Prabowo Kumpulkan Tokoh Ekonomi Bahas Antisipasi Krisis dan Stabilitas Perbankan

SulawesiPos.com – Presiden Prabowo Subianto menerima sejumlah tokoh ekonomi nasional di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Pertemuan itu membahas pengalaman menghadapi krisis ekonomi pada masa lalu serta strategi pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan Presiden turut didampingi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam pertemuan tersebut.

Sejumlah tokoh ekonomi yang hadir diketahui pernah menduduki posisi strategis di pemerintahan dan otoritas moneter, di antaranya Burhanuddin Abdullah, Paskah Suzetta, dan Lukita Dinarsyah Tuwo.

“Tadi mendampingi Bapak Presiden menerima beberapa tokoh yang pernah menjadi menteri atau Gubernur Bank Indonesia. Dalam pertemuan tadi disampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisis di tahun 2008,” ujar Airlangga dalam keterangan pers usai pertemuan.

Dalam diskusi tersebut, para tokoh ekonomi menyampaikan sejumlah pengalaman saat menghadapi tekanan ekonomi global, mulai dari kenaikan harga minyak, inflasi, hingga gejolak nilai tukar.

BACA JUGA: 
Presiden Prabowo Bertolak ke Moskow, Seskab Teddy: Bahas Kerja Sama Energi dan Geopolitik dengan Putin

Airlangga mencontohkan, Indonesia pernah menghadapi lonjakan harga minyak yang memicu tekanan ekonomi pada masa lalu.

“Di tahun 2005 ada krisis minyak di mana harga minyak bisa naik sampai 140 dolar (AS per barel),” jelasnya.

Menurut pemerintah, pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat langkah antisipasi terhadap kemungkinan tekanan ekonomi ke depan.

Pemerintah Nilai Fundamental Ekonomi Masih Kuat

Pemerintah menilai kondisi makroekonomi Indonesia saat ini relatif lebih baik dibandingkan berbagai episode krisis sebelumnya.

Fundamental ekonomi disebut lebih solid, sementara pelemahan nilai tukar rupiah masih berada pada tingkat yang lebih terkendali.

“Kalau kita cek dengan konteks hari ini, relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat. Dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen, jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya,” ungkapnya.

Presiden juga meminta jajaran terkait untuk terus memantau regulasi sektor keuangan, termasuk memperkuat ketahanan sistem perbankan dan menjaga penerapan prinsip kehati-hatian.

BACA JUGA: 
Hadiri Panen Raya Udang di BUBK Kebumen, Prabowo: Indonesia Berpeluang Jadi Produsen Udang Nomor Satu Dunia

“Bapak Presiden meminta kami, Menteri Keuangan, untuk memonitor bagaimana regulasi-regulasi untuk memperkuat situasi finansial dan juga menjaga prudensial dari perbankan kita,” ujar Airlangga.

Selain itu, pemerintah menilai penguatan permodalan perbankan perlu dikaji lebih lanjut sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas sistem keuangan nasional menghadapi tantangan global.

SulawesiPos.com – Presiden Prabowo Subianto menerima sejumlah tokoh ekonomi nasional di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Pertemuan itu membahas pengalaman menghadapi krisis ekonomi pada masa lalu serta strategi pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan Presiden turut didampingi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam pertemuan tersebut.

Sejumlah tokoh ekonomi yang hadir diketahui pernah menduduki posisi strategis di pemerintahan dan otoritas moneter, di antaranya Burhanuddin Abdullah, Paskah Suzetta, dan Lukita Dinarsyah Tuwo.

“Tadi mendampingi Bapak Presiden menerima beberapa tokoh yang pernah menjadi menteri atau Gubernur Bank Indonesia. Dalam pertemuan tadi disampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisis di tahun 2008,” ujar Airlangga dalam keterangan pers usai pertemuan.

Dalam diskusi tersebut, para tokoh ekonomi menyampaikan sejumlah pengalaman saat menghadapi tekanan ekonomi global, mulai dari kenaikan harga minyak, inflasi, hingga gejolak nilai tukar.

BACA JUGA: 
DPR Dukung Prabowo Pangkas Komisi Ojol, Minta Kemenhub Segera Revisi Aturan

Airlangga mencontohkan, Indonesia pernah menghadapi lonjakan harga minyak yang memicu tekanan ekonomi pada masa lalu.

“Di tahun 2005 ada krisis minyak di mana harga minyak bisa naik sampai 140 dolar (AS per barel),” jelasnya.

Menurut pemerintah, pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat langkah antisipasi terhadap kemungkinan tekanan ekonomi ke depan.

Pemerintah Nilai Fundamental Ekonomi Masih Kuat

Pemerintah menilai kondisi makroekonomi Indonesia saat ini relatif lebih baik dibandingkan berbagai episode krisis sebelumnya.

Fundamental ekonomi disebut lebih solid, sementara pelemahan nilai tukar rupiah masih berada pada tingkat yang lebih terkendali.

“Kalau kita cek dengan konteks hari ini, relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat. Dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen, jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya,” ungkapnya.

Presiden juga meminta jajaran terkait untuk terus memantau regulasi sektor keuangan, termasuk memperkuat ketahanan sistem perbankan dan menjaga penerapan prinsip kehati-hatian.

BACA JUGA: 
Presiden Prabowo Bertolak ke Moskow, Seskab Teddy: Bahas Kerja Sama Energi dan Geopolitik dengan Putin

“Bapak Presiden meminta kami, Menteri Keuangan, untuk memonitor bagaimana regulasi-regulasi untuk memperkuat situasi finansial dan juga menjaga prudensial dari perbankan kita,” ujar Airlangga.

Selain itu, pemerintah menilai penguatan permodalan perbankan perlu dikaji lebih lanjut sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas sistem keuangan nasional menghadapi tantangan global.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru