SulawesiPos.com – Bulukumba dikenal luas dengan julukan Bumi Panrita Lopi karena daerah di pesisir selatan Sulawesi Selatan itu menjadi salah satu pusat utama pembuatan kapal kayu tradisional, terutama pinisi. Julukan tersebut melekat dari tradisi maritim yang hidup turun-temurun di tengah masyarakat, khususnya di kawasan Bonto Bahari.
Secara bahasa, istilah panrita lopi merujuk pada ahli pembuat perahu atau kapal. Dalam sejumlah rujukan budaya, panrita dipahami sebagai orang yang memiliki keahlian atau penguasaan khusus, sedangkan lopi dalam bahasa lokal merujuk pada perahu.
Oleh karena itu, Panrita Lopi identik dengan sosok-sosok perancang dan pembuat kapal yang menguasai keterampilan tradisional secara mendalam.
Data dalam Profil Budaya dan Bahasa Kabupaten Bulukumba yang diterbitkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menunjukkan tradisi pembuatan pinisi tumbuh kuat di wilayah pesisir Bulukumba.
Rujukan itu juga menempatkan pengetahuan pembuatan kapal sebagai bagian penting dari identitas budaya daerah.
Para panrita lopi berperan sebagai perancang kapal pinisi dan kapal laut lainnya di kawasan Bontobahari, terutama di Desa Ara dan Tanah Beru.
Keterampilan tersebut membuat kapal tidak berdiri sendiri sebagai aktivitas ekonomi, melainkan terkait dengan pengetahuan lokal, ritual, dan relasi masyarakat pesisir dengan laut.
Jejak budaya itu masih terlihat jelas hingga sekarang. Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Bulukumba dalam publikasi resminya pada Januari 2026 menyebut Desa Bira sebagai salah satu lokasi penting pelestarian pinisi.
Pada publikasi yang sama, pemerintah daerah kembali menegaskan bahwa perahu pinisi merupakan ikon utama pariwisata dan identitas masyarakat Bulukumba.
Pemerintah Kabupaten Bulukumba juga terus memakai sebutan Bumi Panrita Lopi dalam berbagai kegiatan resmi. Salah satunya tampak dalam agenda peluncuran perahu pinisi di Desa Bira pada Januari 2026, yang secara eksplisit menyebut Bulukumba sebagai daerah dengan semangat pelestarian budaya maritim yang masih kuat.
Pengakuan terhadap pinisi tidak hanya datang dari tingkat lokal. Berdasarkan data kebudayaan nasional dan berbagai publikasi pemerintah, seni pembuatan kapal pinisi dari Sulawesi Selatan diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda pada 2017.
Pengakuan itu makin menguatkan posisi Bulukumba sebagai daerah yang lekat dengan tradisi pembuatan kapal tradisional tersebut.
Selain dikenal sebagai daerah asal pinisi, Bulukumba juga memiliki kawasan sentra pembuatan kapal yang sering disebut dalam berbagai rujukan, yakni Ara, Bira, dan Tanah Beru di Kecamatan Bonto Bahari.
Wilayah-wilayah ini selama bertahun-tahun menjadi tempat bernaungnya para pengrajin, pekerja kapal, dan pewaris pengetahuan maritim lokal.
Julukan Bumi Panrita Lopi pada akhirnya tidak lahir semata-mata sebagai slogan promosi daerah. Sebutan itu tumbuh dari praktik budaya yang nyata, dari keterampilan para pembuat kapal, dari keberadaan sentra-sentra pinisi, serta dari pengakuan yang terus melekat pada Bulukumba sebagai salah satu pusat kebudayaan maritim di Indonesia.
Hingga kini, identitas itu tetap dipertahankan melalui peluncuran kapal, festival budaya, dan publikasi resmi pemerintah daerah.
Selama tradisi pembuatan pinisi terus hidup di tangan para panrita lopi, julukan Bumi Panrita Lopi akan tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari nama Bulukumba.


