SulawesiPos.com – Polda Metro Jaya terus mengusut kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menganalisis puluhan rekaman kamera pengawas.
Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya mengamankan rekaman dari 86 titik CCTV untuk menelusuri jejak pelaku.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, mengatakan rekaman tersebut berasal dari berbagai sumber, mulai dari instansi pemerintah hingga milik warga.
“Dari 86 titik kamera pengawas yang kami analisa, ada 2.610 gambar dalam bentuk video dengan durasi 10.320 menit. Sehingga kami membutuhkan waktu cukup (lama), beberapa hari ini, dalam analisa digital terhadap video rekaman CCTV yang ada di sepanjang jalur yang dilintasi oleh pelaku,” kata Iman, Senin (16/3/2026).
Rekaman CCTV itu terdiri dari 27 kamera milik Diskominfo DKI Jakarta, delapan kamera milik Dinas Perhubungan DKI, serta 44 kamera milik warga yang terpasang di rumah, bangunan, maupun perkantoran.
Empat Pelaku Terekam Membuntuti Korban
Dari hasil analisis rekaman CCTV, polisi menemukan bahwa korban telah dibuntuti oleh empat orang sebelum penyiraman air keras terjadi.
Keempat terduga pelaku menggunakan dua sepeda motor dan mengikuti pergerakan Andrie sejak beberapa jam sebelum kejadian di Jalan Salemba I, Senen, Jakarta Pusat pada Kamis malam (12/3/2026).
Iman menjelaskan para pelaku sempat menunggu korban di depan sebuah restoran cepat saji di kawasan Cikini sebelum mengikuti perjalanan korban.
“Diduga empat orang terduga pelaku yang menggunakan dua sepeda motor menunggu korban di depan KFC Cikini, kemudian mengikuti korban yang bergerak menuju Jalan Diponegoro dan selanjutnya ke arah Jalan Salemba I,” ujarnya.
Rekaman CCTV juga menunjukkan para pelaku berada di SPBU Cikini pada pukul 23.32 hingga 23.35 WIB, saat Andrie sedang mengisi bahan bakar.
Berdasarkan penelusuran CCTV dari berbagai titik di Jakarta, polisi berhasil memetakan rute perjalanan para pelaku sebelum dan sesudah kejadian.
Pergerakan pelaku diketahui bermula dari wilayah Jakarta Selatan. Mereka kemudian menuju kawasan Jalan Medan Merdeka Timur dan berkumpul di sekitar depan Stasiun Gambir.
Dari sana, para pelaku bergerak melalui Jalan Ir. H. Juanda, Jalan Medan Merdeka Barat, lalu mengitari kawasan Monas hingga menuju Tugu Tani sebelum akhirnya menuju kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).
“Jadi, kalau rekan-rekan mengikuti alurnya, itu mengitari Monas menuju kawasan Tugu Tani. Selanjutnya berputar dulu menuju Jalan Medan Merdeka Timur dan selanjutnya menuju YLBHI,” kata Iman.
Pelaku Kabur ke Berbagai Wilayah
Setelah melakukan penyiraman air keras, para pelaku melarikan diri menggunakan dua sepeda motor dengan rute yang berbeda.
Dua orang pelaku melawan arus dari Jalan Salemba menuju kawasan Senen, kemudian melanjutkan perjalanan melalui Jalan Kramat Raya hingga menuju Tugu Tani dan Stasiun Gondangdia sebelum akhirnya bergerak ke wilayah Jakarta Selatan.
Sementara dua pelaku lainnya melarikan diri menuju Jalan Pramuka Sari, kemudian bergerak ke kawasan Matraman dan Jatinegara melalui Jalan Otto Iskandar Dinata.
Salah satu pelaku bahkan diduga sempat mengganti pakaian sebelum melanjutkan pelarian.
“Hasil analisa jaringan komunikasi menunjukkan para pelaku selanjutnya berpencar ke wilayah Kalibata, Ragunan, dan wilayah Bogor,” ujar Iman.

