SulawesiPos.com – Sakko-sakko merupakan salah satu camilan khas Makassar yang kini mulai jarang dikenal oleh masyarakat.
Di masa lalu, penganan ini menjadi makanan favorit warga di wilayah selatan Kota Makassar, khususnya saat musim hujan atau musim tanam padi.
Kudapan sederhana ini biasa dibuat saat musim hujan atau ketika para petani mulai menanam padi di sawah.
Sakkok-sakkok menjadi teman setia selepas bekerja. Usai pulang dari sawah, mandi, dan berganti pakaian, para petani menikmati penganan ini bersama secangkir kopi atau teh hangat.
Rasanya yang gurih dan teksturnya yang khas menjadikannya pengganjal lapar sebelum waktu makan utama.
Penganan tradisional ini terbuat dari tepung beras yang disangrai (gongseng), lalu dicampur dengan parutan kelapa muda dan sedikit garam.
Proses pembuatannya sederhana, namun membutuhkan ketelatenan agar adonan matang merata dan tidak gosong.
Asal Mula nama Sakko-Sakko
Nama sakkok-sakkok sendiri berasal dari kebiasaan orang yang memakannya.
Teksturnya yang kering dan agak rapuh kerap membuat orang mudah tasakkok atau tersedak jika tidak berhati-hati.
Sementara itu, masyarakat Bugis mengenal penganan serupa dengan sebutan becce laung.
Sayangnya, seiring perkembangan zaman, sakkok-sakkok kini semakin jarang ditemukan di Kota Makassar.
Penganan ini perlahan tergeser oleh jajanan modern, meski menyimpan nilai budaya dan kenangan kuat bagi generasi terdahulu.
Resep Sakkok-Sakkok Tradisional Makassar
Bahan-bahan:
- 250 gram tepung beras halus
- 1/4 butir kelapa muda, kupas kulit ari dan parut memanjang
- 1 sendok teh garam
- 1 butir telur ayam
Cara Membuat:
- Campurkan tepung beras, kelapa parut, telur, dan garam ke dalam wadah. Aduk hingga semua bahan tercampur rata.
- Sangrai adonan menggunakan wajan dengan api kecil sambil terus diaduk agar tidak menggumpal.
- Masak hingga warna adonan berubah menjadi kekuningan dan beraroma harum.
- Angkat dan sajikan sakkok-sakkok bersama gula pasir serta ditemani secangkir teh hangat.
Sakkok-sakkok bukan sekadar kudapan, melainkan bagian dari warisan kuliner Makassar yang merekam kehidupan agraris dan kebersamaan masyarakat di masa lalu.

