SulawesiPos.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pergerakan fluktuatif dalam dua hari terakhir.
Setelah sempat melemah pada awal pekan, rupiah tercatat menguat kembali pada perdagangan Selasa (10/3/2026).
Berdasarkan data pasar valuta asing pada pukul 11.14 WIB, rupiah berada di posisi sekitar Rp16.892 per dolar AS.
Angka ini menunjukkan penguatan sekitar 57 poin atau 0,34 persen dibandingkan posisi sebelumnya.
Sebelumnya, pada perdagangan Senin (9/3/2026), rupiah sempat tertekan ke level Rp17.000 per dolar AS.
Mata uang Indonesia bahkan sempat diperdagangkan di kisaran Rp16.980 hingga Rp17.015 per dolar AS pada perdagangan pagi.
Tekanan terhadap rupiah saat itu dipicu oleh berbagai sentimen global, salah satunya meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar dan berdampak pada pergerakan mata uang di berbagai negara berkembang.
Respons Purbaya
Menanggapi pelemahan rupiah tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam fase ekspansi dan belum menunjukkan tanda-tanda resesi.
Ia mengatakan sebagian sentimen negatif di pasar muncul karena adanya pandangan dari sejumlah ekonom yang menilai Indonesia sedang menuju masa krisis seperti pada periode 1997-1998.
Namun, menurutnya, kondisi ekonomi saat ini jauh berbeda dengan situasi krisis tersebut.
“Jangankan krisis resesi saja belum. Melambat saja belum. Kita masih ekspansi, masih akselerasi,” tegasnya.
Ia juga menegaskan pemerintah terus berupaya menjaga daya beli masyarakat agar tetap stabil di tengah tekanan global.
Selain itu, Purbaya mengingatkan bahwa Indonesia memiliki pengalaman dalam menghadapi berbagai gejolak ekonomi global.
Ia mencontohkan krisis pada tahun 1997-1998, krisis keuangan global 2008, hingga tekanan ekonomi pada masa pandemi 2020.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
“Jadi teman-teman tidak perlu takut, kita punya pengalaman memitigasi. Yang jelas dengan pengalaman 97-98, 2008, dan 2020 kita bisa mengatasi pertumbuhan ekonominya,” pungkas Purbaya.

