Kualitas Udara Makassar Masih Kategori Tidak Sehat Sabtu Siang Ini

SulawesiPos.com – Kualitas udara di wilayah pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), masuk kategori tidak sehat pada Sabtu (10/10/2026).

Konsentrasi partikel halus PM2.5 tercatat mencapai 80,5 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 11.00 Wita.

Prakirawan BMKG Makassar, Rizky Yudha, membenarkan kondisi tersebut. “Masih kategori tidak sehat,” kata Rizky, Sabtu (10/10/2026).

Berdasarkan klasifikasi BMKG, konsentrasi PM2.5 sebesar 80,5 µg/m³ berada dalam rentang kategori tidak sehat, yakni 55,5–150,4 µg/m³.

Adapun kategori baik berada pada rentang 0–15,5 µg/m³, sedang 15,6–55,4 µg/m³, sangat tidak sehat 150,5–250,4 µg/m³, dan berbahaya di atas 250,5 µg/m³.

PM2.5 merupakan partikel berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Paparan partikel halus dalam konsentrasi tinggi perlu diwaspadai karena berpotensi berdampak pada kesehatan, terutama sistem pernapasan.

Untuk mengurangi paparan, masyarakat disarankan membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

BACA JUGA:  Prakiraan Cuaca Sulsel Hari Ini, Minggu 20 September 2026: Sejumlah Daerah Berkabut

Penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus juga dapat menjadi salah satu langkah perlindungan apabila harus beraktivitas di luar.

Karhutla Berpotensi Memengaruhi Kualitas Udara Sulsel

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu sumber yang dapat menghasilkan partikel halus di udara.

Selain itu, PM2.5 juga dapat berasal dari emisi kendaraan bermotor, kegiatan industri, dan pembakaran bahan bakar.

Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Asriani Idrus, sebelumnya menyampaikan bahwa kualitas udara yang dipantau di Stasiun Klimatologi BMKG Maros selama beberapa hari terakhir berada pada rentang sedang hingga tidak sehat.

“Untuk masalah kualitas udara, kita amati dari beberapa hari terakhir di Staklim (Stasiun Klimatologi BMKG) di Maros terpantau dari batas sedang, hingga tidak sehat,” ujar Asriani di Makassar, Sabtu (3/10/2026).

Asriani menjelaskan, arah angin menjadi salah satu faktor yang menentukan kemungkinan asap karhutla dari daerah lain terbawa masuk ke Sulawesi Selatan.

“Jadi ada dua faktor. Kalau misalnya angin timuran bisa saja asap karhutla dari Papua, Maluku. Sedangkan, kalau tiba-tiba anginnya berubah haluan menjadi dari barat, kemungkinan yang dari (asap karhutla) Kalimantan masuk, karena lebih dekat,” paparnya.

BACA JUGA:  Udara Makassar Tak Sehat, PM2.5 Capai 85,3 dan ISPA Diwaspadai

Meski demikian, data konsentrasi PM2.5 di Maros pada Sabtu siang belum cukup untuk memastikan karhutla sebagai sumber utama polutan yang terukur. Penentuan sumber partikel memerlukan informasi pendukung lainnya.

SulawesiPos.com – Kualitas udara di wilayah pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), masuk kategori tidak sehat pada Sabtu (10/10/2026).

Konsentrasi partikel halus PM2.5 tercatat mencapai 80,5 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 11.00 Wita.

Prakirawan BMKG Makassar, Rizky Yudha, membenarkan kondisi tersebut. “Masih kategori tidak sehat,” kata Rizky, Sabtu (10/10/2026).

Berdasarkan klasifikasi BMKG, konsentrasi PM2.5 sebesar 80,5 µg/m³ berada dalam rentang kategori tidak sehat, yakni 55,5–150,4 µg/m³.

Adapun kategori baik berada pada rentang 0–15,5 µg/m³, sedang 15,6–55,4 µg/m³, sangat tidak sehat 150,5–250,4 µg/m³, dan berbahaya di atas 250,5 µg/m³.

PM2.5 merupakan partikel berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Paparan partikel halus dalam konsentrasi tinggi perlu diwaspadai karena berpotensi berdampak pada kesehatan, terutama sistem pernapasan.

Untuk mengurangi paparan, masyarakat disarankan membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

BACA JUGA:  Udara Makassar Memburuk, BMKG Sebut Asap Karhutla Dibawa Angin

Penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus juga dapat menjadi salah satu langkah perlindungan apabila harus beraktivitas di luar.

Karhutla Berpotensi Memengaruhi Kualitas Udara Sulsel

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu sumber yang dapat menghasilkan partikel halus di udara.

Selain itu, PM2.5 juga dapat berasal dari emisi kendaraan bermotor, kegiatan industri, dan pembakaran bahan bakar.

Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Asriani Idrus, sebelumnya menyampaikan bahwa kualitas udara yang dipantau di Stasiun Klimatologi BMKG Maros selama beberapa hari terakhir berada pada rentang sedang hingga tidak sehat.

“Untuk masalah kualitas udara, kita amati dari beberapa hari terakhir di Staklim (Stasiun Klimatologi BMKG) di Maros terpantau dari batas sedang, hingga tidak sehat,” ujar Asriani di Makassar, Sabtu (3/10/2026).

Asriani menjelaskan, arah angin menjadi salah satu faktor yang menentukan kemungkinan asap karhutla dari daerah lain terbawa masuk ke Sulawesi Selatan.

“Jadi ada dua faktor. Kalau misalnya angin timuran bisa saja asap karhutla dari Papua, Maluku. Sedangkan, kalau tiba-tiba anginnya berubah haluan menjadi dari barat, kemungkinan yang dari (asap karhutla) Kalimantan masuk, karena lebih dekat,” paparnya.

BACA JUGA:  Kabut Asap Kalimantan Tengah Jadi Isu Regional, Malaysia dan Brunei Tempuh Jalur ASEAN

Meski demikian, data konsentrasi PM2.5 di Maros pada Sabtu siang belum cukup untuk memastikan karhutla sebagai sumber utama polutan yang terukur. Penentuan sumber partikel memerlukan informasi pendukung lainnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru