24 C
Makassar
3 February 2026, 5:02 AM WITA

Kambu Paria, Pahit yang Bikin Nagih dari Dapur Suku Bugis-Makassar

SulawesiPos.com – Sekilas tampilannya sederhana, tapi kambu paria adalah bukti bahwa kuliner Sulawesi Selatan jago mengolah rasa pahit menjadi sajian yang justru dirindukan.

Makanan khas Bugis-Makassar ini berbahan dasar paria atau pare yang dilubangi bagian tengahnya lalu diisi adonan ikan dan kelapa sangrai yang kaya bumbu.

Isian kambu dibuat dari ikan yang dihaluskan, kelapa parut sangrai, bawang merah, bawang putih, dan ketumbar, lalu diolah hingga aromanya keluar menggoda.

Paria yang sudah terisi rapat kemudian dimasak dalam kuah santan berbumbu hingga teksturnya empuk dan bumbunya meresap ke dalam.

Di Jawa, hidangan ini sering dibandingkan dengan buntil pare, namun kambu paria punya karakter rasa yang lebih tegas dan khas Bugis.

Jejak sejarah kambu paria dipercaya sudah ada sejak masa Kerajaan Wajo, lalu menyebar ke wilayah Bugis seperti Sidenreng, Bone, Soppeng, Maros Camba, Pangkep, Parepare, hingga Barru.

Awalnya, kambu paria bukan sekadar lauk harian, melainkan sajian istimewa yang dihidangkan dalam acara adat seperti pernikahan atau ritual massuro ma’baca.

Baca Juga: 
Tape Ketan Hitam, Makanan Fermentasi Tradisional yang Sehat

Kini, kambu paria lebih mudah ditemui sebagai lauk nasi di rumah makan khas Sulawesi Selatan, meski makna budayanya tetap melekat kuat.

Saat suapan pertama menyentuh lidah, rasa pahit pare langsung terasa, namun justru menjadi pembuka yang unik dan tidak mengganggu.

Menariknya, rasa pahit itu perlahan menghilang, digantikan gurihnya isian ikan, kelapa sangrai, dan kuah santan yang kaya rempah.

SulawesiPos.com – Sekilas tampilannya sederhana, tapi kambu paria adalah bukti bahwa kuliner Sulawesi Selatan jago mengolah rasa pahit menjadi sajian yang justru dirindukan.

Makanan khas Bugis-Makassar ini berbahan dasar paria atau pare yang dilubangi bagian tengahnya lalu diisi adonan ikan dan kelapa sangrai yang kaya bumbu.

Isian kambu dibuat dari ikan yang dihaluskan, kelapa parut sangrai, bawang merah, bawang putih, dan ketumbar, lalu diolah hingga aromanya keluar menggoda.

Paria yang sudah terisi rapat kemudian dimasak dalam kuah santan berbumbu hingga teksturnya empuk dan bumbunya meresap ke dalam.

Di Jawa, hidangan ini sering dibandingkan dengan buntil pare, namun kambu paria punya karakter rasa yang lebih tegas dan khas Bugis.

Jejak sejarah kambu paria dipercaya sudah ada sejak masa Kerajaan Wajo, lalu menyebar ke wilayah Bugis seperti Sidenreng, Bone, Soppeng, Maros Camba, Pangkep, Parepare, hingga Barru.

Awalnya, kambu paria bukan sekadar lauk harian, melainkan sajian istimewa yang dihidangkan dalam acara adat seperti pernikahan atau ritual massuro ma’baca.

Baca Juga: 
Onde-Onde, Warisan Kuliner Bugis-Makassar yang Wajib Hadir di Acara Adat

Kini, kambu paria lebih mudah ditemui sebagai lauk nasi di rumah makan khas Sulawesi Selatan, meski makna budayanya tetap melekat kuat.

Saat suapan pertama menyentuh lidah, rasa pahit pare langsung terasa, namun justru menjadi pembuka yang unik dan tidak mengganggu.

Menariknya, rasa pahit itu perlahan menghilang, digantikan gurihnya isian ikan, kelapa sangrai, dan kuah santan yang kaya rempah.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/