SulawesiPos.com – Jalan Andi Tonro menjadi salah satu ruas yang menghubungkan Jalan Sultan Alauddin dengan Jalan Andi Mappaodang di Kota Makassar.
Berada di kawasan Kecamatan Tamalate, jalan ini menjadi jalur aktivitas warga dan menyimpan nama seorang bangsawan Kerajaan Gowa yang dikenal ikut dalam perjuangan melawan Belanda.
Ruas Jalan Andi Tonro membentang sekitar 1,3 kilometer dan digunakan sebagai jalur satu arah.
Kawasan di sepanjang jalan berkembang menjadi ruang aktivitas masyarakat, dengan pertokoan, minimarket, bengkel, penginapan, fasilitas kesehatan, hingga akses menuju sisi belakang Pasar Pa’baeng-baeng.
Nama Andi Tonro juga digunakan pada sejumlah jalan lingkungan yang bercabang dari ruas utama, mulai Jalan Andi Tonro I hingga Jalan Andi Tonro VI.
Secara administratif, ruas ini berada di wilayah Kecamatan Tamalate. Keberadaan fasilitas publik di sepanjang jalan menunjukkan perannya sebagai jalur penghubung, sekaligus bagian dari kawasan permukiman dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Dari Kampus hingga Puskesmas
Salah satu fasilitas pendidikan yang berada di Jalan Andi Tonro adalah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Pendidikan Ujung Pandang (STIE YPUP) Makassar) di Jalan Andi Tonro Nomor 17.
Data Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mencatat STIE YPUP sebagai perguruan tinggi swasta.
Di ruas yang sama juga terdapat Puskesmas Jongaya di Jalan Andi Tonro Nomor 37. Puskesmas tersebut telah berdiri sejak 1976 dan sejak awal melayani masyarakat di wilayah Pa’baeng-baeng, Jongaya, dan Bongaya.
Banyak orang yang melintas di jalan tersebut mungkin mengetahui sosok yang namanya diabadikan sebagai nama jalan.
Siapa Andi Tonro?
Andi Tonro dikenal dengan nama lengkap Andi Tonro Karaengta Karuwisi. Ia berasal dari kalangan bangsawan Kerajaan Gowa.
Sebutan Karaengta Karuwisi dikaitkan dengan kedudukannya di wilayah Karuwisi, yang disebut setara dengan jabatan camat atau kepala distrik pada masa itu.
Informasi mengenai sosok tersebut juga mencatat bahwa Andi Tonro terlibat dalam perjuangan menentang Belanda dengan bergabung dalam sejumlah kelaskaran perjuangan.
Keterlibatannya dalam perjuangan membuat nama Andi Tonro melekat pada lingkungan bangsawan Gowa dan pada sejarah perlawanan terhadap kolonialisme di Sulawesi Selatan.
Sayangnya, sumber terbuka yang tersedia mengenai Andi Tonro belum banyak menguraikan perjalanan hidupnya secara lengkap.
Data mengenai tahun kelahiran, keluarga, riwayat pendidikan, nama kelaskaran yang diikuti, hingga detail perjuangannya masih terbatas.
Keterbatasan dokumentasi tersebut justru membuat nama Andi Tonro di jalanan Makassar menjadi menarik.
Nama yang setiap hari disebut sebagai penunjuk arah itu ternyata merujuk pada seorang tokoh dari lingkungan bangsawan Gowa yang juga mengambil bagian dalam perjuangan melawan Belanda.
Dalam percakapan sehari-hari, nama Andi Tonro bahkan kerap disingkat menjadi “Anton”. Namun, di balik penyebutan singkat tersebut terdapat nama dan sejarah seorang tokoh yang kemudian diabadikan menjadi salah satu ruas jalan di Makassar.

