30 C
Makassar
5 March 2026, 12:08 PM WITA

Peneliti Nilai Serangan AS ke Iran Bukan Sekadar Kebebasan, Diduga Targetkan Perubahan Rezim

SulawesiPos.com – Alasan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerang Iran dengan dalih menghadirkan kebebasan bagi rakyatnya menuai sorotan dari sejumlah analis internasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump beberapa jam setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu dini hari akhir pekan lalu.

Peneliti senior di Stimson Center, Kelly Grieco, menilai retorika tersebut kemungkinan hanya menjadi pembenaran politik.

Menurutnya, tujuan utama serangan tersebut diduga untuk melemahkan atau bahkan meruntuhkan rezim politik Iran yang saat ini berkuasa.

Meski demikian, Grieco menilai perubahan rezim secara menyeluruh akan sangat sulit diwujudkan hanya melalui serangan udara tanpa melibatkan operasi militer darat.

“Tampaknya AS tidak bersedia membayar ‘biaya’ tertentu untuk mencapai perubahan rezim. Jadi mungkin ada tujuan-tujuan sekunder yang dianggap cukup jika target utama tidak bisa dicapai hanya dengan kekuatan udara,” ujar Grieco dikutip dari Al Jazeera.

Setelah gelombang awal serangan gabungan AS dan Israel, Trump juga menyampaikan pesan langsung kepada masyarakat Iran.

Ia menyebut momentum tersebut sebagai kesempatan bagi rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka sendiri.

“Ketika kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda (warga Iran-red). Itu akan menjadi milik Anda,” katanya, memberi kesan bahwa AS akan menjatuhkan rezim yang berkuasa di Teheran.

Pandangan serupa juga disampaikan peneliti dari Center for International Policy, Matthew Duss.

Ia menegaskan bahwa kekuatan udara saja tidak cukup untuk menjatuhkan sistem pemerintahan suatu negara.

“Anda bisa merusak gedung, Anda bisa melemahkan rezim, tetapi tidak ada contoh di mana kekuatan udara saja berhasil menghasilkan perubahan rezim,” kata Duss.

Ia kemudian menyinggung operasi militer North Atlantic Treaty Organization di Libya pada 2011 yang berhasil menggulingkan pemimpin Libya saat itu, Muammar Gaddafi.

Menurutnya, keberhasilan tersebut terjadi karena adanya dukungan pemberontak lokal yang melakukan serangan darat.

Dukungan Publik AS Rendah

Walaupun Trump dan sejumlah pejabat Amerika menyerukan rakyat Iran untuk bangkit melawan pemerintahnya, hingga kini belum terlihat kekuatan internal yang cukup signifikan di Iran untuk menggulingkan sistem Republik Islam.

Opsi pengerahan pasukan darat oleh Amerika Serikat juga belum sepenuhnya ditutup. Namun langkah tersebut dinilai berisiko tinggi bagi militer AS dan bertentangan dengan preferensi Trump yang selama ini lebih memilih operasi militer cepat dengan keterlibatan terbatas.

“Perang ini sudah tidak populer, bahkan tanpa satu pun tentara AS yang dikerahkan ke Iran,” ujar Duss.

Berdasarkan survei terbaru yang dirilis Reuters, hanya sekitar seperempat warga Amerika Serikat yang mendukung konflik militer tersebut.

Duss membandingkan situasi ini dengan invasi AS ke Irak pada 2003 yang kala itu mendapat dukungan lebih dari 55 persen masyarakat Amerika.

“Saya membayangkan jika perang ini berlanjut, apalagi jika pasukan darat dikerahkan, dukungan akan semakin turun,” tambahnya.

SulawesiPos.com – Alasan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerang Iran dengan dalih menghadirkan kebebasan bagi rakyatnya menuai sorotan dari sejumlah analis internasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump beberapa jam setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu dini hari akhir pekan lalu.

Peneliti senior di Stimson Center, Kelly Grieco, menilai retorika tersebut kemungkinan hanya menjadi pembenaran politik.

Menurutnya, tujuan utama serangan tersebut diduga untuk melemahkan atau bahkan meruntuhkan rezim politik Iran yang saat ini berkuasa.

Meski demikian, Grieco menilai perubahan rezim secara menyeluruh akan sangat sulit diwujudkan hanya melalui serangan udara tanpa melibatkan operasi militer darat.

“Tampaknya AS tidak bersedia membayar ‘biaya’ tertentu untuk mencapai perubahan rezim. Jadi mungkin ada tujuan-tujuan sekunder yang dianggap cukup jika target utama tidak bisa dicapai hanya dengan kekuatan udara,” ujar Grieco dikutip dari Al Jazeera.

Setelah gelombang awal serangan gabungan AS dan Israel, Trump juga menyampaikan pesan langsung kepada masyarakat Iran.

Ia menyebut momentum tersebut sebagai kesempatan bagi rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka sendiri.

“Ketika kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda (warga Iran-red). Itu akan menjadi milik Anda,” katanya, memberi kesan bahwa AS akan menjatuhkan rezim yang berkuasa di Teheran.

Pandangan serupa juga disampaikan peneliti dari Center for International Policy, Matthew Duss.

Ia menegaskan bahwa kekuatan udara saja tidak cukup untuk menjatuhkan sistem pemerintahan suatu negara.

“Anda bisa merusak gedung, Anda bisa melemahkan rezim, tetapi tidak ada contoh di mana kekuatan udara saja berhasil menghasilkan perubahan rezim,” kata Duss.

Ia kemudian menyinggung operasi militer North Atlantic Treaty Organization di Libya pada 2011 yang berhasil menggulingkan pemimpin Libya saat itu, Muammar Gaddafi.

Menurutnya, keberhasilan tersebut terjadi karena adanya dukungan pemberontak lokal yang melakukan serangan darat.

Dukungan Publik AS Rendah

Walaupun Trump dan sejumlah pejabat Amerika menyerukan rakyat Iran untuk bangkit melawan pemerintahnya, hingga kini belum terlihat kekuatan internal yang cukup signifikan di Iran untuk menggulingkan sistem Republik Islam.

Opsi pengerahan pasukan darat oleh Amerika Serikat juga belum sepenuhnya ditutup. Namun langkah tersebut dinilai berisiko tinggi bagi militer AS dan bertentangan dengan preferensi Trump yang selama ini lebih memilih operasi militer cepat dengan keterlibatan terbatas.

“Perang ini sudah tidak populer, bahkan tanpa satu pun tentara AS yang dikerahkan ke Iran,” ujar Duss.

Berdasarkan survei terbaru yang dirilis Reuters, hanya sekitar seperempat warga Amerika Serikat yang mendukung konflik militer tersebut.

Duss membandingkan situasi ini dengan invasi AS ke Irak pada 2003 yang kala itu mendapat dukungan lebih dari 55 persen masyarakat Amerika.

“Saya membayangkan jika perang ini berlanjut, apalagi jika pasukan darat dikerahkan, dukungan akan semakin turun,” tambahnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/