SulawesiPos.com – Nama Jalan Sultan Alauddin menjadi salah satu nama jalan yang begitu familiar bagi masyarakat Makassar. Namun, di balik nama tersebut terdapat sosok penting dalam sejarah Kerajaan Gowa, yakni Sultan Alauddin, Raja Gowa ke-14 yang memerintah pada 1593-1639.
Dikutip dari laman resmi Pemerintah Kota Makassar, penamaan Jalan Sultan Alauddin dilakukan untuk mengenang Sultan Alauddin yang dikenal sebagai raja Gowa pertama yang memeluk Islam dan menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan.
Sultan Alauddin memiliki nama asli I Mangngarangi Daeng Manrabia. Ia kemudian memperoleh gelar Sultan Alauddin setelah memeluk Islam.
Sultan Alauddin, Raja Gowa ke-14
Jurnal Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan karya Syahrir Kila berjudul Perjuangan Sultan Alauddin Raja Gowa ke-14 (1593-1639) menyebut Sultan Alauddin merupakan Raja Gowa ke-14 yang memerintah selama 46 tahun.
Ia merupakan putra Raja Gowa ke-12, Karaeng Bontolangkasa atau Tunijallo, yang memerintah pada 1565-1590. Sultan Alauddin juga merupakan saudara dari Raja Gowa ke-13, Tepukaraeng Daeng Parebbung Tunipasulu.
Saat dinobatkan sebagai Raja Gowa ke-14, Sultan Alauddin masih berusia muda. Pemerintahan untuk sementara dijalankan oleh Raja Tallo ke-6 yang juga menjabat sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa-Tallo, Karaeng Matoaya.
Dalam kajian tersebut, kedudukan Sultan Alauddin ditegaskan sebagai Raja Gowa, sementara Raja Tallo merupakan tokoh yang juga memiliki posisi sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa-Tallo.
Hal ini penting karena istilah Gowa-Tallo kerap membuat penyebutan kedua kerajaan tersebut seolah-olah memiliki satu raja. Padahal, Sultan Alauddin adalah Raja Gowa ke-14, sedangkan Raja Tallo pada masa awal masuknya Islam adalah I Malingkaang Daeng Nyonri atau Daeng Manyonri, yang kemudian bergelar Sultan Abdullah Awwalul Islam.
Raja Gowa Pertama yang Memeluk Islam
Salah satu alasan utama nama Sultan Alauddin kemudian dikenang dalam sejarah Makassar adalah perannya dalam penerimaan Islam di Kerajaan Gowa.
Menurut kajian Syahrir Kila, ketika Sultan Alauddin mulai mengendalikan Kerajaan Gowa, Islam telah mulai berkembang di Sulawesi Selatan. Raja Tallo yang juga menjabat sebagai Mangkubumi menjadi tokoh pertama dari lingkungan kerajaan yang memeluk Islam.
Setelah itu, Raja Gowa ke-14 I Mangngarangi Daeng Manrabia memeluk Islam dan kemudian dikenal dengan nama Sultan Alauddin. Setelah menjadi Muslim, ia turut menyebarkan Islam ke berbagai wilayah kerajaan di Sulawesi Selatan.
Peran ulama bernama Abdul Makmur Khatib Tunggal, yang kemudian dikenal sebagai Datuk ri Bandang, juga disebut sangat penting dalam proses tersebut. Kajian yang sama menyebut Datuk ri Bandang sebagai salah satu ulama yang mengislamkan Raja Gowa dan Raja Tallo.
Ada Perbedaan Catatan Tahun Masuk Islam
Mengenai kapan tepatnya Sultan Alauddin memeluk Islam, bahan yang digunakan dalam kajian ini memuat perbedaan keterangan.
Laman resmi Pemerintah Kota Makassar menyebut Sultan Alauddin resmi memeluk Islam pada 1603, melalui dakwah Datuk ri Bandang.
Sementara itu, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Khairun yang dikutip dalam bahan menyebut Datuk ri Bandang berhasil mengislamkan Raja Gowa ke-14, I Mangngarangi Daeng Manrabia, pada 22 September 1605.
Yang relatif konsisten dalam bahan-bahan tersebut adalah bahwa Sultan Alauddin merupakan Raja Gowa ke-14 dan salah satu tokoh utama dalam proses Islamisasi Kerajaan Gowa.
Islam Menjadi Agama Kerajaan
Pada masa pemerintahan Sultan Alauddin, penerimaan Islam menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Kerajaan Gowa.
Kajian Syahrir Kila menyebut diterimanya Islam sebagai agama kerajaan merupakan salah satu pencapaian penting Sultan Alauddin yang pengaruhnya terus dikenang masyarakat Makassar.
Dalam sumber yang sama disebutkan bahwa penerimaan Islam di Gowa tidak terlepas dari peran tiga ulama atau mubalig dari Kota Tengah, Minangkabau, Sumatera. Salah satunya adalah Abdul Makmur Khatib Tunggal atau Datuk ri Bandang.
Islamisasi tersebut kemudian berkembang ke berbagai wilayah di Sulawesi Selatan. Namun, proses penyebaran Islam juga menghadapi penolakan dari sejumlah kerajaan.
Menurut kajian Syahrir Kila, sebagian penguasa kerajaan yang menolak menganggap aktivitas Kerajaan Gowa bukan semata-mata penyebaran Islam, melainkan juga bagian dari upaya penaklukan. Penolakan tersebut kemudian melahirkan perang yang dikenal sebagai musu selleng atau perang Islam.
Dari Raja Gowa Menjadi Nama Jalan

Sultan Alauddin wafat pada 1639 setelah memerintah Kerajaan Gowa selama sekitar 46 tahun. Ia kemudian digantikan oleh putranya, Sultan Malikussaid, yang menjadi Raja Gowa berikutnya.
Warisan Sultan Alauddin tidak hanya tercatat dalam silsilah kerajaan, tetapi juga dalam sejarah perkembangan Islam di Sulawesi Selatan.
Karena itu, ketika masyarakat Makassar melintas di Jalan Sultan Alauddin, nama tersebut bukan sekadar nama jalan.
Nama itu merujuk kepada I Mangngarangi Daeng Manrabia, Raja Gowa ke-14 yang bergelar Sultan Alauddin, sosok yang memiliki peran penting dalam menjadikan Islam sebagai bagian penting dari sejarah Kerajaan Gowa.
Dengan demikian, Jalan Sultan Alauddin menjadi salah satu pengingat bahwa ruang kota Makassar juga menyimpan jejak sejarah panjang Kerajaan Gowa dan tokoh-tokoh yang membentuk perjalanan masyarakat Sulawesi Selatan.

