SulawesiPos.com – Kinerja perekonomian Sulawesi Selatan pada triwulan pertama tahun 2026 menunjukkan tren yang menggembirakan. Di tengah pertumbuhan ekonomi nasional yang berada pada level 5,61 persen, Sulawesi Selatan mampu mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,88 persen dan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi di kawasan timur Indonesia.
Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sebagian besar kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional.
Bahkan, 16 daerah tumbuh lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi provinsi.
Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, menilai capaian tersebut mencerminkan kuatnya aktivitas ekonomi yang berlangsung di berbagai daerah Sulawesi Selatan.
“Lebih dari 90 persen tumbuhnya di atas 6 persen,” kata Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti dikutip Rabu (17/6/2026).
Sinjai Pimpin Pertumbuhan, Daerah Penyangga Ikut Melaju
Kabupaten Sinjai tampil sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sulawesi Selatan pada triwulan I 2026.
Ekonominya tumbuh hingga 11,14 persen, didorong oleh kinerja sektor pertanian yang mengalami peningkatan signifikan.
Di bawah Sinjai, Kabupaten Kepulauan Selayar mencatat pertumbuhan 9,83 persen, disusul Kabupaten Maros dengan 9,54 persen.
Sejumlah daerah lainnya juga menunjukkan performa impresif, seperti Pangkep (9,47 persen), Soppeng (9,39 persen), Gowa (9,05 persen), dan Kota Palopo (8,94 persen).
Kabupaten Bone turut mencatatkan pertumbuhan yang cukup kuat sebesar 7,84 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional maupun sejumlah daerah lain di Indonesia.
Secara keseluruhan, terdapat 19 kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan yang berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi di atas enam persen.
Sulsel Jadi Tulang Punggung Ekonomi Pulau Sulawesi
Selain mencatat pertumbuhan yang tinggi, Sulawesi Selatan juga masih memegang peran dominan dalam perekonomian regional Pulau Sulawesi.
Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) triwulan I 2026, kontribusi Sulawesi Selatan terhadap ekonomi Pulau Sulawesi mencapai 43,54 persen.
Angka tersebut jauh melampaui provinsi lain seperti Sulawesi Tengah yang berkontribusi 25,10 persen, Sulawesi Tenggara 11,96 persen, dan Sulawesi Utara 11,76 persen.
Menurut Amalia, besarnya kontribusi tersebut membuat kondisi ekonomi Sulawesi Selatan sangat menentukan arah pertumbuhan ekonomi kawasan.
Jika Sulawesi Selatan tumbuh kuat, maka dampaknya akan dirasakan oleh perekonomian Pulau Sulawesi secara keseluruhan. Sebaliknya, perlambatan ekonomi di Sulsel juga berpotensi memengaruhi kinerja ekonomi regional.
Sensus Ekonomi 2026 Jadi Peta Potensi Masa Depan
Di tengah capaian pertumbuhan yang positif, BPS RI akan melaksanakan Sensus Ekonomi 2026 yang berlangsung mulai 15 Juni hingga 31 Agustus 2026.
Kegiatan ini bertujuan memetakan potensi usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan ekonomi ke depan.
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, mengajak masyarakat untuk memberikan data yang akurat dan sesuai kondisi sebenarnya saat petugas sensus melakukan pendataan dari rumah ke rumah.
Menurutnya, data yang valid akan membantu pemerintah mengidentifikasi sektor-sektor ekonomi yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan dan menjadi sumber pertumbuhan baru di masa mendatang.
Meski mayoritas daerah mencatat pertumbuhan positif, terdapat beberapa wilayah yang masih menghadapi tantangan. Kabupaten Bantaeng hanya tumbuh 2,26 persen, sementara Kabupaten Luwu Timur menjadi satu-satunya daerah yang mengalami kontraksi ekonomi dengan pertumbuhan minus 2,31 persen pada triwulan I 2026.
Daerah dengan Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi di Sulsel Triwulan I 2026:
- Sinjai – 11,14 persen
- Kepulauan Selayar – 9,83 persen
- Maros – 9,54 persen
- Pangkep – 9,47 persen
- Soppeng – 9,39 persen
- Gowa – 9,05 persen
- Palopo – 8,94 persen
- Tana Toraja – 8,29 persen
- Bone – 7,84 persen
- Bulukumba – 7,62 persen
Capaian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan mulai tersebar di berbagai daerah yang ditopang sektor pertanian, perdagangan, jasa, hingga industri pengolahan.


