer kedua yang diperintahkan Presiden Donald Trump terhadap Iran dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.
Pada Juni 2025, AS juga melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir utama Iran di tengah memanasnya konflik antara Teheran dan Israel.
Iran Siap Balas
Teheran tidak tinggal diam. Pemerintah Iran menyatakan tengah mempersiapkan respons atas agresi yang dilakukan AS dan Israel.
Sejumlah pejabat tinggi Iran memperingatkan bahwa balasan yang akan dilancarkan bisa jauh lebih “menghancurkan” dibandingkan serangan yang mereka terima.
Situasi ini meningkatkan kekhawatiran dunia internasional akan pecahnya perang regional berskala besar yang berpotensi menyeret negara-negara lain di Timur Tengah.
Hingga kini, komunitas global masih menunggu respons resmi dari masing-masing pihak serta langkah diplomatik yang mungkin diambil untuk meredakan eskalasi konflik yang kian memanas.

