“Kalau gelombangnya artinya tidak terlalu bersahabat, artinya kita mainkan itu, seumpama kalau anginnya kencang, kita lihat dulu situasi. Kalau memang tidak memungkinkan kita agak enggak jalan dulu. Iya, begitu ki keadaan kita di sini sebagai nelayan,” sebutnya.
Angin Kencang Tak Selalu Berarti Hasil Tangkapan Berkurang
Bagi nelayan, kondisi angin juga berkaitan dengan peluang mendapatkan hasil tangkapan.
Haris menjelaskan, angin yang kencang memang dapat menjadi tantangan, tetapi pada kondisi tertentu justru bisa membawa peluang bagi nelayan.
“Jadi kalau mengenai hasil tangkapan itu, kita sebagai nelayan biasanya kalau anginnya kencang artinya kan menantang. Tetapi kalau anginnya mengantar, itu kita semakin hadapi, kita mainkan ma mi karena di situ mi peluangnya. Karena pada apa namanya ikan, kayak udang apa, kepiting kalau kencang angin kan besar ombak,” katanya.
Ia menjelaskan kondisi gelombang juga dapat memengaruhi aktivitas biota laut yang menjadi target tangkapan nelayan.
Salah satunya kepiting yang menurutnya dapat lebih mudah ditangkap dalam kondisi tertentu.
“Justru kan goyang juga itu kepiting di bawah. Jadi alat yang kita pakai itu bagus juga anu apa namanya mengambil itu,” ujarnya.
Meski demikian, Haris menegaskan keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama bagi nelayan ketika menghadapi cuaca dan angin kencang.
Nelayan akan melihat kondisi dari berbagai arah sebelum memutuskan melanjutkan perjalanan atau mencari tempat berlindung.
“Jadi kalau kita seperti biasanya kalau angin kencang, artinya yang paling diutamakan dulu keselamatan. Jadi kalau anginnya kencang, kita lihat dulu dari sebelah barat ini kan kita menghadapi toh. Jadi kalau anginnya kencang, kita berlindung dulu,” tegasnya.
Enam Perairan Sulsel Masuk Kategori Gelombang Sedang
Informasi BMKG menunjukkan enam wilayah perairan Sulsel masuk dalam kategori gelombang sedang selama periode 9 September hingga 12 September 2026.
Wilayah tersebut yakni Perairan Pangkep, Perairan Makassar, Perairan Jeneponto, Perairan Kepulauan Selayar, Perairan Sinjai, dan Perairan Bone.
Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi masyarakat yang melakukan aktivitas di laut, termasuk nelayan dan pengguna transportasi laut. Terlebih, kondisi angin dan gelombang dapat berubah sehingga nelayan perlu menyesuaikan aktivitas berdasarkan kondisi aktual di lapangan.
Bagi nelayan seperti Haris, membaca kondisi angin dan gelombang sebelum berangkat menjadi bagian dari kebiasaan dalam menjalankan aktivitas melaut.
Ketika kondisi dinilai membahayakan, keputusan untuk menunda perjalanan dan berlindung menjadi pilihan utama demi keselamatan.

