Memasuki Februari 2026, BMKG memprediksi adanya perubahan pola curah hujan.
Mayoritas wilayah masih didominasi curah hujan kategori menengah sebesar 82,21 persen.
Namun, wilayah dengan curah hujan kategori rendah meningkat menjadi 16,25 persen, sementara kategori tinggi dan sangat tinggi menurun signifikan.
Menurut Mentan Amran, perubahan pola ini harus dibaca dengan cermat oleh petani dan pemerintah daerah agar tidak salah langkah dalam pengelolaan lahan.
“Penurunan hujan di beberapa wilayah bukan berarti aman sepenuhnya. Petani tetap harus adaptif, membaca cuaca, dan menyesuaikan strategi tanam di lapangan,” ujarnya.
Ia menekankan, di wilayah dengan curah hujan menengah hingga tinggi, petani perlu memastikan saluran drainase berfungsi baik agar tidak terjadi genangan yang berpotensi merusak tanaman.
Sementara di wilayah yang mulai mengalami penurunan hujan, pengaturan jadwal tanam dan efisiensi penggunaan air menjadi kunci.
“Manajemen air menjadi sangat penting. Jangan sampai ada lahan yang kelebihan atau kekurangan air di saat tanaman sedang membutuhkan,” tambahnya.
Sejalan dengan pernyataan Mentan Amran, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Yudi Sastro menyampaikan perlunya langkah-langkah konkret menghadapi potensi cuaca ekstrem. Salah satunya melalui pemilihan varietas yang sesuai dengan kondisi wilayah.
“Kami mengimbau petani di wilayah rawan banjir menggunakan varietas padi toleran genangan seperti Inpara dan Inpari. Ini penting untuk menekan risiko puso akibat banjir,” kata Yudi.

