Boeing 737 yang Hilang Kontak di Pakistan Berusia 27 Tahun, Ini Riwayat Pesawatnya

SulawesiPos.com – Pesawat kargo Boeing 737 yang hilang kontak di lepas pantai Karachi, Pakistan, ternyata telah berusia 27 tahun dan memiliki riwayat operasional yang panjang sebelum akhirnya mengalami insiden saat terbang dari Sharjah, Uni Emirat Arab, menuju Karachi, Selasa (7/7/2026).

Berdasarkan data Flightradar24, pesawat jenis Boeing 737-400 tersebut pertama kali dikirim sebagai pesawat penumpang kepada maskapai Rusia Aeroflot pada 1999. Setelah lebih dari satu dekade beroperasi, pesawat itu kemudian dikonversi menjadi pesawat kargo pada 2012.

Pesawat tersebut merupakan bagian dari keluarga Boeing 737 generasi lama, dua generasi lebih tua dibandingkan varian Boeing 737 MAX yang sempat menjadi sorotan dunia akibat krisis keselamatan penerbangan beberapa tahun lalu.

Boeing 737-400 itu menggunakan mesin buatan CFM International, perusahaan patungan antara GE Aerospace asal Amerika Serikat dan Safran dari Prancis.

Sejak 2024, pesawat tersebut dioperasikan oleh K2 Airways dan menjadi satu-satunya armada yang dimiliki maskapai kargo swasta yang berbasis di Karachi tersebut.

BACA JUGA:  Kecelakaan ATR 42-500 di Maros, Spesialis dari Pabrikan Pesawat Dikerahkan

Sebelum penerbangan terakhirnya menuju Karachi, pesawat tercatat belum kembali mengudara sejak 28 Juni 2026.

Hilang Kontak Usai Lapor Gangguan Navigasi

Menurut Otoritas Bandara Pakistan (Pakistan Airports Authority/PAA), pesawat melaporkan adanya gangguan pada sistem navigasi sekitar pukul 21.18 waktu setempat saat dalam perjalanan menuju Karachi.

Pengatur lalu lintas udara (ATC) sempat memberikan panduan kepada awak pesawat. Namun, hanya tiga menit kemudian radar menunjukkan pesawat mengalami penurunan ketinggian secara cepat dan seluruh komunikasi terputus.

Data awal Flightradar24 memperlihatkan pesawat mengalami perubahan ketinggian yang tidak biasa. Boeing 737 itu sempat turun sekitar 5.000 kaki dalam waktu kurang dari satu menit, kemudian kembali naik sekitar 6.000 kaki hanya dalam 30 detik sebelum akhirnya memasuki fase penurunan ekstrem.

Titik data terakhir menunjukkan pesawat berada di ketinggian sekitar 1.100 kaki di atas permukaan laut dengan laju penurunan mencapai minus 22.400 kaki per menit atau sekitar 400 kilometer per jam. Pesawat diduga jatuh ke laut di sebelah barat daya Karachi.

BACA JUGA:  Badan Pesawat ATR 42-500 Ditemukan di Puncak Bulusaraung, Evakuasi Terkendala Cuaca Buruk

Pakar Minta Publik Tak Buru-buru Simpulkan Penyebab Insiden

Menanggapi data tersebut, konsultan keselamatan penerbangan Anthony Brickhouse meminta publik tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab insiden.

“Kapanpun Anda melihat sesuatu yang seekstrem itu, tentu hal tersebut langsung menarik perhatian. Namun masih terlalu dini untuk menyimpulkan apa artinya sebelum tersedia informasi yang lebih lengkap,” kata konsultan keselamatan penerbangan Anthony Brickhouse.

Sementara itu, K2 Airways memastikan terus bekerja sama dengan Otoritas Penerbangan Sipil Pakistan dan instansi pemerintah lainnya dalam proses penanganan insiden.

“Kami terus memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh demi keselamatan rekan-rekan kami,” tulis operator pesawat itu melalui akun Facebook resminya.

Hingga berita ini ditulis, otoritas Pakistan masih melakukan operasi pencarian dan penyelamatan terhadap lima awak pesawat yang berada di dalam Boeing 737 tersebut.

SulawesiPos.com – Pesawat kargo Boeing 737 yang hilang kontak di lepas pantai Karachi, Pakistan, ternyata telah berusia 27 tahun dan memiliki riwayat operasional yang panjang sebelum akhirnya mengalami insiden saat terbang dari Sharjah, Uni Emirat Arab, menuju Karachi, Selasa (7/7/2026).

Berdasarkan data Flightradar24, pesawat jenis Boeing 737-400 tersebut pertama kali dikirim sebagai pesawat penumpang kepada maskapai Rusia Aeroflot pada 1999. Setelah lebih dari satu dekade beroperasi, pesawat itu kemudian dikonversi menjadi pesawat kargo pada 2012.

Pesawat tersebut merupakan bagian dari keluarga Boeing 737 generasi lama, dua generasi lebih tua dibandingkan varian Boeing 737 MAX yang sempat menjadi sorotan dunia akibat krisis keselamatan penerbangan beberapa tahun lalu.

Boeing 737-400 itu menggunakan mesin buatan CFM International, perusahaan patungan antara GE Aerospace asal Amerika Serikat dan Safran dari Prancis.

Sejak 2024, pesawat tersebut dioperasikan oleh K2 Airways dan menjadi satu-satunya armada yang dimiliki maskapai kargo swasta yang berbasis di Karachi tersebut.

BACA JUGA:  Hari Ketujuh Operasi SAR, Seluruh Korban Pesawat ATR di Bulusaraung Akhirnya Ditemukan

Sebelum penerbangan terakhirnya menuju Karachi, pesawat tercatat belum kembali mengudara sejak 28 Juni 2026.

Hilang Kontak Usai Lapor Gangguan Navigasi

Menurut Otoritas Bandara Pakistan (Pakistan Airports Authority/PAA), pesawat melaporkan adanya gangguan pada sistem navigasi sekitar pukul 21.18 waktu setempat saat dalam perjalanan menuju Karachi.

Pengatur lalu lintas udara (ATC) sempat memberikan panduan kepada awak pesawat. Namun, hanya tiga menit kemudian radar menunjukkan pesawat mengalami penurunan ketinggian secara cepat dan seluruh komunikasi terputus.

Data awal Flightradar24 memperlihatkan pesawat mengalami perubahan ketinggian yang tidak biasa. Boeing 737 itu sempat turun sekitar 5.000 kaki dalam waktu kurang dari satu menit, kemudian kembali naik sekitar 6.000 kaki hanya dalam 30 detik sebelum akhirnya memasuki fase penurunan ekstrem.

Titik data terakhir menunjukkan pesawat berada di ketinggian sekitar 1.100 kaki di atas permukaan laut dengan laju penurunan mencapai minus 22.400 kaki per menit atau sekitar 400 kilometer per jam. Pesawat diduga jatuh ke laut di sebelah barat daya Karachi.

BACA JUGA:  Menit-menit Terakhir Boeing 737 Pakistan: Turun 5.000 Kaki, Naik Lagi, Lalu Jatuh Drastis

Pakar Minta Publik Tak Buru-buru Simpulkan Penyebab Insiden

Menanggapi data tersebut, konsultan keselamatan penerbangan Anthony Brickhouse meminta publik tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab insiden.

“Kapanpun Anda melihat sesuatu yang seekstrem itu, tentu hal tersebut langsung menarik perhatian. Namun masih terlalu dini untuk menyimpulkan apa artinya sebelum tersedia informasi yang lebih lengkap,” kata konsultan keselamatan penerbangan Anthony Brickhouse.

Sementara itu, K2 Airways memastikan terus bekerja sama dengan Otoritas Penerbangan Sipil Pakistan dan instansi pemerintah lainnya dalam proses penanganan insiden.

“Kami terus memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh demi keselamatan rekan-rekan kami,” tulis operator pesawat itu melalui akun Facebook resminya.

Hingga berita ini ditulis, otoritas Pakistan masih melakukan operasi pencarian dan penyelamatan terhadap lima awak pesawat yang berada di dalam Boeing 737 tersebut.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru