SulawesiPos.com – Penerapan pembatasan gawai di sekolah tidak hanya bergantung pada aturan, tetapi juga pada proses sosialisasi yang matang kepada siswa dan orang tua.
Hal ini yang dilakukan SMAN 11 Makassar dalam menjalankan kebijakan tersebut.
Kepala SMAN 11 Makassar, Yuliana, S.Pd., M.Hum., mengungkapkan bahwa sebelum aturan diterapkan, pihak sekolah terlebih dahulu menggelar pertemuan khusus untuk memberikan pemahaman kepada siswa.
Sosialisasi dilakukan secara bertahap dengan membagi sesi berdasarkan jenjang kelas, mulai dari kelas XII, XI, hingga X.
Dalam pertemuan tersebut, siswa diberikan penjelasan mengenai alasan pembatasan gawai serta mekanisme penerapannya di sekolah.
“Jadi sebelumnya sudah ada pertemuan untuk memberitahu anak-anak terkait peraturan ini,” ungkapnya kepada SulawesiPos.com, Rabu (1/4/2026).
Tak hanya siswa, pihak sekolah juga melibatkan orang tua dalam proses sosialisasi.
Melalui pertemuan yang difasilitasi oleh bagian humas, sekolah menjelaskan aturan pembatasan gawai sekaligus meminta dukungan dari wali siswa.
“Setelah adanya edaran, kami sampaikan ke humas untuk mengadakan pertemuan dengan orang tua dan wali siswa,” lanjutnya.
Orang Tua Beri Dukungan Penuh
Respons dari orang tua siswa terbilang sangat positif. Mereka mendukung kebijakan pembatasan gawai karena dinilai membantu mengontrol penggunaan ponsel anak selama berada di sekolah.
Menurut Yuliana, orang tua melihat kebijakan ini sebagai langkah yang tepat untuk mengurangi distraksi belajar dan membentuk kedisiplinan siswa.
“Orang tua sangat respons, sangat mendukung, sangat setuju,” ungkapnya.
Siswa Sempat Keberatan, Kini Mulai Terbiasa
Berbeda dengan orang tua, respons awal dari siswa cenderung beragam. Sebagian besar sempat merasa keberatan karena harus membatasi penggunaan gawai yang sudah menjadi bagian dari keseharian mereka.
“Awalnya, anak-anak itu kayak merasa ada yang hilang, protes, menanyakan kenapa begini, kenapa begini,” kata Yuliana meniru gaya protes siswa.
Namun, setelah diberikan pemahaman dan melalui proses adaptasi, siswa mulai menerima bahkan terbiasa dengan aturan tersebut.
Kini, tanpa harus diingatkan, siswa secara mandiri mengumpulkan gawai mereka saat jam pertama dimulai sebagai bagian dari rutinitas sekolah.
“Sekarang, karena sudah terbiasa, begitu masuk jam pertama, anak-anak sudah inisiatif mengumpulkan,” ucapnya dengan bangga.
Bangun Disiplin dan Tanggung Jawab
Selain mengurangi distraksi, kebijakan ini juga dinilai mampu menanamkan nilai kejujuran dan tanggung jawab kepada siswa.
“Maka saya bilang kepada anak-anak, suatu ketika nanti kamu akan dapat manfaatnya,” sambungnya.
Sekolah menekankan pentingnya kepatuhan terhadap aturan, termasuk dalam hal mengumpulkan gawai sesuai ketentuan.
Jika terjadi pelanggaran, seperti menyembunyikan perangkat, maka akan dikenakan sanksi dan melibatkan orang tua.

