Ketimpangan distribusi manfaat ini melahirkan rasa ketidakadilan.
Dalam konteks ini, konsep social license to operate (SLO) menjadi relevan dan merupakan legitimasi sosial yang tidak hanya diperoleh melalui izin formal, tetapi melalui penerimaan dan partisipasi masyarakat.
Tanpa keterlibatan masyarakat lokal yang bermakna, belum merasakan kehadiran industri pertambangan, maka pertambangan berpotensi menjadi sumber konflik berkepanjangan.
Perspektif Politis, Tata Kelola dan Relasi Kekuasaan
Pertambangan juga tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik.
Perizinan, tata ruang, pembagian kewenangan pusat dan daerah, hingga kebijakan hilirisasi merupakan keputusan politik yang berdampak luas.
Relasi antara kepentingan investasi dan perlindungan lingkungan seringkali mencerminkan tarik-menarik kekuasaan.
Dalam beberapa kasus, orientasi kebijakan cenderung lebih menekankan percepatan investasi dan pertumbuhan ekonomi.
Padahal, tata kelola sumber daya alam yang baik mensyaratkan transparansi, akuntabilitas, dan integritas. Tanpa itu, risiko regulatory capture dan konflik kepentingan akan sulit dihindari.
Karena itu, keseimbangan kebijakan menjadi kunci: potensi ekonomi tidak boleh dimatikan atas nama lingkungan, tetapi perlindungan lingkungan juga tidak boleh dikorbankan demi pertumbuhan jangka pendek.
Perspektif Media, Framing dan Kesadaran Publik
Media memiliki peran strategis dalam membentuk persepsi publik tentang pertambangan dan lingkungan.

