SulawesiPos.com – Seorang remaja perempuan berinisial LR (16) di Makassar, Sulawesi Selatan, diduga merekayasa penculikan dan penyekapan terhadap dirinya sendiri hingga keluarganya sempat menerima pesan suara berisi tangisan serta permintaan uang tebusan Rp 5 juta. Polisi memastikan cerita penculikan itu tidak benar setelah korban ditemukan di sebuah wisma di Kecamatan Panakkukang.
Kasus ini bermula setelah LR meninggalkan rumahnya di wilayah Kecamatan Manggala, Makassar, pada Minggu (28/6/2026) malam. Kondisi itu membuat pihak keluarga panik, apalagi setelah muncul pesan singkat dari seseorang yang menyebut korban telah diculik.
Kapolsek Manggala Kompol Samuel To’longan mengatakan keluarga awalnya tidak mengetahui keberadaan LR setelah remaja itu menitipkan kunci rumah kepada tantenya. Situasi itu kemudian berkembang menjadi dugaan penculikan usai keluarga menerima pesan dan voice note.
“Anak ini meninggalkan rumah dan menitipkan kunci kepada tantenya. Karena tidak pulang-pulang, tantenya gelisah,” ujar Samuel kepada wartawan, Senin (29/6/2026).
Kepanikan keluarga bertambah ketika voice note yang diterima berisi suara tangisan dan narasi seolah-olah korban sedang disekap. Dari komunikasi itu juga muncul permintaan uang tebusan dalam jumlah jutaan rupiah.
“Ada masuk chat bahwa anak itu dia diculik ditambah lagi adanya pesan suara voice note itu dia menangis-nangis. Si penculik ini minta tebusan uang Rp 5 juta rupiah,” kata Samuel.
Korban Ditemukan di Wisma, Penculikan Dipastikan Tidak Terjadi
Keluarga lalu melapor melalui layanan call center 110 Polri. Laporan itu ditindaklanjuti personel Polsek Manggala bersama Polda Sulsel yang kemudian bergerak mencari keberadaan korban.
Polisi akhirnya menemukan LR di sebuah kamar wisma yang disebut Samuel sebagai Hotel Topaz di sekitar Kecamatan Panakkukang pada Senin dini hari. Temuan itu menjadi titik awal terbongkarnya dugaan rekayasa kasus tersebut.
“Setelah menerima laporan melalui 110, anggota melakukan penyelidikan dan korban berhasil ditemukan di Hotel Topaz,” terang Samuel.
Setelah diperiksa, LR disebut mengakui bahwa dirinya tidak pernah menjadi korban penculikan. Ia justru membuat cerita seolah-olah dirinya diculik dan disekap untuk meyakinkan keluarganya.
“Dari hasil interogasi, dia mengaku berbohong. Jadi dia tidak diculik, tetapi merekayasa seolah-olah dirinya menjadi korban penculikan,” ungkap Samuel.
Polisi Dalami Motif Rekayasa Tebusan
Dari keterangan awal, uang tebusan Rp 5 juta yang diminta kepada keluarga disebut bukan untuk diserahkan kepada pelaku penculikan, melainkan bagian dari rencana LR sendiri. Polisi menyebut uang itu hendak dipakai untuk melarikan diri.
Samuel mengatakan remaja tersebut masih berstatus pelajar dan belum memiliki pekerjaan. Karena itu, uang tebusan itu diduga menjadi cara yang dipilih LR untuk membiayai pelariannya.
“Rencananya uang itu akan dipakai untuk melarikan diri karena dia masih di bawah umur dan belum memiliki pekerjaan,” kata Samuel.
Kasus ini tidak hanya menyorot kepanikan keluarga akibat pesan palsu yang diterima, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sebuah rekayasa bisa menyeret aparat bergerak cepat karena dugaan penculikan dianggap sebagai keadaan darurat.


