Bangkit dari Keterpurukan: Kisah Haji Edy Merajut Asa Lewat Jaringan Warkop di Makassar

SulawesiPos.com – Budaya nongkrong warga Makassar tidak jauh dari warung kopi. Hampir di tiap sudut jalan strategis di Kota Makassar selalu ada warung kopi (Warkop) yang ramai dipadati pengunjung.

Selain coffeeshop moderen waralaba, beberapa di antaranya warung kopi tradisional yang dimiliki oleh warga asli Makassar.

Seperti Warkop Haji Edy yang mereknya sama dengan pemiliknya, Edy Suryadi (42), yang saat ini memiliki 3 cabang warkop di Makassar: Jalan Veteran Ujung Pabaeng-baeng, Jalan Urip Sumoharjo, dan Jalan Dr Ratulangi.

Meski belum selegendaris Warkop Phoenam atau Warkop Daeng Anas, Warkop Haji Edy juga memiliki citarasa kopi yang khas yang membuat warkop ini ramai sejak pagi hingga larut malam.

Pengunjungnya pun dari berbagai kalangan, dari orang biasa hingga kalangan pejabat di Makassar.

Walau baru berumur 2 tahun, warkop ini sudah bersaing dengan warkop-warkop yang sudah lama eksis di Makassar. Harga kopi dan kue-kuenya juga bersaing dan ramah di kantong untuk ukuran warga biasa.

Haji Edy, sang perintis warkop ini, sebelumnya pernah terpuruk saat otoritas keamanan Arab Saudi menahannya di Madinah antara tahun 2023 hingga 2024, karena kasus pemberangkatan jemaah haji illegal.

Pengalaman ini menjadi titik terendah dalam hidupnya. Namun, bagi pria dengan mental pengusaha ini, keterpurukan bukanlah akhir, melainkan ancang-ancang untuk melompat lebih jauh.

Hanya dua bulan setelah menghirup udara bebas dan kembali ke tanah air pada awal 2024, Edy langsung bergerak. Alih-alih meratapi nasib, ia memutuskan untuk merintis lini bisnis baru yang kini mengabadikan namanya sendiri.

Sebetulnya, Edy bukan orang baru di bisnis kopi. Sejak 2021, ia telah mengelola Warkop Pelita di Jalan Pelita Raya bersama dua rekannya.

Namun, sepulang dari Madinah pada Februari 2024, ia merasa perlu melakukan ekspansi mandiri demi menuntaskan tanggung jawab dengan mengembalikan sisa uang jemaahnya.

“Sepulang dari tanah suci, saya merasa harus buka cabang karena punya beban bulanan di bank. Kalau tidak buka cabang, pasti kewalahan membayar di bank,” ungkap Edy saat ditemui Sulawesi Pos, di warkopnya, Jalan Ratulangi, Senin (4/5/2026).

Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab menggunakan dana pinjaman dari sisa pengembalian uang jemaah serta dukungan modal bank.

Kepercayaan bank yang terjaga tanpa catatan merah selama bertahun-tahun karena sejarah pembayaran yang lancar menjadi modal utamanya untuk bangkit kembali.

Kecepatan ekspansinya tergolong fenomenal. Dimulai pada Februari 2024 dengan membuka warkop pertama atas nama Haji Edy, ia kemudian membuka cabang di Jalan Urip Sumohardjo sebelas bulan setelahnya. T

ak butuh waktu lama, hanya berselang masing-masing dua bulan, ia kembali merambah Jalan Dr. Ratulangi, jalan protokol kelas 1 di Makassar. Hingga akhirnya mengambil alih bekas Warkop Rally di kompleks Ruko Ramayana, Jalan AP Pettarani, yang akan di-launching 2 bulan ke depan.

“Saya mengelola empat titik warkop secara bersamaan dengan mengandalkan sistem kepercayaan penuh kepada para seluruh tim saya,” ujar Edy.

Mentalitas tangguh Edy sendiri terbentuk dari perjalanan panjang di dunia pemasaran. Sebelum menjadi pemilik showroom mobil bekas, ia sempat mencicipi kerasnya dunia kerja sebagai sales motor dan perusahaan pembiayaan kredit.

Bisnis jual beli mobil yang ia geluti sejak 2011 bahkan bermula dari aktivitasnya saat sering nongkrong di warkop.

Interaksinya dengan dunia warkop sudah mendarah daging sejak tahun 2003. Saat masih duduk di bangku SMA, Edy sering bolos menghabiskan waktu di Warkop Dottoro, di Jalan Tinumbu.

Kebiasaan nongkrong yang berlanjut hingga masa kuliah di Warkop Dottoro Jl Lanto Daeng Pasewang itu justru menanamkan impian besar dalam dirinya sejak 20 tahun lalu.

Kini, Haji Edy Suryadi membuktikan bahwa kegagalan di satu sektor tidak menutup pintu rezeki di sektor lain, merajut kembali martabatnya melalui cangkir-cangkir kopi yang ia sajikan. (mn abdurrahman)

SulawesiPos.com – Budaya nongkrong warga Makassar tidak jauh dari warung kopi. Hampir di tiap sudut jalan strategis di Kota Makassar selalu ada warung kopi (Warkop) yang ramai dipadati pengunjung.

Selain coffeeshop moderen waralaba, beberapa di antaranya warung kopi tradisional yang dimiliki oleh warga asli Makassar.

Seperti Warkop Haji Edy yang mereknya sama dengan pemiliknya, Edy Suryadi (42), yang saat ini memiliki 3 cabang warkop di Makassar: Jalan Veteran Ujung Pabaeng-baeng, Jalan Urip Sumoharjo, dan Jalan Dr Ratulangi.

Meski belum selegendaris Warkop Phoenam atau Warkop Daeng Anas, Warkop Haji Edy juga memiliki citarasa kopi yang khas yang membuat warkop ini ramai sejak pagi hingga larut malam.

Pengunjungnya pun dari berbagai kalangan, dari orang biasa hingga kalangan pejabat di Makassar.

Walau baru berumur 2 tahun, warkop ini sudah bersaing dengan warkop-warkop yang sudah lama eksis di Makassar. Harga kopi dan kue-kuenya juga bersaing dan ramah di kantong untuk ukuran warga biasa.

Haji Edy, sang perintis warkop ini, sebelumnya pernah terpuruk saat otoritas keamanan Arab Saudi menahannya di Madinah antara tahun 2023 hingga 2024, karena kasus pemberangkatan jemaah haji illegal.

Pengalaman ini menjadi titik terendah dalam hidupnya. Namun, bagi pria dengan mental pengusaha ini, keterpurukan bukanlah akhir, melainkan ancang-ancang untuk melompat lebih jauh.

Hanya dua bulan setelah menghirup udara bebas dan kembali ke tanah air pada awal 2024, Edy langsung bergerak. Alih-alih meratapi nasib, ia memutuskan untuk merintis lini bisnis baru yang kini mengabadikan namanya sendiri.

Sebetulnya, Edy bukan orang baru di bisnis kopi. Sejak 2021, ia telah mengelola Warkop Pelita di Jalan Pelita Raya bersama dua rekannya.

Namun, sepulang dari Madinah pada Februari 2024, ia merasa perlu melakukan ekspansi mandiri demi menuntaskan tanggung jawab dengan mengembalikan sisa uang jemaahnya.

“Sepulang dari tanah suci, saya merasa harus buka cabang karena punya beban bulanan di bank. Kalau tidak buka cabang, pasti kewalahan membayar di bank,” ungkap Edy saat ditemui Sulawesi Pos, di warkopnya, Jalan Ratulangi, Senin (4/5/2026).

Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab menggunakan dana pinjaman dari sisa pengembalian uang jemaah serta dukungan modal bank.

Kepercayaan bank yang terjaga tanpa catatan merah selama bertahun-tahun karena sejarah pembayaran yang lancar menjadi modal utamanya untuk bangkit kembali.

Kecepatan ekspansinya tergolong fenomenal. Dimulai pada Februari 2024 dengan membuka warkop pertama atas nama Haji Edy, ia kemudian membuka cabang di Jalan Urip Sumohardjo sebelas bulan setelahnya. T

ak butuh waktu lama, hanya berselang masing-masing dua bulan, ia kembali merambah Jalan Dr. Ratulangi, jalan protokol kelas 1 di Makassar. Hingga akhirnya mengambil alih bekas Warkop Rally di kompleks Ruko Ramayana, Jalan AP Pettarani, yang akan di-launching 2 bulan ke depan.

“Saya mengelola empat titik warkop secara bersamaan dengan mengandalkan sistem kepercayaan penuh kepada para seluruh tim saya,” ujar Edy.

Mentalitas tangguh Edy sendiri terbentuk dari perjalanan panjang di dunia pemasaran. Sebelum menjadi pemilik showroom mobil bekas, ia sempat mencicipi kerasnya dunia kerja sebagai sales motor dan perusahaan pembiayaan kredit.

Bisnis jual beli mobil yang ia geluti sejak 2011 bahkan bermula dari aktivitasnya saat sering nongkrong di warkop.

Interaksinya dengan dunia warkop sudah mendarah daging sejak tahun 2003. Saat masih duduk di bangku SMA, Edy sering bolos menghabiskan waktu di Warkop Dottoro, di Jalan Tinumbu.

Kebiasaan nongkrong yang berlanjut hingga masa kuliah di Warkop Dottoro Jl Lanto Daeng Pasewang itu justru menanamkan impian besar dalam dirinya sejak 20 tahun lalu.

Kini, Haji Edy Suryadi membuktikan bahwa kegagalan di satu sektor tidak menutup pintu rezeki di sektor lain, merajut kembali martabatnya melalui cangkir-cangkir kopi yang ia sajikan. (mn abdurrahman)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru