Sulawesipos.com – Kanal Makassar masih menjadi jalur sampah dari permukiman hingga menumpuk di aliran air kota, Selasa (16/6/2026). Persoalan ini kembali disorot setelah muncul usulan pembentukan tim khusus menyerupai “KPK” untuk menangani sampah kanal, karena pembersihan tidak akan cukup bila sumber sampah tidak dikendalikan.
Masalah utama dalam persoalan ini bukan sekadar siapa yang turun membersihkan kanal, melainkan bagaimana sampah bisa terus masuk ke aliran air. Tanpa pengawasan dari hulu, kanal berisiko terus menjadi titik akhir sampah rumah tangga, plastik, dan material lain.
Kondisi tersebut penting bagi warga Makassar karena kanal berfungsi sebagai saluran pengendali air di kawasan perkotaan. Jika aliran tersumbat, risiko genangan hingga banjir dapat meningkat, terutama saat hujan deras mengguyur kawasan padat permukiman.
Usulan pembentukan tim khusus menjadi penanda bahwa penanganan sampah kanal membutuhkan pola kerja yang lebih tegas. Pemerintah tidak cukup hanya menunggu sampah menumpuk, lalu mengerahkan petugas untuk membersihkannya.
Masalah Kanal Bermula dari Sampah yang Masuk dari Hulu
Akar persoalan sampah kanal Makassar berada pada sumber sampah yang masuk ke saluran air. Selama kebiasaan membuang sampah sembarangan masih terjadi, pembersihan di badan kanal hanya akan menjadi pekerjaan berulang.
Dalam sejumlah penanganan sebelumnya, sampah yang memenuhi kanal disebut dapat terbawa dari kawasan permukiman melalui aliran air. Artinya, satu titik kanal yang kotor bisa menjadi akibat dari masalah di wilayah lain.
Karena itu, penanganan dari sumber menjadi kebutuhan mendesak. Pemerintah bersama aparat wilayah perlu memetakan titik rawan, mengawasi saluran penghubung, dan memastikan sampah tidak lagi masuk ke kanal sejak dari lingkungan warga.
Pendekatan ini membuat persoalan kanal tidak hanya dilihat sebagai urusan bersih-bersih. Kanal perlu dijaga sebagai bagian dari sistem drainase kota yang langsung berkaitan dengan keselamatan dan kenyamanan warga.
Pembersihan Cepat Tetap Perlu, tetapi Belum Menyelesaikan Akar Masalah
Pembersihan kanal tetap penting sebagai respons cepat saat sampah sudah menumpuk dan menghambat aliran air. Namun, langkah tersebut belum menjawab akar persoalan bila sampah terus datang dari sumber yang sama.
Dalam laporan terkait Kanal Karuwisi-Pettarani, petugas gabungan pernah turun membersihkan tumpukan sampah agar aliran air kembali normal. Kepala Pelaksana BPBD Makassar, Muhammad Fadli Tahar, menyebut langkah itu bagian dari pencegahan bencana.
“Ini bagian dari pencegahan kebencanaan. Kami langsung berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan segera menurunkan tim ke lapangan,” katanya, dikutip dari laporan IDN Times terkait penanganan sampah Kanal Karuwisi-Pettarani.
Fadli juga menekankan bahwa penanganan sampah kanal membutuhkan kerja bersama di lapangan. “Kita kerja tim, mulai dari yang bisa diangkat, lalu dilanjutkan hingga akhirnya seluruh tumpukan sampah bisa dibersihkan,” katanya.
Namun, pembersihan yang berhasil dilakukan dalam waktu singkat tidak otomatis membuat masalah selesai. Bila pola pembuangan sampah tidak berubah, tumpukan serupa berpotensi kembali muncul di titik yang sama atau lokasi lain.
Pengawasan dan Perilaku Warga Jadi Kunci
Penanganan sampah kanal membutuhkan pengawasan yang konsisten terhadap titik pembuangan liar dan kawasan dekat saluran air. Imbauan saja tidak cukup bila pelanggaran terus terjadi tanpa konsekuensi yang jelas.
Fadli sebelumnya juga mengingatkan warga agar lebih peduli terhadap kebersihan kanal. “Kami berharap masyarakat bisa lebih peduli. Karena jika dibiarkan, kondisi seperti ini bisa memicu banjir. Kita harus bersatu menjaga lingkungan,” imbuhnya.
Di sisi lain, penindakan tetap perlu berjalan bersama pembenahan layanan kebersihan. Warga membutuhkan akses tempat pembuangan, jadwal pengangkutan yang jelas, dan edukasi langsung di lingkungan yang rawan mengalirkan sampah ke kanal.
Dengan pola itu, kanal tidak hanya dibersihkan setelah kotor, tetapi dijaga sebelum menjadi tempat penumpukan sampah. Penanganan dari hulu sampai hilir menjadi kunci agar masalah sampah kanal Makassar tidak terus berulang.
Persoalan kanal Makassar pada akhirnya bukan hanya urusan kebersihan, tetapi juga menyangkut tata kelola kota dan kesiapan menghadapi risiko banjir. Jika sumber sampah tidak dikendalikan, kanal akan terus menjadi jalur sampah dari waktu ke waktu.


