Katirisala dikenal sebagai salah satu kue tradisional khas suku Bugis di Sulawesi Selatan yang hingga kini masih lestari dan digemari lintas generasi.
Terbuat dari perpaduan tepung ketan dan gula merah, kue ini menghadirkan cita rasa manis legit berlapis dengan tekstur khas yang lembut namun padat.
Di balik rasanya, Katirisala menyimpan cerita asal-usul yang unik.
Sejumlah kisah tutur menyebutkan, kue ini bermula dari peristiwa tak disengaja saat leluhur Bugis mengolah sokko—nasi ketan khas Sulsel untuk ritual pindah rumah adat atau Mappalette Bola.
Ketika itu, gula merah yang sedang dipersiapkan menetes dan mengenai olahan ketan, menciptakan kombinasi rasa baru yang justru disukai.
Nama “Katirisala” pun lahir dari kejadian tersebut. Kata tiri berarti menetes, merujuk pada gula aren yang jatuh, sementara sala bermakna salah atau keliru.
Meski berawal dari kesalahan, kue ini justru dimaknai sebagai simbol keberkahan.
Manisnya gula merah merepresentasikan harapan agar kehidupan masyarakat Bugis senantiasa harmonis, sejahtera, dan dijalani dengan pikiran positif.
Katirisala juga kerap dimaknai sebagai doa agar setiap aktivitas yang dilakukan berjalan lancar.
Dalam kehidupan sosial masyarakat Bugis, Katirisala memiliki peran penting.
Kue ini hampir selalu hadir dalam berbagai acara, mulai dari hajatan keluarga, pertemuan adat, hingga perayaan besar.
Saat bulan Ramadan, Katirisala bahkan menjadi salah satu kudapan favorit yang banyak diburu di pasar-pasar takjil.
Nilai budayanya pun diakui secara nasional. Pada 2015, Katirisala ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Republik Indonesia, menegaskan posisinya sebagai bagian penting dari identitas kuliner Bugis.
Jika ingin membuat kudapan legit ini, berikut resep selengkapnya:
Lebih dari sekadar kudapan, Katirisala adalah potret kearifan lokal Bugis, kue sederhana yang lahir dari ketidaksengajaan, namun sarat makna, doa, dan nilai budaya yang terus hidup hingga hari ini.