Selain produksi, BPS turut mencatat proyeksi kenaikan luas panen padi pada periode Januari hingga Maret 2026.
“Potensi luas panen padi Januari sampai dengan Maret 2026, Diperkirakan mencapai 3,28 juta hektar atau mengalami peningkatan sebesar 0,44 juta hektar atau 15,32% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.” paparnya.
Secara tahunan, luas panen padi sepanjang 2025 juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Luas panen padi sepanjang Januari sampai dengan Desember tahun 2025 yaitu totalnya mencapai 11,32 juta hektar atau meningkat 1,27 juta hektar atau 12,69% jika dibandingkan periode yang sama di tahun 2024.”
BPS juga mencatat peningkatan produktivitas padi nasional sepanjang 2025 dalam kualitas gabah kering panen (GKP).
“Angka produktivitas padi pada tahun 2025 dalam kualitas gabah kering panen atau GKP rata-rata produktivitas padi nasional tahun 2025 mencapai 63,55 kuintal per hektar atau mengalami peningkatan sebesar 0,34 kuintal per hektar atau 0,53% dibandingkan dengan tahun 2024.” sebut Ateng.
Demikian juga untuk peningkatan produktivitas gabah kering giling (GKG), Ateng menyebut terdapat kenaikan angka capaian tersebut dibanding dengan tahun sebelumnya.
“Gabah kering giling GKG-nya rata-rata produktivitas di tahun 2025 diperkirakan mencapai 53,18 kuintal per hektarnya atau mengalami peningkatan sebesar 0,28 kuintal per hektar atau 0,54% jika dibandingkan tahun 2024 yang lalu.” jelasnya.
Hasil amatan Survei Kerangka Sampel Area (KSA) pada Desember 2025 menunjukkan mayoritas lahan pertanian berada pada fase ditanami padi.
Mayoritas lahan berada pada fase standing crop sebesar 47,33%, dengan proyeksi tanaman padi pada fase generatif diperkirakan akan dipanen dengan akumulasi perhitungan dalam satu bulan ke depannya, fase vegetatif akhir dengan akumulasi perhitungan dalam dua bulan, dan fase vegetatif awal dengan akumulasi perhitungan dalam tiga bulan ke depan.
Secara spasial, potensi panen Januari hingga Maret 2026 terkonsentrasi di sejumlah provinsi utama.
Di Pulau Jawa, potensi besar berada di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten.
Di luar Jawa, potensi panen terdapat di Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, serta Nusa Tenggara Barat.
Pada tingkat kabupaten/kota, potensi panen relatif besar di antaranya Cianjur, Sukabumi, Karawang, Tasikmalaya, dan Subang di Jawa Barat; Grobogan, Demak, Cilacap, dan Blora di Jawa Tengah; Bojonegoro dan Lamongan di Jawa Timur; Lebak, Pandeglang, dan Serang di Banten; Banyuasin, Ogan Komering Ilir, OKU Timur, dan Lampung Tengah di Sumatera; serta Sambas di Kalimantan Barat.

