Sehingga onde-onde hijau dipercaya telah lama hadir dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar sebagai bagian dari kuliner rumahan.
Makanan ini berkembang seiring kebiasaan masyarakat mengolah bahan lokal yang mudah diperoleh, seperti ketan dan gula aren.
Resepnya diwariskan secara turun-temurun, terutama melalui tradisi lisan di lingkungan keluarga.
Dari dapur rumah sederhana hingga pasar tradisional, onde-onde hijau menjadi simbol ketekunan dan kearifan lokal masyarakat Makassar.
Sajian Wajib dalam Acara Adat
Dalam berbagai acara adat dan syukuran, onde-onde hampir selalu disajikan sebagai hidangan wajib.
Mulai dari pernikahan, mappacci, akikah, hingga acara doa bersama keluarga, kehadiran onde-onde menjadi penanda rasa syukur dan penghormatan kepada tamu.
Proses pembuatannya kerap dilakukan secara gotong royong, terutama oleh para perempuan, menjadikan dapur sebagai ruang interaksi sosial dan penguatan ikatan kekeluargaan.
Tanpa onde-onde, sebuah hajatan sering dianggap belum lengkap secara adat.
Onde-onde mengandung filosofi hidup yang kuat. Bentuknya yang bulat melambangkan persatuan.
Saat disajikan dan dimakan dalam acara adat, onde-onde menjadi doa simbolik agar kehidupan yang dijalani kelak penuh berkah, manis dalam batin, dan harmonis dalam hubungan sosial.

