SulawesiPos.com – Petani bawang di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, mampu menekan biaya operasional hingga 60 persen setelah memanfaatkan program Elektrifikasi Agrikultur PLN dengan beralih dari bahan bakar minyak ke energi listrik untuk mendukung penyiraman dan aktivitas pertanian.
Penghematan biaya menjadi manfaat utama yang dirasakan petani setelah menggunakan listrik di area kebun.
Sebelumnya, biaya operasional penyiraman dalam satu musim tanam bisa mencapai sekitar Rp35 juta. Setelah beralih ke listrik PLN, biaya tersebut turun menjadi sekitar Rp14 juta per musim tanam.
Program ini terutama membantu kebutuhan penyiraman di tujuh kebun bawang. Petani menggunakan listrik PLN dengan daya terpasang 92.400 Volt Ampere untuk mengoperasikan pompa air listrik yang dinilai lebih stabil dibandingkan penggunaan mesin berbahan bakar minyak.
Salah seorang petani bawang di Enrekang, Muhajir, mengatakan pemanfaatan listrik membuat biaya penyiraman jauh lebih hemat dibandingkan sebelumnya.
“Biaya ini untuk kebutuhan penyiraman di tujuh kebun bawang yang sekarang hanya butuh sekitar Rp14 juta per musim tanam, atau lebih hemat hingga 60 persen,” ungkap Muhajir, Senin (15/6/2026) dikutip Antara.
Selain menekan biaya produksi, penggunaan listrik juga memudahkan petani karena tidak lagi bergantung pada pasokan BBM. Petani tidak perlu mengangkut solar ke kebun dan dapat membeli token listrik melalui telepon genggam.
Dorong Pertanian Lebih Modern
Pemanfaatan listrik tidak hanya digunakan untuk pompa air. Petani juga memanfaatkan lampu penerangan sebagai penangkal hama untuk membantu menjaga kualitas tanaman bawang. Penggunaan teknologi ini dinilai berdampak pada peningkatan produktivitas kebun.
“Sekarang tidak perlu lagi mengangkut solar ke kebun atau khawatir saat BBM langka. Pembelian token listrik bisa dilakukan melalui telepon genggam. Ke depan saya berencana mengonversi sepuluh pompa lainnya menjadi listrik,” ujar Muhajir.
Penyuluh Pertanian Lapangan Kelurahan Tanete, Irawaty Zainuddin, menilai program Elektrifikasi Agrikultur membantu petani mengadopsi teknologi yang lebih efisien. Menurutnya, penggunaan pompa listrik dan lampu pengendali hama membuat proses budidaya bawang lebih hemat sekaligus mendukung kualitas hasil panen.
Pemerintah Kabupaten Enrekang turut mendukung pemanfaatan listrik di sektor pertanian. Bupati Enrekang Muh Yusuf Ritangnga menilai ketersediaan listrik di kawasan pertanian menjadi faktor penting untuk menyediakan energi yang andal, terutama bagi kebutuhan pengairan dan aktivitas produksi petani.
Program ini juga dinilai sejalan dengan upaya pemerintah daerah memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan hasil panen, dan mendorong kesejahteraan petani.
Ketua DPRD Kabupaten Enrekang, Ikrar Eran Batu, menyebut program Elektrifikasi Agrikultur sebagai bentuk kolaborasi positif antara BUMN dan masyarakat dalam membangun daerah berbasis sektor pertanian.
“Selain meningkatkan efisiensi usaha tani, program ini juga membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat. Ini adalah contoh kolaborasi yang baik antara BUMN dan masyarakat dalam membangun daerah berbasis sektor pertanian,” ujar Ikrar Eran Batu.
Dengan penghematan biaya produksi yang signifikan, program listrik pertanian diharapkan dapat semakin memperluas penerapan teknologi di sektor pertanian Enrekang, khususnya pada komoditas bawang yang menjadi salah satu produk unggulan daerah.


