Perlawanan yang dipimpinnya membuat pasukan Belanda menghadapi tekanan kuat di wilayah Enrekang hingga akhirnya terjadi pengepungan dan pertempuran sengit pada awal 1947.
Dalam peristiwa itu, Kapten Andi Abubakar Lambogo gugur pada 13 Maret 1947 setelah ditembak tentara Belanda.
Sejumlah sumber sejarah juga menyebut kisah akhir perjuangannya berlangsung tragis karena setelah gugur kepalanya dipenggal dan dipertontonkan untuk menebar ketakutan kepada masyarakat.
Namun, kisah itu justru menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat tentang pengorbanannya dalam mempertahankan kemerdekaan.
Dari Nama Pejuang Menjadi Jalan Ablam
Untuk mengenang jasa dan perjuangannya, nama Abu Bakar Lambogo kemudian diabadikan sebagai Jalan Abu Bakar Lambogo di Kota Makassar.
Dalam percakapan sehari-hari, masyarakat lebih akrab menyebut ruas itu sebagai Jalan Ablam.
Kini kawasan Jalan Abu Bakar Lambogo berkembang sebagai kawasan permukiman sekaligus pusat aktivitas ekonomi warga, dengan deretan usaha dan warung kopi yang ramai di sepanjang jalan.
Di tengah kesibukan itu, nama Ablam sesungguhnya menyimpan sejarah panjang tentang seorang putra Enrekang yang gugur dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Nama jalan tersebut pada akhirnya bukan sekadar penunjuk lokasi, tetapi juga pengingat bahwa ada jejak pengorbanan seorang pejuang di balik ruas yang setiap hari dilalui warga Makassar.

