30 C
Makassar
18 January 2026, 16:04 PM WITA

Arab Saudi Pimpin Negara-Negara Teluk Desak Amerika Serikat Urungkan Serangan ke Iran

SulawesiPos.com – Arab Saudi tampil sebagai pemimpin utama negara-negara Teluk dalam upaya diplomatik intensif untuk membujuk Amerika Serikat agar tidak melancarkan serangan militer terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan dan peringatan Washington kepada para sekutu Arabnya untuk bersiap menghadapi kemungkinan serangan terhadap Teheran.

Menurut laporan Wall Street Journal tertanggal 13 Januari, Arab Saudi memimpin lobi regional yang melibatkan negara-negara Teluk Arab, termasuk Qatar dan Oman, dengan menyampaikan pesan langsung kepada Gedung Putih bahwa eskalasi militer terhadap Iran akan berdampak serius pada stabilitas kawasan, pasar energi global, dan pada akhirnya justru merugikan perekonomian Amerika Serikat sendiri.

Sumber-sumber diplomatik menyebutkan bahwa Riyadh bersama Doha dan Muscat secara eksplisit memperingatkan Washington bahwa setiap upaya untuk menjatuhkan sistem pemerintahan Iran berpotensi mengguncang pasar minyak dunia secara tajam mengingat posisi strategis Iran dalam rantai pasok energi global serta peran kawasan Teluk sebagai pusat produksi dan distribusi minyak mentah internasional.

Di tengah tekanan diplomatik tersebut, negara-negara Teluk Arab memilih bersikap hati-hati di ruang publik meskipun gelombang protes terus meluas di berbagai kota Iran dan sejumlah organisasi hak asasi manusia internasional melaporkan ribuan korban jiwa akibat tindakan keras aparat keamanan Iran terhadap demonstran sipil.

Baca Juga: 
Rincian Terbaru Klaim Operasi Penangkapan Maduro: Bagaimana Delta Force Disebut Menjangkau Orang Nomor Satu Venezuela?

Arab Saudi sebagai kekuatan politik dan ekonomi terbesar di Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) memimpin front diplomatik ini bukan semata demi stabilitas regional, tetapi juga karena kekhawatiran mendalam terhadap dampak lanjutan eskalasi militer terhadap keamanan domestik, ketahanan ekonomi, dan kohesi sosial negara-negara Teluk.

Salah satu kekhawatiran utama yang disampaikan kepada Gedung Putih adalah kemungkinan runtuhnya struktur kepemimpinan tertinggi Iran, khususnya jika Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei jatuh atau tersingkir, yang dinilai dapat memicu kekacauan internal, konflik regional berskala luas, serta ketidakpastian geopolitik yang sulit dikendalikan.

Bagi negara-negara Teluk, skenario tersebut tidak hanya mengancam stabilitas Iran, tetapi juga berpotensi memicu efek domino berupa gangguan jalur perdagangan internasional, meningkatnya ketegangan sektarian lintas negara, serta instabilitas sosial dan politik di kawasan Arab yang selama ini tengah berupaya menjaga keseimbangan antara reformasi internal dan keamanan nasional.

Langkah Arab Saudi memimpin inisiatif diplomatik ini mencerminkan pergeseran pendekatan negara-negara Teluk yang semakin menempatkan stabilitas kawasan, keamanan energi global, dan perlindungan terhadap kehidupan sipil sebagai prioritas utama di tengah persaingan geopolitik dunia yang kian tajam.

Baca Juga: 
Penemuan Mumi Macan Tutul Langka di Arab Saudi

Bagi Dunia Islam dan negara-negara Arab, sikap ini dipandang sebagai upaya realistis untuk mencegah perang besar di kawasan mayoritas Muslim yang berpotensi menimbulkan krisis kemanusiaan lintas negara, sekaligus menegaskan peran Arab Saudi sebagai aktor kunci penyeimbang politik dan ekonomi di Timur Tengah pada era ketidakpastian global. (ali)

SulawesiPos.com – Arab Saudi tampil sebagai pemimpin utama negara-negara Teluk dalam upaya diplomatik intensif untuk membujuk Amerika Serikat agar tidak melancarkan serangan militer terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan dan peringatan Washington kepada para sekutu Arabnya untuk bersiap menghadapi kemungkinan serangan terhadap Teheran.

Menurut laporan Wall Street Journal tertanggal 13 Januari, Arab Saudi memimpin lobi regional yang melibatkan negara-negara Teluk Arab, termasuk Qatar dan Oman, dengan menyampaikan pesan langsung kepada Gedung Putih bahwa eskalasi militer terhadap Iran akan berdampak serius pada stabilitas kawasan, pasar energi global, dan pada akhirnya justru merugikan perekonomian Amerika Serikat sendiri.

Sumber-sumber diplomatik menyebutkan bahwa Riyadh bersama Doha dan Muscat secara eksplisit memperingatkan Washington bahwa setiap upaya untuk menjatuhkan sistem pemerintahan Iran berpotensi mengguncang pasar minyak dunia secara tajam mengingat posisi strategis Iran dalam rantai pasok energi global serta peran kawasan Teluk sebagai pusat produksi dan distribusi minyak mentah internasional.

Di tengah tekanan diplomatik tersebut, negara-negara Teluk Arab memilih bersikap hati-hati di ruang publik meskipun gelombang protes terus meluas di berbagai kota Iran dan sejumlah organisasi hak asasi manusia internasional melaporkan ribuan korban jiwa akibat tindakan keras aparat keamanan Iran terhadap demonstran sipil.

Baca Juga: 
Konflik dengan Trump Memanas, Paus Leo XIV Kembali Kecam “Diplomasi Kekuatan” dan “Gairah Perang”

Arab Saudi sebagai kekuatan politik dan ekonomi terbesar di Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) memimpin front diplomatik ini bukan semata demi stabilitas regional, tetapi juga karena kekhawatiran mendalam terhadap dampak lanjutan eskalasi militer terhadap keamanan domestik, ketahanan ekonomi, dan kohesi sosial negara-negara Teluk.

Salah satu kekhawatiran utama yang disampaikan kepada Gedung Putih adalah kemungkinan runtuhnya struktur kepemimpinan tertinggi Iran, khususnya jika Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei jatuh atau tersingkir, yang dinilai dapat memicu kekacauan internal, konflik regional berskala luas, serta ketidakpastian geopolitik yang sulit dikendalikan.

Bagi negara-negara Teluk, skenario tersebut tidak hanya mengancam stabilitas Iran, tetapi juga berpotensi memicu efek domino berupa gangguan jalur perdagangan internasional, meningkatnya ketegangan sektarian lintas negara, serta instabilitas sosial dan politik di kawasan Arab yang selama ini tengah berupaya menjaga keseimbangan antara reformasi internal dan keamanan nasional.

Langkah Arab Saudi memimpin inisiatif diplomatik ini mencerminkan pergeseran pendekatan negara-negara Teluk yang semakin menempatkan stabilitas kawasan, keamanan energi global, dan perlindungan terhadap kehidupan sipil sebagai prioritas utama di tengah persaingan geopolitik dunia yang kian tajam.

Baca Juga: 
Niat Puasa Ramadhan Arab dan Artinya, Lengkap dengan Waktu Membacanya

Bagi Dunia Islam dan negara-negara Arab, sikap ini dipandang sebagai upaya realistis untuk mencegah perang besar di kawasan mayoritas Muslim yang berpotensi menimbulkan krisis kemanusiaan lintas negara, sekaligus menegaskan peran Arab Saudi sebagai aktor kunci penyeimbang politik dan ekonomi di Timur Tengah pada era ketidakpastian global. (ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/