Namun ia mengaku, setiap kali melihat pesawat jenis ATR atau Bombardier, ingatannya selalu kembali pada proses audit yang pernah ia jalani di kantor pusat maskapai nasional.
“Sebagai auditor, tiap liat pesawat jenis ATR atau Bombardier, gue selalu keinget ‘dosa masa lalu’ yang pernah terjadi di kantor pusat maskapai kebanggaan kita di Jakarta,” ungkapnya.
Audit Armada dan Dugaan Intervensi Pejabat Puncak
Warganet tersebut mengisahkan bahwa audit investigasi bermula dari kerugian operasional yang dinilai tidak masuk akal, meski maskapai membeli puluhan pesawat baru jenis sub-100 seater dengan alasan konektivitas antarpulau.
“Pesawat-pesawat ini malah bikin boncos. Biaya operasionalnya lebih gede dari pemasukan tiket,” tulisnya.
Ia menyebut adanya kejanggalan dalam Fleet Plan maskapai dan mengklaim menemukan notulensi rapat direksi yang menunjukkan intervensi langsung pejabat puncak.
“Ada intervensi kuat dari Sang Dirut, sebut saja Pak ‘King’. Dia maksa ubah spesifikasi pesawat tanpa alasan teknis yang jelas,” tulisnya.
Dalam utas tersebut, ia juga mengutip ucapan yang disebut berasal dari pejabat tersebut saat dikonfirmasi tim audit.
“Kalian auditor ngerti apa soal aviasi? Ini strategi global competitiveness!,” tulisnya menirukan pernyataan tersebut.
Dugaan Skema Broker, Aliran Dana, dan Dampak Jangka Panjang
Lebih jauh, warganet itu mengklaim adanya keterlibatan broker internasional dalam pengadaan pesawat, dengan skema pembayaran “consulting fee” ke perusahaan cangkang di luar negeri.
“Pabrikan pesawat asing nggak ngirim duit suap langsung. Mereka pake skema ‘Consulting Fee’ ke perusahaan cangkang milik Om S di luar negeri,” terangnya.

