Kecil-Kecil Bikin Kenyang, Ini Alasan Lemper Selalu Laku

SulawesiPos.com – Kalau lagi datang ke acara hajatan, seminar, atau sekadar rapat formal yang ada snack box-nya, hampir pasti ada satu kue yang selalu nongol: lemper.

Bentuknya kecil memanjang, dibungkus daun pisang, dan aromanya langsung bikin laper sebelum makanan utama datang.

Lemper adalah jajanan tradisional khas Jawa yang berbahan dasar beras ketan. Orang biasanya memasak ketan dengan santan supaya rasanya makin gurih dan teksturnya legit.

Setelah matang, ketan diisi suwiran ayam berbumbu, abon sapi, atau serundeng kelapa, lalu digulung dan dibungkus daun pisang mirip lontong versi mini.

Daun pisang bukan cuma jadi pembungkus, tapi juga kasih aroma khas yang bikin rasanya makin autentik.

Untuk proses akhirnya, pembuat lemper biasanya mengukus kembali gulungan ketan yang sudah diisi supaya padat dan menyatu.

Ada juga versi lemper bakar yang bagian luarnya sedikit kering dan aromanya lebih smoky.

Asal-Usul dan Filosofinya

Lemper sudah lama jadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa, terutama di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

BACA JUGA: 
Mengenal Apang Bugis, Kue Tradisional Bugis-Makassar yang Mirip Apam

Bahkan, makanan ini tercatat dalam Serat Centini pada abad ke-18, yang menandakan kalau eksistensinya sudah ada sejak lama.

Menariknya, nama “lemper” konon berasal dari ungkapan Jawa: “yen dielem atimu ojo memper”, yang artinya kurang lebih, kalau dipuji jangan jadi sombong.

Filosofi ini mengajarkan sikap rendah hati. Nggak heran kalau lemper sering hadir di acara adat dan hajatan sebagai simbol keakraban sekaligus pengikat tali persaudaraan.

Seiring waktu, lemper merantau ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan.

Di kota seperti Makassar, lemper juga mudah ditemukan di pasar tradisional, toko kue, sampai snack box acara formal.

Meski bukan makanan asli daerah sana, lemper tetap jadi favorit karena rasanya yang universal dan gampang diterima lidah siapa saja.

Dari Hajatan ke Snack Box Kantoran

Dulu, masyarakat Jawa identik menyajikan lemper saat prosesi hajatan atau acara adat.

Sekarang, lemper sudah naik level jadi camilan sehari-hari yang gampang ditemukan di pasar tradisional sampai toko kue modern.

BACA JUGA: 
Menkum Umumkan Pembentukan Posbankum Nasional Capai 95,66 Persen

Orang sering memilih lemper sebagai pengganjal perut sebelum makan besar. Ukurannya pas, rasanya gurih, dan nggak terlalu berat.

Makanya, snack box acara formal hampir nggak lengkap tanpa kehadiran si legit satu ini.

Proses Pembuatan yang Sederhana

Pembuat lemper biasanya menanak ketan hingga matang, lalu mencincang atau menyuwir ayam yang sudah dibumbui.

Mereka meratakan ketan, menaruh isian di tengah, lalu menggulungnya hingga padat. Setelah dibungkus daun pisang, lemper dikukus lagi supaya lebih menyatu dan tahan lama.

Meski sekarang ada produsen yang memakai plastik pembungkus demi efisiensi, versi tradisional dengan daun pisang tetap jadi favorit karena aromanya nggak tergantikan.

SulawesiPos.com – Kalau lagi datang ke acara hajatan, seminar, atau sekadar rapat formal yang ada snack box-nya, hampir pasti ada satu kue yang selalu nongol: lemper.

Bentuknya kecil memanjang, dibungkus daun pisang, dan aromanya langsung bikin laper sebelum makanan utama datang.

Lemper adalah jajanan tradisional khas Jawa yang berbahan dasar beras ketan. Orang biasanya memasak ketan dengan santan supaya rasanya makin gurih dan teksturnya legit.

Setelah matang, ketan diisi suwiran ayam berbumbu, abon sapi, atau serundeng kelapa, lalu digulung dan dibungkus daun pisang mirip lontong versi mini.

Daun pisang bukan cuma jadi pembungkus, tapi juga kasih aroma khas yang bikin rasanya makin autentik.

Untuk proses akhirnya, pembuat lemper biasanya mengukus kembali gulungan ketan yang sudah diisi supaya padat dan menyatu.

Ada juga versi lemper bakar yang bagian luarnya sedikit kering dan aromanya lebih smoky.

Asal-Usul dan Filosofinya

Lemper sudah lama jadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa, terutama di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

BACA JUGA: 
Cobain Resep Rumahan Putu Labbu, Kue Bambu Khas Makassar

Bahkan, makanan ini tercatat dalam Serat Centini pada abad ke-18, yang menandakan kalau eksistensinya sudah ada sejak lama.

Menariknya, nama “lemper” konon berasal dari ungkapan Jawa: “yen dielem atimu ojo memper”, yang artinya kurang lebih, kalau dipuji jangan jadi sombong.

Filosofi ini mengajarkan sikap rendah hati. Nggak heran kalau lemper sering hadir di acara adat dan hajatan sebagai simbol keakraban sekaligus pengikat tali persaudaraan.

Seiring waktu, lemper merantau ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan.

Di kota seperti Makassar, lemper juga mudah ditemukan di pasar tradisional, toko kue, sampai snack box acara formal.

Meski bukan makanan asli daerah sana, lemper tetap jadi favorit karena rasanya yang universal dan gampang diterima lidah siapa saja.

Dari Hajatan ke Snack Box Kantoran

Dulu, masyarakat Jawa identik menyajikan lemper saat prosesi hajatan atau acara adat.

Sekarang, lemper sudah naik level jadi camilan sehari-hari yang gampang ditemukan di pasar tradisional sampai toko kue modern.

BACA JUGA: 
Akademisi Soroti Arah Kebijakan Luar Negeri, Singgung Perjanjian dengan AS Ancam Kedaulatan

Orang sering memilih lemper sebagai pengganjal perut sebelum makan besar. Ukurannya pas, rasanya gurih, dan nggak terlalu berat.

Makanya, snack box acara formal hampir nggak lengkap tanpa kehadiran si legit satu ini.

Proses Pembuatan yang Sederhana

Pembuat lemper biasanya menanak ketan hingga matang, lalu mencincang atau menyuwir ayam yang sudah dibumbui.

Mereka meratakan ketan, menaruh isian di tengah, lalu menggulungnya hingga padat. Setelah dibungkus daun pisang, lemper dikukus lagi supaya lebih menyatu dan tahan lama.

Meski sekarang ada produsen yang memakai plastik pembungkus demi efisiensi, versi tradisional dengan daun pisang tetap jadi favorit karena aromanya nggak tergantikan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru