Siapa Miftachul Akhyar, Rais Aam PBNU yang Pernah Setahun Didiamkan Ayahnya

SulawesiPos.com – KH Miftachul Akhyar, yang kembali terpilih sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2026-2031, punya kisah menarik. Ia pernah didiamkan oleh ayahnya selama setahun. Kenapa? Karena ia berhenti mondok pada awal 1970-an.

Kisah itu memperlihatkan disiplin pendidikan pesantren yang membentuk karakter Miftachul Akhyar sejak muda.

Miftachul AKhyar menjadi Rais Aam untuk periode kedua setelah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) menetapkannya secara mufakat dalam sidang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Gedung Serba Guna Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Ahad (30/8/2026) malam.

Terpilihnya Miftachul Akhyar untuk periode kedua langsung menempatkan sosok ulama asal Surabaya itu kembali di pucuk tertinggi kepemimpinan keagamaan NU, saat organisasi tersebut memasuki babak baru setelah rangkaian musyawarah tertutup sembilan anggota AHWA.

Keputusan itu dibacakan anggota AHWA KH Anwar Iskandar di hadapan peserta muktamar.

“Setelah melakukan musyawarah tertutup, anggota Ahlul Halli wal Aqdi secara mufakat memutuskan bahwa nama Kiai Haji Miftachul Akhyar dipilih menjadi Rais Aam Pengurus Besar masa khidmah 2026-2031,” ujar KH Anwar Iskandar.

BACA JUGA:  Ketua Bidang PBNU Aizzudin Diduga jadi Perantara Kasus Korupsi Kuota Haji

AHWA juga menitipkan pesan agar Rais Aam terpilih mengayomi dan merangkul seluruh potensi di tubuh Nahdlatul Ulama untuk bersama-sama merawat organisasi.

Lahir dari Keluarga Pesantren Surabaya

Miftachul Akhyar lahir pada 1 Januari 1953 dan tumbuh di lingkungan pesantren sebagai putra KH Abdul Ghoni, Pengasuh Pesantren Akhlaq Rangkah, Surabaya.

Ia berasal dari keluarga besar santri dan ulama, lalu menempuh pendidikan agama sejak kecil di rumah sebelum berkelana ke sejumlah pesantren besar di Jawa.

Jejak nyantrinya tercatat antara lain di Pesantren Tambak Beras Jombang, Pesantren Sidogiri Pasuruan, Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang, pesantren di Lasem, serta Pesantren Futhuhiyyah Mranggen Demak.

Dalam kisah yang pernah diceritakannya, ia sempat berhenti mondok pada awal 1970-an dan didiamkan ayahnya selama sekitar setahun karena memilih pulang dan tidak melanjutkan pesantren.

Pengalaman itu menjadi salah satu bagian menarik dari perjalanan hidupnya karena memperlihatkan kerasnya disiplin pendidikan pesantren yang membentuk karakter Miftachul Akhyar sejak muda.

BACA JUGA:  Pelaku Penyekapan dan Kekerasan Seksual Mahasiswi di Makassar Ditangkap di Surabaya

Di luar jalur pondok, ia juga pernah mengikuti Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi al-Makki al-Maliki di Malang.

Kini ia dikenal luas sebagai Pengasuh Pesantren Miftachussunnah, Surabaya.

Dari Syuriyah Surabaya ke Puncak PBNU

Di lingkungan organisasi, perjalanan Miftachul Akhyar di NU berlangsung panjang dan bertahap dari level cabang hingga nasional.

Ia pernah menjabat Rais Syuriyah PCNU Surabaya pada 2000-2005.

Sesudah itu, ia memimpin sebagai Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur pada 2007-2013 dan 2013-2018.

Di tingkat pusat, ia menjadi Wakil Rais Aam PBNU pada 2015-2020 lalu didaulat sebagai Pj Rais Aam PBNU pada 2018-2020 untuk mengisi kekosongan jabatan.

Pada Muktamar Ke-34 NU di Lampung, ia terpilih sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2021-2026.

Keterpilihannya kembali di Muktamar Ke-35 NU di Jombang membuatnya memimpin kursi Rais Aam untuk kali kedua berturut-turut.

Di luar NU, Miftachul Akhyar juga pernah terpilih sebagai Ketua Umum MUI pada 2020.

BACA JUGA:  Jelang Muktamar NU 2026, Gus Lilur Ingatkan Jangan Ada Campur Tangan Kekuasaan

Hal lain yang kerap menonjol dari sosoknya adalah rutinitas pengajian kitab Al-Hikam selepas shalat Jumat, selain karakter kepemimpinan yang lama dibentuk oleh tradisi syuriyah dan dunia pesantren.

Dengan latar keluarga ulama, jejak mondok di banyak pesantren, pengalaman panjang di struktur syuriyah, serta amanah dua periode di pucuk Rais Aam, Miftachul Akhyar menjadi salah satu figur sentral dalam perjalanan NU mutakhir.*H

SulawesiPos.com – KH Miftachul Akhyar, yang kembali terpilih sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2026-2031, punya kisah menarik. Ia pernah didiamkan oleh ayahnya selama setahun. Kenapa? Karena ia berhenti mondok pada awal 1970-an.

Kisah itu memperlihatkan disiplin pendidikan pesantren yang membentuk karakter Miftachul Akhyar sejak muda.

Miftachul AKhyar menjadi Rais Aam untuk periode kedua setelah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) menetapkannya secara mufakat dalam sidang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Gedung Serba Guna Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Ahad (30/8/2026) malam.

Terpilihnya Miftachul Akhyar untuk periode kedua langsung menempatkan sosok ulama asal Surabaya itu kembali di pucuk tertinggi kepemimpinan keagamaan NU, saat organisasi tersebut memasuki babak baru setelah rangkaian musyawarah tertutup sembilan anggota AHWA.

Keputusan itu dibacakan anggota AHWA KH Anwar Iskandar di hadapan peserta muktamar.

“Setelah melakukan musyawarah tertutup, anggota Ahlul Halli wal Aqdi secara mufakat memutuskan bahwa nama Kiai Haji Miftachul Akhyar dipilih menjadi Rais Aam Pengurus Besar masa khidmah 2026-2031,” ujar KH Anwar Iskandar.

BACA JUGA:  Curi Uang Rp5.000, Pria di Surabaya Tetap Divonis 4 Bulan Penjara karena Bobol Jok Motor

AHWA juga menitipkan pesan agar Rais Aam terpilih mengayomi dan merangkul seluruh potensi di tubuh Nahdlatul Ulama untuk bersama-sama merawat organisasi.

Lahir dari Keluarga Pesantren Surabaya

Miftachul Akhyar lahir pada 1 Januari 1953 dan tumbuh di lingkungan pesantren sebagai putra KH Abdul Ghoni, Pengasuh Pesantren Akhlaq Rangkah, Surabaya.

Ia berasal dari keluarga besar santri dan ulama, lalu menempuh pendidikan agama sejak kecil di rumah sebelum berkelana ke sejumlah pesantren besar di Jawa.

Jejak nyantrinya tercatat antara lain di Pesantren Tambak Beras Jombang, Pesantren Sidogiri Pasuruan, Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang, pesantren di Lasem, serta Pesantren Futhuhiyyah Mranggen Demak.

Dalam kisah yang pernah diceritakannya, ia sempat berhenti mondok pada awal 1970-an dan didiamkan ayahnya selama sekitar setahun karena memilih pulang dan tidak melanjutkan pesantren.

Pengalaman itu menjadi salah satu bagian menarik dari perjalanan hidupnya karena memperlihatkan kerasnya disiplin pendidikan pesantren yang membentuk karakter Miftachul Akhyar sejak muda.

BACA JUGA:  Bintang Timur Surabaya Cetak Sejarah, Juara Pro Futsal League Empat Musim Beruntun

Di luar jalur pondok, ia juga pernah mengikuti Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi al-Makki al-Maliki di Malang.

Kini ia dikenal luas sebagai Pengasuh Pesantren Miftachussunnah, Surabaya.

Dari Syuriyah Surabaya ke Puncak PBNU

Di lingkungan organisasi, perjalanan Miftachul Akhyar di NU berlangsung panjang dan bertahap dari level cabang hingga nasional.

Ia pernah menjabat Rais Syuriyah PCNU Surabaya pada 2000-2005.

Sesudah itu, ia memimpin sebagai Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur pada 2007-2013 dan 2013-2018.

Di tingkat pusat, ia menjadi Wakil Rais Aam PBNU pada 2015-2020 lalu didaulat sebagai Pj Rais Aam PBNU pada 2018-2020 untuk mengisi kekosongan jabatan.

Pada Muktamar Ke-34 NU di Lampung, ia terpilih sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2021-2026.

Keterpilihannya kembali di Muktamar Ke-35 NU di Jombang membuatnya memimpin kursi Rais Aam untuk kali kedua berturut-turut.

Di luar NU, Miftachul Akhyar juga pernah terpilih sebagai Ketua Umum MUI pada 2020.

BACA JUGA:  KM Mutiara Sentosa 2 Terbakar di Perairan Sumenep, Evakuasi Sekitar 250 Penumpang Masih Berlangsung

Hal lain yang kerap menonjol dari sosoknya adalah rutinitas pengajian kitab Al-Hikam selepas shalat Jumat, selain karakter kepemimpinan yang lama dibentuk oleh tradisi syuriyah dan dunia pesantren.

Dengan latar keluarga ulama, jejak mondok di banyak pesantren, pengalaman panjang di struktur syuriyah, serta amanah dua periode di pucuk Rais Aam, Miftachul Akhyar menjadi salah satu figur sentral dalam perjalanan NU mutakhir.*H

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru