24 C
Makassar
3 February 2026, 3:18 AM WITA

Kue Katirisala, Sensasi Manis dan Gurih dalam Setiap Gigitan

Overview

  • Katirisala adalah kue tradisional Bugis-Makassar yang terkenal dengan kombinasi rasa manis dan gurih.

  • Kue ini memiliki dua lapisan unik, ketan di bawah dan gula merah di atas, dengan tekstur lembut dan aroma yang khas.

  • Selain menjadi camilan lezat, Katirisala juga sarat nilai budaya dan filosofi tradisi Makassar, hadir dalam berbagai perayaan adat.

SulawesiPos.com – Katirisala adalah salah satu kue tradisional khas Bugis-Makassar yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner Sulawesi Selatan.

Berdasarkan WikiPangan, jejak Sejarah Katirisala dapat ditelusuri melalui berbagai literatur dan naskah lama yang menyebutkan bahwa kue ini berasal dari wilayah Ajatappareng, yang mencakup Sidrap, Parepare, dan Pinrang.

Meskipun tidak ada catatan pasti mengenai awal mula keberadaannya, diperkirakan Katirisala sudah dikenal masyarakat Bugis sejak abad ke-17.

Dalam catatan sejarah, kue ini sering hadir dalam perayaan tradisional besar, terutama yang melibatkan kalangan bangsawan dan lingkungan kerajaan.

Lebih dari sekadar camilan, Katirisala juga menjadi simbol tradisi dan kebersamaan dalam masyarakat, mencerminkan nilai budaya yang telah diwariskan lintas generasi.

Baca Juga: 
5 Kue Tradisional Makassar dari Pisang, Cita Rasa Gurih hingga Segar

Nama, Filosofi, dan Makna Simbolis

Dalam bahasa Bugis, ada penafsiran filosofis dari Katirisalah adalah “tiri” yang berarti menetes dan “sala” berarti salah atau keliru, merujuk pada susunan lapisan gula merah di bagian atas kue.

Berbeda dari kue tradisional lain yang biasanya meletakkan ketan di atas gula, Katirisala menempatkan ketan di bawah dan gula merah di atas.

Filosofi ini mengajarkan bahwa meski sesuatu tampak tidak sesuai urutan atau harapan, tetap ada nilai dan keindahan dalam ketidaksempurnaan.

Bahan, Rasa, dan Budaya

Katirisala memiliki dua lapisan yang memberikan kombinasi rasa manis-gurih yang khas.

Lapisan bawah terbuat dari beras ketan (putih atau hitam), santan, dan daun pandan, memberikan aroma harum dan tekstur kenyal.

Overview

  • Katirisala adalah kue tradisional Bugis-Makassar yang terkenal dengan kombinasi rasa manis dan gurih.

  • Kue ini memiliki dua lapisan unik, ketan di bawah dan gula merah di atas, dengan tekstur lembut dan aroma yang khas.

  • Selain menjadi camilan lezat, Katirisala juga sarat nilai budaya dan filosofi tradisi Makassar, hadir dalam berbagai perayaan adat.

SulawesiPos.com – Katirisala adalah salah satu kue tradisional khas Bugis-Makassar yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner Sulawesi Selatan.

Berdasarkan WikiPangan, jejak Sejarah Katirisala dapat ditelusuri melalui berbagai literatur dan naskah lama yang menyebutkan bahwa kue ini berasal dari wilayah Ajatappareng, yang mencakup Sidrap, Parepare, dan Pinrang.

Meskipun tidak ada catatan pasti mengenai awal mula keberadaannya, diperkirakan Katirisala sudah dikenal masyarakat Bugis sejak abad ke-17.

Dalam catatan sejarah, kue ini sering hadir dalam perayaan tradisional besar, terutama yang melibatkan kalangan bangsawan dan lingkungan kerajaan.

Lebih dari sekadar camilan, Katirisala juga menjadi simbol tradisi dan kebersamaan dalam masyarakat, mencerminkan nilai budaya yang telah diwariskan lintas generasi.

Baca Juga: 
5 Rekomendasi Rumah Makan Seafood Terbaik di Makassar

Nama, Filosofi, dan Makna Simbolis

Dalam bahasa Bugis, ada penafsiran filosofis dari Katirisalah adalah “tiri” yang berarti menetes dan “sala” berarti salah atau keliru, merujuk pada susunan lapisan gula merah di bagian atas kue.

Berbeda dari kue tradisional lain yang biasanya meletakkan ketan di atas gula, Katirisala menempatkan ketan di bawah dan gula merah di atas.

Filosofi ini mengajarkan bahwa meski sesuatu tampak tidak sesuai urutan atau harapan, tetap ada nilai dan keindahan dalam ketidaksempurnaan.

Bahan, Rasa, dan Budaya

Katirisala memiliki dua lapisan yang memberikan kombinasi rasa manis-gurih yang khas.

Lapisan bawah terbuat dari beras ketan (putih atau hitam), santan, dan daun pandan, memberikan aroma harum dan tekstur kenyal.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/