BMKG Waspadai Gelombang di Perairan Sulsel, Nelayan Maros Tetap Melaut dengan Utamakan Keselamatan

SulawesiPos.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan informasi terkait kondisi gelombang di sejumlah wilayah perairan Sulawesi Selatan (Sulsel).

Berdasarkan informasi pada laman resmi BMKG, sejumlah perairan masuk dalam kategori gelombang sedang dengan periode berlaku 9 September hingga 12 September 2026.

Wilayah yang masuk dalam kategori gelombang sedang meliputi Perairan Pangkep, Perairan Makassar, Perairan Jeneponto, Perairan Kepulauan Selayar, Perairan Sinjai, dan Perairan Bone.

Dalam informasi tersebut, kondisi angin secara umum di sekitar perairan Sulawesi Selatan bertiup dari arah Timur hingga Tenggara dengan kecepatan 8 hingga 30 knot.

Kecepatan angin dan gelombang tertinggi berpotensi terjadi di Perairan Pangkep, Perairan Makassar, dan Perairan Jeneponto.

Kondisi gelombang tersebut turut menjadi perhatian nelayan yang sehari-hari beraktivitas di laut.

Salah satunya Haris Cice (49), nelayan di Kampung Nelayan, Kuri Caddi, Kabupaten Maros.

Haris mengatakan kondisi gelombang laut dalam beberapa hari terakhir memang terasa berbeda dibandingkan biasanya.

BACA JUGA:  Kisah dari Kampung Nelayan Merah Putih Leato Selatan: Es Murah hingga Harapan Baru Nelayan

Ia menyebut angin timur yang menjadi kondisi yang biasa di wilayahnya kini datang dengan perubahan yang dirasakan lebih cepat.

“Jadi begini, artinya dalam beberapa hari ini gelombang laut ini memang agak nggak seperti biasanya. Biasanya kan angin timur di kita nama di sini, tapi agak anu ini, kayak cepat ki datang itu angin timur kah baru lama juga. Iya. Tapi itu kan kita apa namanya, kebiasaan itu,” ujarnya kepada SulawesiPos.com, Selasa (9/9/2026).

Meski terdapat imbauan mengenai kondisi gelombang laut, Haris mengatakan aktivitas nelayan di wilayahnya hingga saat ini masih berjalan seperti biasa.

Para nelayan tetap melaut dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan.

“Sampai hari ini ndak ada ji, nggak ada ji. Tetap ji melaut. Seperti ji biasa,” ucapnya.

Menurut Haris, kondisi gelombang menjadi salah satu faktor yang selalu diperhitungkan nelayan sebelum memutuskan untuk melaut.

Ketika angin bertiup kencang dan kondisi dinilai tidak memungkinkan, nelayan memilih menunda keberangkatan.

BACA JUGA:  Nelayan Asal Sinjai Dilaporkan Hilang di Perairan Pulau Sembilan, Tim SAR Kerahkan Belasan Perahu

SulawesiPos.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan informasi terkait kondisi gelombang di sejumlah wilayah perairan Sulawesi Selatan (Sulsel).

Berdasarkan informasi pada laman resmi BMKG, sejumlah perairan masuk dalam kategori gelombang sedang dengan periode berlaku 9 September hingga 12 September 2026.

Wilayah yang masuk dalam kategori gelombang sedang meliputi Perairan Pangkep, Perairan Makassar, Perairan Jeneponto, Perairan Kepulauan Selayar, Perairan Sinjai, dan Perairan Bone.

Dalam informasi tersebut, kondisi angin secara umum di sekitar perairan Sulawesi Selatan bertiup dari arah Timur hingga Tenggara dengan kecepatan 8 hingga 30 knot.

Kecepatan angin dan gelombang tertinggi berpotensi terjadi di Perairan Pangkep, Perairan Makassar, dan Perairan Jeneponto.

Kondisi gelombang tersebut turut menjadi perhatian nelayan yang sehari-hari beraktivitas di laut.

Salah satunya Haris Cice (49), nelayan di Kampung Nelayan, Kuri Caddi, Kabupaten Maros.

Haris mengatakan kondisi gelombang laut dalam beberapa hari terakhir memang terasa berbeda dibandingkan biasanya.

BACA JUGA:  Nelayan Asal Sinjai Dilaporkan Hilang di Perairan Pulau Sembilan, Tim SAR Kerahkan Belasan Perahu

Ia menyebut angin timur yang menjadi kondisi yang biasa di wilayahnya kini datang dengan perubahan yang dirasakan lebih cepat.

“Jadi begini, artinya dalam beberapa hari ini gelombang laut ini memang agak nggak seperti biasanya. Biasanya kan angin timur di kita nama di sini, tapi agak anu ini, kayak cepat ki datang itu angin timur kah baru lama juga. Iya. Tapi itu kan kita apa namanya, kebiasaan itu,” ujarnya kepada SulawesiPos.com, Selasa (9/9/2026).

Meski terdapat imbauan mengenai kondisi gelombang laut, Haris mengatakan aktivitas nelayan di wilayahnya hingga saat ini masih berjalan seperti biasa.

Para nelayan tetap melaut dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan.

“Sampai hari ini ndak ada ji, nggak ada ji. Tetap ji melaut. Seperti ji biasa,” ucapnya.

Menurut Haris, kondisi gelombang menjadi salah satu faktor yang selalu diperhitungkan nelayan sebelum memutuskan untuk melaut.

Ketika angin bertiup kencang dan kondisi dinilai tidak memungkinkan, nelayan memilih menunda keberangkatan.

BACA JUGA:  Nelayan Ternate Esau Sidemo Ditemukan Selamat setelah 26 Hari Hanyut di Samudra Pasifik

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru