SulawesiPos.com – Langit September 2026 bakal dihiasi sejumlah fenomena astronomi menarik. Pergerakan Bulan yang berdekatan dengan Mars dan Jupiter akan mengawali rangkaian tersebut, sebelum perhatian beralih ke okultasi Venus pada 14 September, ekuinoks pada 23 September, hingga Harvest Moon di penghujung bulan.
Bagi pengamat langit, September menjadi salah satu periode yang cukup padat karena sejumlah fenomena dapat diamati dalam rentang waktu berdekatan.
Selain pertemuan Bulan dengan beberapa planet terang, bulan ini juga menghadirkan salah satu penanda penting dalam kalender astronomi, yakni ekuinoks.
Bulan Berpapasan dengan Mars dan Jupiter
Rangkaian fenomena dimulai pada awal September.
Panduan langit September 2026 dari timeanddate mencatat Bulan akan tampak berdekatan dengan Mars pada 6 September.
Dua hari kemudian, pada 8 September, Bulan kembali menjadi perhatian karena berdekatan dengan Jupiter.
Dari lokasi tertentu, peristiwa yang melibatkan Bulan dan Jupiter bahkan dapat berupa okultasi, ketika Bulan tampak melintas di depan objek langit tersebut.
Fenomena itu menjadi pemanasan sebelum peristiwa yang lebih menonjol pada pertengahan bulan.
Okultasi Venus pada 14 September
Salah satu fenomena utama September terjadi pada 14 September 2026, ketika Bulan melintas di depan Venus jika dilihat dari wilayah tertentu di Bumi.
Peristiwa tersebut dikenal sebagai okultasi Venus oleh Bulan.
In-The-Sky.org mencatat jalur keterlihatannya mencakup sebagian wilayah Asia, Afrika, Eropa, dan Rusia barat.
Fenomena ini berlangsung dalam rentang sekitar 09.26 hingga 13.42 UTC, atau sekitar 16.26 hingga 20.42 WIB.
Waktu pengamatan tentu dapat berbeda tergantung lokasi pengamat dan bagian jalur okultasi.
Bagi wilayah yang tidak berada di jalur okultasi, Bulan dan Venus tetap dapat terlihat berdekatan di langit.
Karena Venus merupakan salah satu objek paling terang setelah Matahari dan Bulan, pertemuan keduanya menjadi salah satu pemandangan yang menarik untuk diamati.
Ekuinoks Terjadi 23 September
Setelah fenomena Venus, perhatian astronomi berlanjut pada 23 September 2026 melalui ekuinoks September.
Timeanddate mencatat ekuinoks terjadi pada 00.05 UTC, atau sekitar 08.05 Wita.
Peristiwa ini menandai salah satu titik penting dalam perjalanan tahunan Bumi mengelilingi Matahari.
Pada saat ekuinoks, Matahari berada di sekitar garis khatulistiwa.
Peristiwa tersebut menandai awal musim gugur astronomi di belahan Bumi utara dan musim semi astronomi di belahan Bumi selatan.
BMKG sebelumnya menjelaskan bahwa ekuinoks merupakan fenomena astronomi ketika Matahari melintasi garis khatulistiwa dan terjadi sekitar dua kali dalam setahun.
“Equinox bukan merupakan fenomena seperti gelombang panas atau heat wave yang terjadi di Eropa, Afrika dan Amerika yang merupakan kejadian peningkatan suhu udara ekstrim di luar kebiasaan dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama,” ujar Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono Rahadi Prabowo dalam siaran pers BMKG.
Penjelasan tersebut penting karena ekuinoks kerap dikaitkan secara keliru dengan kenaikan suhu ekstrem. Padahal, ekuinoks merupakan fenomena astronomi yang berkaitan dengan posisi Matahari terhadap Bumi.
Harvest Moon Tutup Rangkaian
Rangkaian fenomena langit September kemudian berlanjut menuju fase Bulan purnama pada akhir bulan.
Harvest Moon mencapai fase purnama pada 26 September 2026 pukul 16.49 UTC. Waktu tersebut setara dengan 23.49 WIB pada 26 September, atau 00.49 Wita dan 01.49 WIT pada 27 September.
Istilah Harvest Moon secara tradisional merujuk pada purnama yang terjadi di sekitar periode panen di belahan Bumi utara.
Nama tersebut memiliki latar belakang budaya dan sejarah, bukan menunjukkan bahwa Bulan berubah menjadi lebih besar secara fisik.
Dari Indonesia, Bulan purnama tetap dapat diamati jika kondisi cuaca dan lokasi memungkinkan.
September Jadi Bulan Padat bagi Pengamat Langit
Dengan rangkaian tersebut, September 2026 menawarkan beberapa kesempatan bagi masyarakat untuk mengamati langit malam maupun peristiwa astronomi yang terjadi sepanjang bulan.
Mulai dari kedekatan Bulan dengan Mars pada 6 September, pertemuannya dengan Jupiter pada 8 September, okultasi Venus pada 14 September, ekuinoks pada 23 September, hingga Harvest Moon pada akhir bulan.
Bagi pengamat di Indonesia, waktu dan keterlihatan setiap fenomena sangat bergantung pada lokasi.
Karena itu, informasi mengenai jalur pengamatan serta kondisi cuaca perlu diperhatikan sebelum melakukan observasi.
September 2026 pun menjadi bulan yang cukup menarik untuk mengikuti dinamika langit, terutama bagi mereka yang ingin mengamati Bulan dan planet terang dari wilayah masing-masing.

